Hut ke 7 Sanggar Raja Buduh anak muda anti mainstream

Sebuah kebahagiaan melihat anak-anak muda ini berkumpul, belajar serta beraktivitas kesenian 6 hari dalam seminggu. Disamping anak-anak muda pada umumnya.Acara tersebut berlangsung di depan desa dajan peken kabupaten Tabanan, Bali (16/7).

sebagian dari mereka dahulu pernah salah pergaulan. sebagian kurang bergaul dan sebagian anak yatim atau piatu. Dengan bergabung dalam sanggar ini yang juga merupakan Pilar dari Forum Pelestari Budaya Tabanan.

mereka berevolusi dari anak-anak yang menari dengan kaset, menabuh barong bangkung. kemudian tumbuh menjadi sekehe – sekehe gamelan serta penari-penari yang memainkan pelegongan dan sekarang dengan kerja keras untuk pertama kali menampilkan tarian oleg yang diciptakan maestro Tabanan pak Ketut Marye.

7 Tahun lalu komunitas ini digawangi oleh Pasek Nuadha anak SMP yang bertalenta seni dan sekarang dengan anggota mencapai hampir 200 an anak mereka guyub dalam suasana persaudaraan yang kental. Walaupun dengan perhatian pemerintah Tabanan yang seandinya toh mereka mampu berkreasi dan terus tumbuh mewarnai dinamika Tabanan yang mulai menggeliat.

Tampak beberapa orang asing (mungkin ada 10 an) yang sebagian wisatawan dan mahasiswa pertukaran pelajar menonton dengan senang walaupun pertunjukan dilakukan di tengah jalan yang tak rata dengan karpet merah yang nyaris lusuh. Sanggar Raja Buduh ini adalah salah satu fenomena ketangguhan seniman muda Tabanan yang lebih memilih untuk berbuat dibandingkan mengeluh dan nyinyir terhadap pemerintah.

semoga semangat mereka tidak padam oleh waktu dan kepentingan politik yang biasanya memanfaatkan untuk hal hal yang pragmatis

Selamat berkarya anak – anak muda Tabanan, Marya dari atas sana pasti tersenyum bahagia, Ujarnya. Dikutip dari akun Facebook bernama Panji Astika.

Penulis Hendra. | Red-Wbn Hs