73 views

Waspada Gula Rafinasi Telah Beredar di Pasaran, Jatuhnya Harga Gula Tani

Jawa Timur apakah sudah waspada terhadap gula rafinasi yang masuk ke pasaran dengan digelontorkan gula dari luar melebihi kapasitas keperluan pada perusahaan makan dan minuman. Hasil temuan gula rafinasi oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) DPD Jawa Tengah kiranya menjadi perhatian utamanya Dinas Perdagangan dan pihak terkait.

Ketua DPD APTRI Jawa Tengah Sukadi Wibisono

Disampaikan Ketua DPD APTRI Jawa Tengah Sukadi Wibisono gula untuk makan dan minuman di pasarkan ke konsumen di beberapa tempat yang ada di Jawa Tengah menjadi bukti lemahnya kontrol pangan yang di lakukan pemerintah sehingga menyebabkan kekacauan harga gula milik petani, selain itu industri makanan dan minuman yang memerlukan gula rafinasi melebih dari kebutuhannya.

DPD APTRI Jawa Tengah Sukadi Wibisono mengakatan banjirnya gula rafinasi di pasar kunsumsi yang tidak sesuai keperuntukanya berakibat harga gula tani jatuh dan tidak laku di jual, padahal gula rafinasi hanya untuk industri makanan dan minuman sesuai Permendag nomor 1 tahun 2019 beredarnya gula untuk makan dan minuman pemerintah harus menindak tegas pada semua pabrik gula rafinasi yang melanggar Permendag nomor 1 tahun 2019.

Hasil temuan yang disampaikan Sukadi Wibisono telah di dukumentasi baik berupa foto dan video jika keadaan di bawah benar-benar petani tebu memprihatinkan dampak negatif gula rafinasi ke pasar yang melenceng dari aturannya, maka adanya permainan penjual nakal harus pemerintah menindak tegas seperti salah satu toko di Jl. Sultan Syahrir Solo, yang tidak punya perijinan yang lengkap seperti kontrak dengan prodosen maupun industri makanan dan minuman.

Gula rafinasi dilarang pemerintah

Berdasarkan SK Menperindag NO 527/MPT/KET/9/2004, gula rafinasi hanya diperuntukkan untuk industri dan tidak diperuntukkan bagi konsumsi langsung karena harus melalui proses terlebih dahulu.

Gula ini mengandung banyak bahan fermentasi sehingga menyebabkan masalah kesehatan. Gula rafinasi yang dikonsumsi langsung mengakibatkan penuaan pada kulit melalui proses alami glikasi.

Proses glikasi merupakan saat molekul gula diserap ke dalam aliran darah selama proses pencernaan dan menutup molekul protein pada kulit. Semakin banyak proses glikasi yang dialami, maka kulit semakin gelap dan kusam serta mempengaruhi molekul protein yang menghasilkan kolagen dan elastin.

“Bila pemerintah punya tanggung jawab ingin kehidupan masyarakat sebagai petani utamanya tebu sejahtera, pemerintah melalui Mentri Perdagangan harus bertanggung jawab atas banjirnya gula rafinasi di pasar kunsumsi hampir di seluruh Jawa Tengah dan jatuhnya harga gula tani, sepertinya pemerintah melalui Menteri Perdagangan tidak pernah transparan baik kebutuhan gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman sampai saat ini”, ucap Sukadi Wibisono.

Sukadi Wibisono secara detail menyampaikan gula rafinasi yang di jual bebas ke pasar tersebut di temukan dalam kemasan ukuran setengah kilogram dan satu kilogram, rincian tempat peredaran gula rafinasi ini ditemukan di wilayah Klaten, Jogja, Sleman, Muntilan, Magelang, Solo, Temanggung, Boyolali, Solotigo dan Ambarawa, numun pihanya memastikan menyebaran gula rafinasi ke lain tempat dari yang disebutkan itu.

Penulis Efendi. | RED-WBN HS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *