57 views

Sistem Holding pembelian Gula Petani, Merugikan Petani

13 / 100 Skor SEO

Warisan Budaya Nusantara.com – Petani tebu kecewa terdapat kebijakan pemerintah dengan adanya pembelian gula petani ditangani holding bersama mitranya, karena telah mematikan semangat petani bercocok tanam tebu sistem penjualan yang diberlakukan saat ini disorot Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) DPD Nusantara XI karna tidak ideal dan telah merugikan petani, sebab ketentuan Holding itu yang mengatasnamakan persetujuan petani, padahal sejauh ini belum ada pihak-pihak dari lembaga yang di berikan wewenang membeli gula petani komonikasi dengan petani tebu atau perwakilan sah dari petani, bila terjadi sistem jual gula seperti ini itulah legalitas sepihak yang mendorong terjadinya impor gula besar-besaran sebab petani tebu negara ini enggan bercocok tanam tebu kembali.

Wakil Ketua DPD APTRI nusantara XI Faiqul Humam mengatakan menurunkan gairah petani untuk menanam tebu karena tidak ada keuntungan yang menjanjikan jika terus bertahan di tanaman tebu, ini akan menjadi dilema di masyarakat tidak adanya keperpihakan pemerintah meningkatkan taraf hidup masyarakat petani tebu dari sisi penjualan gula.

“Yang pasti dengan sistem seperti itu sangat menyulitkan petani dan dampaknya antusias petani mengembangkan tebu baik kuaulitas atau kuantitas akan menurun jauh,” kata Faiqul Humam. Kamis (15/08).

Petani kondisi saat ini banyak yang pinjam uang ke bank dan dikenakan suku bunga, 40 prosen dari talangan sudah tidak mencukupi untuk biaya tebang angkutan.

Tutur Faiqul periode pertama penjualan gula petani di ambil seharga Rp 10.500 per kilogram periode berikutnya sampai dengan saat ini di ambil 10.250 per kilogram, terjadinya penurunan harga hingga di lepas kepada Holding itu menjadi pertanyaan DPD APTRI nusantara XI siapa yang menyetujui harga itu dilepas. Sebagai contoh petani di pabrik Wonolangan telah pinjam ke BRI untuk menutup operasi tebang angkut, sementara dari pihak pembeli pelunasan belum ada ketentuan sistem pembayaran pelunasan.

“Kita tidak pernah tau”, ucap Faiqul dengan nada kesalnya.

Penulis Efendi. | Red-Wbn Hs.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *