18 views

Ritual Adat Mappaleppe’ Nia’ dilakukan LAPFS Beserta Keturunan Kerajaan Tallo

Sinjai, Sulawesi Selatan– Setiap daerah mempunyai tradisi-tradisi yang tetap dilestarikan keberadaannya. Salah satunya Desa Alenangka, Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Di desa ini, masyarakat setempat masih setia melakukan suatu ritual kebudayaan yang memang menjadi hal yang dilakukan dari generasi ke generasi.

Mappaleppe’ Nia’ ialah melunasi niatan, atau lebih jelasnya Mappaleppe’ nia’ adalah bahasa bugis Sinjai yang berarti menepati janji atau merealisasikan nazar. Menyuap ikan masapi merupakan kewajiban bagi orang yang pernah berkunjung ke Sungai Bejo.

Biasanya, warga datang untuk menyuap ikan masapi dengan telur di Sungai Bejo. Ikan Masapi adalah ikan yang berbentuk seperti belut tapi berukuran besar (belut raksasa). Selain memakan telur, ikan masapi tersebut biasanya juga memakan daging ayam yang dibawa oleh warga yang berkunjung di Sungai Bejo. Kebiasaan masyarakat memberi makan Ikan Moa atau Ikan Masapi dengan makanan telur dan daging.

Setelah Lembaga Adat Pa’sereanta Firman Sombali (LAPFS) Kerajaan Islam Kembar Gowa Tallo Sulsel bersama para keturunan Kerajaan Tallo lakukan ziarah ke Makam La Palaguna Arung Nangka Arung Ugi, dan juga menyempatkan mengikuti tradisi masyarakat setempat yaitu memberi makan Ikan Moa atau Ikan Masapi di Sungai Bejo Sinjai.

Dalam kunjungannya LAPFS bersama para keturunan kerajaan Tallo disambut langsung oleh keturunan keluarga La Palaguna Arung Nangka Arung Ugi.

“Setelah kami beserta rombongan melakukan kunjungan di Makam, kami sempatkan mengikuti atau melakukan kunjungan ke sungai bejo dan turut memberi makan kepada ikan Moa atau Masapi”,Ujar Wakil Ketua LAPFS Wahab Muhammad kepada Awak media pada Kamis,(07/11/2019).

Ditempat terpisah dikonfirmasi Ketua Lembaga Adat Andi Iskandar Esa Dg.Pasore kepada awak media, membenarkan kunjungan tersebut,”benar kami kesana untuk lakukan ziarah Makam, karena adanya hubungan erat dengan kerajaan Tallo dan juga kami sebagai lembaga adat memiliki peran dan tugas untuk tetap melestarikan adat budaya serta kerajaan yang ada di Sulsel, sehingga kami juga sempatkan jalankan tradisi warga setempat”,jelas Ketua Lembaga Adat.
Peporter Herman | Red ndra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *