11 views

Danrem 071/Wk : Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW Momentum Tingkatkan Keimanan dan Ketaqwaan Kepada Allah SWT

Banyumas, Jawa Tengah – Demikian penegasan Danrem 071/Wijayakusuma Kolonel Kav Dani Wardhana, S.Sos., M.M., M.Han., dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Kasrem 071/Wijayakusuma Letkol Inf Heri Sumitro, S.Pd., pada Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW Tahun 1441 H/2019 M, Rabu (20/11) di Masjid Wijayakusuma Makorem 071/Wk Sokaraja, Banyumas.

Dikatakan, secara substansi, perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW merupakan upaya untuk meneladani keteladanan karakter Beliau sebagai pembawa ajaran agama yang mulia sekaligus pembimbing moralitas bagi kehidupan umat manusia. “Nabi Besar Muhammad SAW adalah sosok manusia terpilih, pemimpin besar dan sangat luar biasa didalam memberikan nilai-nilai keteladanan bagi umatnya. Sehingga Allah SWT, memberikan gelar kepada Beliau, Rahmatan Lil’alamin dan Uswatun Khasanah”, ungkapnya.

Karenanya, keteladanan Rasulullah perlu kita pedomani dalam menjalankan kehidupan sehari-hari bagi seluruh prajurit, PNS dan Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 071 dalam mengaktualisasikan peran dan pengabdiannya sehingga kehadirannya senantiasa didambakan oleh masyarakat, bangsa dan negara yang kita cintai.

Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW Korem 071/Wijayakusuma dihadiri segenap prajurit dan PNS Makorem 071/Wk dan Balak Aju Kodam IV/Diponegoro jajaran Korem 071/Wk serta Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 071 PD IV/Diponegoro. Bertindak selaku penceramah, Ustad Serma (Purn) H.Sudarman,S.Ag., Dengan mengangkat tema “Dengan hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 1441 H/2019 M, kita implementasikan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari guna mewujudkan prajurit dan PNS TNI AD yang profesional kebanggaan rakyat”.

“Dalam konteks tersebut, sebagai prajurit maupun PNS TNI AD, dituntut perannya agar mampu menjadi kekuatan moral dan kekuatan kuktural yang menyatu dengan rakyat, untuk senantiasa menebar kebaikan dan menjauhi segala kemungkaran dinanapun bertugas dan berada. Sebab hanya dengan berbuat kebaikan dan meninggalkan segala perbuatan buruk itulah, esensi kita sebagai prajurit dan PNS akan dihargai”, terang Danrem.

Dikatakan, perbuatan baik telah dicontohkan dan diajarkan oleh junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW dalam prinsip hidup, saling membantu, saling menghargai dan saling mengasihi terhadap sesama serta menjauhi segala perbuatan yang dilarang agama diantaranya sifat merasa paling benar, dengki, arogansi, buruk sangka, takabur maupun sifat buruk lainnya.

Sementara itu, Ustad Serma (Purn) H.Sudarman, S.Ag., Imam Masjid Agung Purwokerto dalam ceramahnya menyampaikan, dengan adanya seremonial Maulid Nabi, umat Islam diharapkan bisa mengingat kembali betapa gigih perjuangan Rasul dalam merintis dan mengembangkan ajaran Islam di tengah tradisi dan budaya Arab yang waktu itu dalam keadaan jahiliyah. “Satu hal yang harus dilakukan umat muslim ketika merayakan Maulid Nabi adalah meneladani sikap dan perbuatan, terutama akhlak mulia nan agung dari baginda Nabi Besar Muhammad SAW”, tegasnya.

Bukan hanya seremonial belaka, perayaan itu mestinya diresapi dalam hati yang begitu dalam dan mencoba untuk meneladani dan mempraktikkan akhlak mulia dari Nabi. Saat melontarkan pujian-pujian dan sholawat yang begitu menggebu-gebu, hendaknya tidak hanya ditujukan kepada fisik maupun keduniawiannya saja tetapi juga akhlak nabi yang begitu agung dan mulia.

Dalam hal ibadah, akhlak mulia dan agung dari nabi itulah yang harus ditiru, dicontoh dan diteladani. Padahal kita tahu, Islam sebagai agama yang dibawa nabi Muhammad adalah rahmatan lil alamin. “Artinya, Islam membawa rahmat bagi alam semesta, bukan hanya umat muslim saja atau manusia saja, tetapi semua makhluk seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alamnya”, terangnya.

Dikatakan pula, hikmah Maulid Nabi
terkadang seremonial itu perlu, hal ini untuk mengingatkan kembali tentang betapa hebat perjuangan beliau dan akhlak serta moralitas beliau.

“Manusia itu tempatnya lupa. Meski setiap hari sholawat, tetapi kalau hati tidak meresapinya pasti lupa dengan makna substantif dari shalawat”, ungkapnya.

“Dengan adanya Maulid, manusia atau umat muslim diharapkan bisa tergugah kembali untuk selalu berikhtiar secara konstan dalam meneladani dan mengamalkan ajaran-ajaran serta akhlak baginda Nabi Muhammad SAW. Sehingga Allah memberikan gelar kepada Beliau “Al Amin” orang yang dipercaya, dan sebagai uswatun khasanah ” Teladan yang baik”, serta Rahmatan lil’alamin”, pungkasnya.
NN | ™red ndra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *