243 views

Santri Mengalami Pecah Pembulu darah, Korban Kekerasan Di Pesantren Cianjur

47 / 100 Skor SEO

 

Cianjur, Jawa Barat – Seorang wali murid W R,  dalam keadaan perasaan hancur dan kecewa, saat diwawancara dengan tim WBN. Harus menerima kenyataan buruk dalam hidupnya, berharapan putra kesayangannya dapat hidup lebih baik dengan mengikuti pendidikan yang di jalaninnya. Namun masa depan putranya harus ikut hancur ditangan teman sekelasnya di salah satu kamar di pondok pesantren yang ia tinggal, kelalaian  salah satu Pondok Pesantren  di Cianjur Jawa Barat ini Seharus mengayomi Para Santri atau Siswanya sehingga putra bapak, W R yang tidak harus jadi korban , ditambah lagi tidak adanya tindakan tegas bentuk tanggung jawab ke pada anaknya, kamis (09/01/2020).

Bapak W R dan Istrinya Berniat hati dengan penuh perasaan bahagia dan semangat pada hari Sabtu Tanggal 21/12/2019 lalu, kami Mengambil Rapot Putra kami WK, akan Tetapi saat itu rasa kecewa yang harus kami terima, disaat mendapat putra Kami  terbaring Tak Berdaya dikamar asrama pondok , sedang dalam keadaan tak berdaya, dengan kondisi badan lemas, demam, Pucat dan dalam Keadaan merintih kesakitan, seketika saya dan Istri teramat sangat kaget melihat kondisi itu, yang dimana 2 hari sebelumnya WK, sempat shere foto dengan Santri menggunakan Seragam Koko berwrna putih, dengan perasaan cemas, panik dan rasa tak karuan melihat rintihan yang dirasakan putranya, seketika itu juga kami langsung Berinisiatif untuk mambawa pulang dan membawa ke rumah Sakit, selama diperjalanan putra kami berteriak dan merintih kesakitan,

Saya lalu Bertanya, “Nak…sabar ya.. Kita Berobat, apanya yang sakit ??
Anak kami tidak menjawab hanya memberi isyarat ini yang sakit dibagian “Totok”
(kemaluan), Saya bertanya “boleh Ayah liat?” awalnya putra saya menolak, akan tetapi rasa penasaran saya sebagai Ayah tetap ingin melihat bagian yang dirasa sakit putra saya, ketika saya melihat bagian kemaluan putra saya, saya terkejut dengan mengucapkan
…Astagfirullah aladjim..” organ kemaluan putra saya tepatnya dibagian TESTIS sebelah kanan membengkak sebesar telur bebek dengan warna membiru.”

Seketika itu juga saya berfikir dan berinisiatif dengan Istri untuk langsung membawa putra kami ke Rumah Sakit Cianjur, dan langsung menuju RSCM Jakarta, dengan menempuh perjalanan 6 jam dengan berbagai kondisi dijalan yang kami lalui, sesampainya di RSCM alhamdulillah, respon tim Dokter sangat membantu kami, putra kami langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan melakukan serangkaian pemeriksaan medis, dari hasil visum dokter. Dokter menemukan adanya luka robekan dibagian dalam organ kelamin sebelah kanan putranya, lalu dokter menemukan posisi organ kelamin (testis) dengan posisi terbalik. seketika saya shock dengan pernyataan dokter itu, dan menimbulkan tanda tanya besar, ada apa ini ???…

Lalu tim dokter memutuskan malam itu juga putra saya harus menjalani operasi pengangkatan testis, dengan pernyataan dokter saya sebagai orang tua, serasa hancur tak berdaya. Ada apa ini yang terjadi pada putra saya, yang 2 hari lalu WK kirim fhoto masih dengan keadaan sehat dan bugar kenapa sekarang putra saya jadi seperti ini. bertanya dihati bapak WR.

Setelah usai operasi. Kabar yang saya terima, melihat putra saya tiba-tiba dalam keadaan koma (red-tidak sadarkan diri) ya Allah ada apa ini…?? Dokter kembali menanyakan pada saya, Riwayat aktifitas yang dilakukan oleh putra saya, karna dokter pun kaget dan baru menemukan pasien yang seperti putra saya, dengan kemaluan posisi testis Terbalik.

Rasa penasaran itu semakin tebal dalam dada saya. Beberapa hari putra saya menjalani pengobatan dan pemulihan alhamdulillah, putra saya sudah kembali sadar dan berangsur membaik, rasa syukur saya panjatkan pada Allah, karna Allah masih memberikan kehidupan untuk purta saya. Beberapa hari kemudian telah putra saya membaik saya sebagai orang tua dengan rasa penasaran ingin menanyakan yang sebenarnya terjadi, akhirnya putra saya perlahan-lahan menceritakan kejadian yang sebenarnya.

“WK pada sore itu dikamar pondok di dalam kamar hanya ada 3 orang santri, diantaranya ada putra saya WK , RI dan FI.”

RI dan FI sedang bermain “GENJANG” dan putra saya menyerukan kata “ayo…ayo..lagi..”
Tapi salah satu dari pemain itu entah tersinggung dari mananya tiba-tba pelaku yang bernama FI menendangkan kakinya kearah kemaluan korban (WK) seketika itu WK tersungkur dan kesakitan, lalu saat itu muntah-muntah dan yang membuat saya kecewa dengan kejadian ini pihak lembaga sekolah yayasan pondok di Cianjur ini seperti tutup mata dan tidak mau tau dengan kejadian dan peristiwa yang dialami putra saya. saat itu pertolongan pertama dari kejadian itu hanya dikerik dibagian punggung oleh kakak pembimbing kamar bernama DK. pertanyaan saya, dimana Fungsi kepala sekolah, guru, ustad dan lainnya yang seharusnya siaga dalam hal apapun. Tapi semuanya malah tutup mata dan terkesan masa bodoh dengan kejadian peristiwa yang hampir merenggut nyawa putra saya. Kandas Orang Tua WR.

Saya sebagai orang tua korban merasa hancur, tidak terima dan kecewa dengan pelayanan pondok yang lepas tanggung jawab, putra saya sudah jadi korban kelalaian para pendidik dan kepala sekolah, anak saya sudah jadi korban bully dan kekerasan.

para sahabat yang dirahmati Allah. Saya mohon tolong bagikan cerita saya yang mewakili Orangtua lainnya, agar supaya tidak ada lagi korban lainnya seperti putra saya, cukup putra saya yang sudah menjadi korban, kepada para pendidik jagalah amanahmu tititpan yang orangtua titipkan putranya sebagai santri, saya menitipkan putra saya salah satu pondok di cianjur bertujuan dan harapan supaya putra saya bisa mendalami ilmu agama, akan tetapi putra saya harus kehilangan organ kelaminnya disana karna pihak pondok yang lalaikan tugas utamanya yaitu mengawasi, mengayomi dan mendidik akhlak.
sahabat, Dengan rintihan air mata, saya mohon kerelaan hatinya untuk membagikan pesan ini kepada saudara-saudara kita supaya lebih waspada, untuk putra putri kita, bapak WR dalam Pesannya singkatnya.

Sampai Berita ini disiarkan pihak Pondok hanya mengarahkan Keluarga Korban untuk berkordinasi secara kekeluargaan dengan pihak keluarga FI (red-siswa/santri). Namun belum ada pertanggung jawaban dari keluarga FI.

NN |redpel ndra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *