Begini Tradisi Pemakaman Unik di Tana Toraja Sulawesi Selatan
15 / 100 SEO Score

Toraja,WBN-Tana Toraja yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan memang terkenal sebagai salah satu daya tarik wisata paling popular di Indonesia. Kamu bisa menikmati berbagai kebudayaan khas suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dengan budaya khas Austronesia asli.

Masyarakat Toraja menganut adat kepercayaan, aturan, dan ritual tradisional ketat yang ditentukan oleh nenek moyang mereka. Meskipun mayoritas masyarakat Toraja saat ini banyak yang memeluk agama Protestan atau Katolik, tradisi leluhur dan upacara ritual khas Tana Toraja masihterus mereka praktikkan.

Jika kamu berencana untuk mengunjungi Tana Toraja, kamu bisa mencoba kebudayaan unik dan berbeda yang mereka miliki. Mulai dari rumah adat Tongkonan, upacara pemakaman Rambu Solo, Pekuburan Gua Londa, Pekuburan Batu Lemo, atau Pekuburan Bayi Kambira.

Terkenal dengan ritual pemakaman yang unik dan berbeda dari pemakaman pada umumnya, ritual pemakaman ini dinamakan Rambu Solo. Seperti apa ritual pemakaman unik khas Toraja? Yuk, simak rangkuman berikut ini.

1. Rambu solo, tradisi pemakaman Toraja dari dulu hingga kini

Tana Toraja dikenal dengan dua jenis upacara adat yang popular yaitu Rambu Solo dan Rambu Tuka. Rambu Solo adalah upacara pemakaman, Rambu Tuku adalah upacara atas rumah adat yang baru direnovasi.

Upaya pemakaman Rambu Solo dikatakan sebagai rangkaian kegiatan pelepasan orang yang sudah meninggal dengan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Persiapan upcara ini sudah dirancang selama berbulan-bulan, bahkan mereka sudah harus menabung biaya pemakaman jauh-jauh bulan.

Ketika menunggu upacara pemakaman siap, tubuh orang yang sudah meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur atau rumah adat tongkonan.

Orang yang meninggal hanya dianggap makula atau diartikan seperti orang sakit yang masih harus dirawat dan diperlakukan layaknya masih hidup.

Dalam upcara pemakaman, bagi kalangan bangsawan yang meninggal biasanya mereka akan memotong kerbau sejumlah 24 hingga 100 ekor sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong).

Upacara pemotongan ini menjadi salah satu atraksi khas Tana Toraja dengan menebas leher kerbau menggunakan parang dalam sekali ayunan.