Ritual Adat Jamasan Gerbong Maleman, Keraton Kesepuhan Menyambut malam lailatu Qadar

WBN, CIREBON – Ditengah pandemi covid-19, tidak nenyurutkan peserta dan Keluarga besar Keraton Kesepuhan, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) H. Arief Natadiningrat, S.E dalam giat Ritual Adat Jamasan Gerbong Maleman, Keraton Kesepuhan Cirebon. Selasa (12/05).

Ritual Adat Jamasan Gerbong Maleman adalah teradisi yang setiap tahunan yang dilaksanakan Kesultanan Kasepuhan Cirebon saat menyambut lailatul qadar, malam 1000 bulan di malam bulan ramadhan.

Persiapan tradisi saji maleman, Jamasan Gerbong Maleman di Keraton Kasepuhan Cirebon.

JAMASAN diartikan itu pencucian pusaka. Pusaka ini adalah perlengkapan yang digunakan untuk tradisi saji maleman.

GEREBONG, diartikan, berfungsi sebagai pengangkut perlengkapan

GEREBONG, diartikan, berfungsi sebagai pengangkut perlengkapan. Guci dan mangkok keramik itu usianya ratusan tahun, sekitar 700 tahun. Fungsinya sebagai tempat ukup.

MALEMAN, berasal dari bahasa Jawa yang artinya malam. Merupakan tradisi yang dilakukan pada malam ganjil, tepatnya pada 10 hari terakhir Ramadan. “Maleman ini kita akan menyalakan lilin, delepak (lampu yang tempat minyaknya dari piring tanah) dan ukup di makam Sunan Gunung Jati (Syeh Syarif Hidayatullah) hingga makam Sultan Sepuh XIII,” Ujar Sultan Sepuh XIV.