Luhut Inginkan Peran TNI dan Polri Dalam Bantu Gubernur Harus Secara Maksimal

Jakarta,WBN- Setiap tugas adalah sebuah tantangan yang harus diselesaikan secara tuntas, dan memang punya prinsip untuk menuntaskan setiap tugas secara komprehensif dan terintegrasi. Begitu pula saat mendapat tugas langsung dari Presiden Joko Widodo untuk fokus mengawal secara ketat perkembangan penanganan kasus COVID-19 di 8 Provinsi, yang memiliki jumlah kumulatif kasus tertinggi, ungkap Luhut Binsar Panjaitan.

“Setelah mendapat mandat penting ini, saya langsung berkoordinasi bersama Pemprov DKI, Jabar, Jateng, dan Jatim lewat Rakor Lanjutan yang dilaksanakan hari ini dan akan diikuti empat Provinsi lainnya pada esok hari. Satu pesan Presiden yang disampaikan kepada saya dan jajaran Lembaga dan Kementerian terkait yang diberi tugas saat itu adalah untuk menurunkan jumlah kasus dalam waktu dua minggu. Saya menganggap ini sebagai tugas yang cukup menantang mengingat ketiga provinsi tersebut punya tren angka kenaikan jumlah kasus yang cukup tinggi diantara provinsi lainnya di Indonesia”terangnya.

“Saya memilih untuk melakukan dua hal. Pertama, memaksimalkan peran TNI dan Polri dalam membantu Gubernur. Saya meminta Pangdam dan Kapolda benar-benar membantu Gubernur dan terlibat aktif dalam meningkatkan kedisiplinan masyarakat, karena inilah yang benar-benar kita butuhkan. Kepada masing-masing kepala daerah, saya meminta fokus pada titik-titik rawan atau “zona merah” di masing-masing daerah untuk dilakukan penanggulangan lewat Kerjasama yang sinergis antara Pangdam dan Kapolda bersama para Gubernur sehingga nantinya akan langsung menentukan titik rawan yang perlu dilakukan penegakan disiplin protokol kesehatan,ujar Luhut Binsar Panjaitan.

“Kedua, saya meminta kepada Pangdam dan Kapolda untuk mengecek keakuratan setiap data di masing-masing kabupaten dan kota yang menunjukkan variable jumlah kasus, jumlah angka kesembuhan, tingkat kematian. Juga data untuk masing-masing kluster penyebaran yang diklasifikasikan menjadi beberapa sub kluster besar ; Perkantoran, Keluarga, Pasar, maupun titik-titik keramaian yang lain. Karena ternyata setelah saya teliti, ada banyak kasus OTG yang masih berada di rumah sakit. Hal ini menurut saya menghambat beberapa pasien yang bergejala berat. Saya juga memandang pentingnya sinkronisasi data berupa angka antara Kemenkes dan Dinas Kesehatan di beberapa daerah, data ini tidak boleh berbeda karena akan berkaitan dengan langkah kebijakan yang diambil pun nantinya juga akan berbeda. Saya ingin tidak ada manipulasi angka di lapangan, harus angka asli alias “real number” karena ini berhubungan dengan pembuatan rencana pembangunan pusat-pusat karantina untuk isolasi pasien OTG dan gejala ringan terutama di DKI Jakarta. Demi menghindari isolasi mandiri di rumah yang berpotensi menularkan penyakit kepada keluarga yang lain”,ungkapnya.

“Saya ingin seluruh pimpinan daerah tidak segan mengambil kebijakan dan tindakan yang tegas dan keras untuk mendisiplinkan penerapan protokol kesehatan, guna mencegah jumlah kasus yg terus bertambah. Dalam kesempatan ini pula, saya dan para Gubernur bersepakat untuk kompak menanggulangi pandemi ini, jangan sampai ada yang saling menyalahkan. Meskipun ada perbedaan satu maupun dua data terkait penanganan pandemi, ini adalah hal yang biasa dan bisa diselesaikan dengan koordinasi dan sinergi yang tertib. Karena yang lebih penting adalah keselamatan jiwa seluruh masyarakat Indonesia. Saya juga sampaikan untuk menjaga sinergi dan koordinasi ini selama 3 bulan ke depan sampai kita mendapatkan vaksin yang kurang lebih jumlahnya sekitar 30 juta dosis dan kira-kira akan tersedia di bulan November-Desember. Saya juga berencana akan mengunjungi beberapa titik pengawasan dan pengetatan yang tersebar di 8 provinsi tersebut. Untuk itu saya minta kepada masing-masing daerah agar mengkaji peraturan pembatasan sosial secara ketat, saya ingin tidak ada kegiatan yang melibatkan keramaian dan juga meminta untuk dilakukan pembubaran kerumunan pada jam waktu tertentu”,jelasnya.

“Di akhir, saya tak henti-hentinya mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Mencuci tangan, memakai masker, dan menjauhi kerumunan bukan lagi sebuah himbauan, melainkan sebuah kewajiban yang harus kita lakukan selama beberapa bulan ke depan. Karena dengan mematuhi protokol kesehatan secara disiplin, bersatu untuk saling menjaga keselamatan satu sama lain, kita bisa membantu ibu pertiwi untuk pulih dari pandemi”, kunci Luhut Binsar Panjaitan.

(Nn)