Tak Ada Kompromi, Penundaan Putusan Sidang Etik Murni Karena Covid-19, Di lingkungan Dewas KPK

 

WBN, Jakarta – Sidang putusan etik yang ditujukan terhadap terperiksa, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komjen Pol Firli Bahuri, yang dijadwalkan pada 15 September ini ditunda secara mendadak.

Tak ayal, jika sidang putusan yang baru akan kembali digelar pada Kamis, 24 September mendatang itu menimbulkan tanda tanya besar sekaligus spekulasi banyak pihak.

Namun demikian, Plt Jubir KPK, Ali Fikri mencoba meluruskan bahwa penundaan tersebut dikarenakan adanya upaya pencegahan penularan Virus Covid-19 di lingkungan KPK.

“Penundaan agenda sidang ini dilakukan karena dibutuhkan tindakan cepat penanganan dan pengendalian Virus Covid-19 di lingkungan KPK, khususnya Dewan Pengawas KPK” Ujar Ali kepada awak media, Senin (14/09/2020)

Dari hasil investigasi diketahui ada sekretaris pribadi dari salah satu Anggota Dewas KPK yang dinyatakan Positif terinfeksi Virus Covid-19 melalui hasil swab test yang dilakukannya pada pekan lalu.

Salah seorang narasumber yang bekerja di Gedung Dewas KPK dan tidak ingin disebutkan namanya membenarkan perihal informasi tersebut.

“Ya benar, ada salah seorang sespri Anggota Dewas KPK yang positif covid 19, sekarang orangnya sudah diisolasi di Wisma Atlet” Jelas Narasumber yang tidak ingin diketahui identitasnya di Gedung Dewas KPK. Selasa(15/09/2020).

Yang kemudian menimbulkan ke khawatiran Dewas KPK dan akhirnya berujung pada penundaan putusan sidang etik itu ialah ketika diketahui bahwa Sespri salah satu anggota Dewas KPK tersebut sebelum hasil hasil Swab Testnya keluar, dirinya tetap masuk kerja dan berinteraksi dengan para pegawai KPK.
padahal arahan agar seluruh pegawai tetap bekerja dari rumah sampai dengan keluar hasil test negatif sudah sempat disosialisasikan.

“Iya dia tuh senin siang tetap masuk kerja ke kantor dan interaksi dengan beberapa pegawai di Dewas KPK, dia baru tau positif pas hasil swabnya keluar senin malem” tambah narasumber tersebut.

Sebelumnya, KPK memang menggelar Swab Test massal untuk seluruh pegawai dan pejabat struktural di internal KPK selama 5 hari, terhitung sejak tanggal 7-11 September.
Dari total 1.931 Speciment yang mengikuti Swab Test, baru sekitar 1.600an specimen yang keluar hasilnya dengan lebih dari 50 diantaranya dinyatakan Positif terinfeksi Virus Covid-19, termasuk di dalamnya Sespri Anggota Dewas KPK.

Pemeriksaan kondisi kesehatan melalui Swab Test massal memang rutin dilakukan di internal KPK. Terakhir dilakukan pada minggu lalu saat para pegawai akan kembali untuk bekerja setelah sebelumnya mereka mengikuti Kebijakan Work From Home (WFH) secara total selama 5 hari pada awal september lalu.

Kendati berharap keseluruhan pegawai sehat setelah massa WFH, justru banyak diantaranya yang terinveksi Virus Covid 19.

Menurut Nabila Putri, salah seorang sarjana psikologi lulusan Universitas Persada Indonesia Y.A.I, Kebijakan WFH sangat tidak efektif untuk memutus mata rantai Covid 19. Hal ini dikarenakan menurutnya masyarakat indonesia banyak yang menjadikan momen WFH bukan untuk benar benar berada di rumah, namun berpergian bahkan pulang kampung.

“Iya banyak yg jadikan momen WFH untuk mencari hiburan diluar rumah, bahkan ada yang balik ke kampung. Salah satunya tetanggaku, dia dinyatakan covid setelah menggunakan momen WFH untuk berlibur ke daerah. Jadi sebenernya WFH itu memancing orang keluar rumah dan diluar itulah orang mudah terpapar virus, ketika balik lagi ke kantor ya ga menutup kemungkinan mereka bisa nyebarin virus” tegas Nabila, (15/09/2020).

Dengan demikian, dugaan bahwa ada tarik ulur kepentingan dalam keputusan penundaan sidang Etik Ketua KPK menjadi hal yang seharusnya terlalu dini untuk disampaikan ke publik.

Penegasan terkait hal tersebut pun disampaikan oleh salah satu anggota Dewas KPK,

“Tidak ada tarik ulur putusan” ujar Syamsuddin Harris, anggota Dewas KPK.

Belakangan tersiar kabar, bahwa pada tanggal 15 September kemarin, Ketua Dewas KPK bersama seluruh anggota Dewas mengikuti Swab Test untuk memastikan kondisi kesehatan mereka. Reporter (Ahmad FG)