Program Rumah Ibadah Tersenyum Jakarta Utara Diresmikan, Ajak Masyarakat Sedekah Minyak Jelantah

WBN, Jakarta-Utara – Pemerintah Kota Jakarta Utara berkolaborasi dengan Rumah Sosial Kutub meresmikan program Rumah Ibadah Tersenyum di Ruang Pola, Kantor Walikota Administrasi Jakarta Utara, Kamis (5/11). Program ini mengajak masyarakat bersedekah minyak jelantah untuk kemakmuran rumah ibadah.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Adminitrasi Jakarta Utara Suroto mengatakan, program Rumah Ibadah Tersenyum ini sejalan dengan program pengendalian pencemaran lingkungan Provinsi DKI Jakarta. Sebanyak 210 rumah ibadah tercatat telah mendaftarkan diri sebagai pengelola pengumpulan minyak jelantah sekaligus penerima manfaat.

“Sebelum ada program ini, masyarakat kerap membuang minyak jelantah ke sembarang tempat sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Nah sekarang dengan adanya peresmian program ini minyak jelantah dikumpulkan kepada pengelola tempat ibadah yang kemudian nanti diambil oleh petugas,” kata Suroto, saat ditemui di Kantor Walikota Administrasi Jakarta Utara, Kamis (11/5).

Tidak hanya rumah ibadah, diterangkannya program ini juga akan dikembangkan melalui program Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Ruang Terpadu Ramah Anak (RPTRA), hingga petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

Dengan pengembangan pengelola yang tak hanya rumah ibadah ini, diharapkan pencemaran lingkungan semakin terkendali. Begitu pun masyarakat yang semakin sehat karena tidak lagi mengolah makanan menggunakan minyak jelantah.

“Nanti manfaatnyanya juga diberikan lagi kepada masyarakat. Ini program yang bagus untuk meminimalisir pencemaran lingkungan, menyehatkan, keberkahan masyarakat. Mudah-mudahan masyarakat merespon program ini apalagi kita libatkan juga elemen masyarakat yang tak hanya pengelola rumah ibadah, tapi juga PKK hingga petugas PPSU sebagai pengelolanya,” jelasnya.

Direktur Eksekutif Rumah Sosial Kutub Suhito menegaskan, konsep program Rumah Ibadah Tersenyum ini bukan jual-beli. Melainkan sedekah sehingga tidak ada nilai untung dan rugi dalam pelaksanaannya.

Setiap derigen berisi 18 liter minyak jelantah yang terkumpul dikonversikan senilai Rp 100 ribu. Yang mana senilai Rp 60 ribu diberikan kepada pengelola rumah ibadah untuk kepentingan kemakmuran rumah ibadah melalui rekening Bank DKI Syariah dan senilai Rp 40 ribu lainnya dikelola Rumah Sosial Kutub untuk kembali disalurkan kepada masyarakat dalam bidang pendidikan, kesejahteraan ekonomi, masjid, sosial kemanusiaan, dan peningkatan kehidupan anak yatim dan dhuafa.

“Saya tegaskan di sini tidak ada nilai jual beli. Konsepnya berupa ‘sharing’ sedekah. Masyarakat tidak menjual tapi menyalurkan sedekahnya dengan minyak jelantah. Minyak jelantah ini kami kirim ke pabrik sebagai bahan baku bio disel,” tutupnya. Reporter (Ahmad FG)