Nilai-Nilai Dari Ritual Ngerabun Pusaka

 

warisanbudayanusantara.com – Ada banyak mitos mengatakan, memandikan pusaka di bulan Maulud mengandung hal-hal yang mistis. Namun apakah Anda tahu bahwa ngerabun pusaka di bulan Rabiul Awal menjadi salah satu upaya manusia untuk melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri?

Di Setana Jering Amantubillah Desa Pelangas Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat, Sabtu (8/11), tampak puluhan orang menyaksikan dengan saksama tradisi Ritual Ngerabun Pusaka” atau Ngerames Pusaka. Mereka tampak serius mengamati Imam Setana Jering dan dua orang punggawa yang tengah ritual. Ada yang mengangguk-anggukkan kepala seperti baru saja mendapat suatu hal yang baru.

Begitulah sedikit rekaman suasana britual yang setiap tahun diadakan di Setana setiap Bulan Maulud atau Rabiul Awal. Ngerabun Pusaka atau Ngerames Pusaka atau orang umum menyebutnya memandikan pusaka merupakan cara untuk merawat benda pusaka, benda bersejarah, atau benda kuno.

 

Asal Usul Ritual

Imam Setana Jering Amantubillah Lembaga Adat Melayu Jering Bangka Belitung, Pangeran Dato Rdo Sri Sardi, MM mengatakan Ngerabun Pusaka merupakan tradisi turun-temurun yang harus dilakukan di bulan Maulud. Tahun berapa dimulainya acara ritual ini secara pasti tidak diketahui. Orang tua dulu tidak pernah mengatakan tahun berapanya, jelas Dato Sardi, serta mengatakan berdasarkan cerita orangtuanya Ritual Ngerabun Pusaka sudah dilakukan sejak adanya kehidupan di muka bumi. Dulu Ritual ini tertutup dan hanya untuk keluarga. Ritual ini bahkan dilaksanakan setiap malam jumat dan secara besar-besaran setiap Bulan Maulud setiap tahunnya, jelas Sardi yang juga menjabat Ketua Lembaga Tinggi Masyarakat Adat Republik Indonesa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini.

Ritual Ngerabun Pusaka ini pada awalnya dilakukan ketika hendak menyerang musuh dengan maksud untuk menambah kekuatan mistis pada pusaka tersebut. Awalnya ritual ini untuk ngisi senjata supaya memiliki kekuatan sehingga mampu mengalahkan musuh. Katakanlah tumbok lade, atau keris, atau tombak, atau tembong, atau tulup bulin, setelah diisi kekuatan bisa membunuh musuh dari jarak tertentu, keris bisa terbang mengejar musuh, jelas Sardi. Setelah negeri aman dan tidak ada lagi pertempuran, pusaka tetap di rabun atau dibersihkan setiap malam Jumat dan ritual tahunan.

Untuk setiap malam Jumat hanya dibuka dan dibersihkan menggunakan limau keramas (Jeruk Nipis) dan sedangkan yang tahunan dilaksanakan di bulan Maulud dengan menggunakan Limau Keramas, Minyak Pusaka, dan Dirabun (diasapi) dengan pedupaan. Ini maksudnya untuk membersihkan aura jahat dan pengisian dengan aura kebaikan pada pusaka. Membauat pusaka kuat dan hebat, ungkap pria penerima gelar adat Dato, Darjah Paduka Mahkota Palembang ini.

Ditambahkan, acara ritual ngerabun pusaka ini sudah dilaksanakan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Temasuk yang kami lakukan telah berlangsung dari gagut moyang hingga ke kakek dan bapak saya. Awalnya ritual ini hanya dilakukan di rumah bersama keluarga besar. Semenjak Setana Jering berdiri dan acara Ritual dilaksanakan di Setana dengan mengundang orang banyak, jelas Sardi tentang asal mula Ritual Ngerabun Pusaka di Setana Jering Amantubillah.

Proses Ritual Ngerabun Pusaka

Ngerabun Pusaka merupakan sebuah ritual membersihkan dan kembali mempertahankan kekuatan pada  peninggalan jaman dulu yang dianggap memiliki nilai sejarah, seperti keris, pedang, tombak, tombok lade, dan lainnya yang dimiliki semua pengurus Setana Jering Amantubillah Lembaga Adat Melayu Jering Bangka Belitung. Ritual diawali dengan duduknya Imam Setana Jering Pangeran Dato Rdo Sri Sardi, MM dan Punggawa Setana Rdo Sri Sahim Jaksa di tengah-tengah telatar Setana. Kemudian diikuti dengan seorang punggawa yang membawa sejumlah pusaka Setana berupa Keris Petua Imam, Wasiat Keris Pusaka, Sabuk Imam, Semar Pusaka, Pusaka Imam, serta sejumlah Tumbok Lade dan keris para Pengeceuk. Selama Imam Setana dan Punggawa Setana Ngerabun Pusaka diiringi dengan Tari Taboh dengan syair khas, yakni: Kerapak ta buah uwei, ken buah uwei pa buah manau, kerapak ta taboh kamei, ken taboh kamei gendang urang nyalai, Ucut ucut setupai padi, tupai meniti beteng meteras, kecit kecit lah nek ngeseik laki, sipot nitil macem tepiras,Ubok ubi gulei ubi, ubok dimaken nek burong belang, sikok dulok due dudi, sikok diamek nek riwang pula, Kepak kepok beben dulang, mekudu kandang dijalen kume, apa isik lah sanggul dayang, telur kutu beradeu bunge,Uyep-uyep ketem batu, turon ke tanah menggali lubang, gek ke rimbak menebeng ratu, keris setucok bawak gek perang,Injang injut ta kakei ayem, puyoh belage dengen siau, jangen takot bejalen malem, belitak di dade cemerilau, Kura labe-labe, tupat digandang diganggong ayem, tua tua dibuang bini, narek tuket bejalen malem,Tutoh jambuk kedengen binjei, tutoh seden tegerusang, buang janggut kedengen bisai, akek uben pulang bujang, Ketok ketek ketinok padi, ketikong ulong sedaun kendong, rucak ricek lah ujen pagi, sayuk pelimbang nek ngiter tudong.

Diawal ritual, Imam Setana membersihkan pusaka dengan menggunakan jeruk nipis, lalu diolesi dengan minyak pusaka dan kemudian diasapi dengan pedupaan yang menggunakan gaharu. Tentunya ritual ini dengan menggunakan sejumlah mantera kekuatan yang tidak diperkenankan untuk dipublis. Ritual diakhiri dengan Pecek Taber kepada seluruh undangan dengan maksud mengusir roh jahat dan aura negative.

Tradisi ini tujuannya untuk menjaga kondisi benda pusaka yang sudah berumur ratusan tahun itu, agar tidak rusak dimakan usia.

Ngerabun Pusaka ini tujuannya untuk merawat, menjaga benda pusaka bersejarah ini supaya tidak rusak dan hilang dimakan zaman. Saya pastikan ritual ini tidak syirik karena kita tidak mempercayai kekuatan lain selain dari kekuatan Allah SWT. Sebetulnya yang kita bacakan selama ritual itu bukan matera memanggil hantu, tapi doa, rateb yang semuanya diawali dengan istighfar, sahadatain dan sholawat. Saya menjamin tidak ada nilai kesirikannya,” ujar Pangeran Dato Rdo Sri Sardi mengklarifikasi tuduhan sejumlah oknum.

 

Nilai-nilai Ritual

Warga Setana mempercayai bahwa Ngerabun Pusaka tak hanya sekedar untuk mengawetkan atau mempercantik pusaka. Ngearbun Pusaka berarti melakukan ritual membersihkan diri. Orang yang ngerabun pusaka merefleksi dirinya bahwa membuat pusaka tidaklah mudah. Dalam hal ini membutuhkan doa, spirit yang kuat, kesabaran, ketelitian dan pantang menyerah. Nilai-nilai inilah yang diilhami bagi orang yang ngerabun atau ngeramesnya. Terlebih juga, peninggalan pusaka dari nenek moyang memiliki kekuatan magis yang akan mendatangkan perlindungan jika dirawat dengan baik dan apabila tidak dirawat, maka kekuatanyang dimiliki pusaka akan pudar atau hilang.

Tidak hanya bagi yang ngerabun, yang menyaksikannya pun harus mengambil pembelajaran bahwa benda mati saja harus dirawat agar bisa bertahan lama. Nah bagaimana dengan yang hidup, manusia? Jika mau tetap bertahan wajib membersihkan diri, mensucikan diri baik jasmani dan rohani. Jika sudah bersih maka pasti akan hidup sehat dan panjang umur, jelas pria yang bergelar Pangeran Agung Yang di-Pertuan Muda Shri Patani ini.

Selain itu, salah satu contoh Pusaka Keris memiliki filosofi kehidupan. Bagian-bagiannya seperti pesi (pegangan keris), gonjo, tikel alis, pijetan, dan greneng, menceritakan tentang kehidupan manusia. Diantaranya yaitu manusia perlu memiliki pegangan dalam hidupnya, manusia perlu mempertimbangkan segala perbuatan, manusia perlu adanya musyawarah bersama, manusia perlu memiliki jiwa yang bersih. Harapannya ketika keris ini dirabun maka siperabun bisa mendapatkan spirit baru dalam kehidupannya. Tak hanya itu, ngerabun juga membuat orang lebih sensitif terhadap rangsangan yang akan datang, paparnya.

Sardi menuturkan, kegiatan ini bukan hanya tradisi seremonial. Namun memiliki filosifi membersihkan diri yakni dengan berdoa dan mendekatkan diri dengan sang pencipta, sekaligus memperingati Maulid Nabi.

Dengan meneladani kehidupan Rasulullah Saw, insya Allah kita akan selamat hidup dunia akherat, harap pria rimba yang dianugerahi gelar adat Pangeran Agung Singa Mandara Utama dari Kerajaan Singaraja Buleleng Bali ini.

Inti tradisi ini untuk melestarikan peninggalan zaman dulu. Benda pusaka ini dianggap menyimpan sejarah dan kebanggaan keluarga Setana. “Jadi anak cucu kita nanti masih bisa mengetahui sejarah turun temurun nenek moyang masa lampau,” ucap Sardi.

“Benda pusaka ini berasal dari para keturunan yang sengaja disimpan di sini, kegiatan ini juga sekaligus untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga Setana dan masyarakat, semua hadir disini,” ujarnya.

Nilai moral menjadi media pelestarian nilai-nilai akhlaq Rasulullah Saw. Itulah sebabnya benda pusaka itu tetap dirawat pada setiap Bulan Maulud 9.

Tradisi leluhur sangat penting dilestarikan. Karena dalam tradisi mengajarkan etika dan moral. Di mana etika dan moral menjadi elemen untuk membangun bangsa dan negara di tengah arus globalisasi. Dalam tradisi Ngerabun Keris juga dilakukan doa bersama untuk mendoakan leluhur. Agar diberikan jalan hidup berkah, harap Sardi.

Dia berharap ada perhatian khusus generasi muda untuk mempelajari warisan benda-benda pusaka. Sehinga bisa dipelihara dan perlu dijaga. Hal ini karena benda-benda pusaka itu menyimpan sejarah masa lalu. (*)

Red Tim WBN