Pengusaha Keripik Tike yang Cetak Omset Jutaan, Butuh Permodalan

WBN. INDRAMAYU – Berani berubah dan berinovasi menjadi kunci Umi Darinah, perempuan asal desa Jumbleng Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat menjadi salah satu wirausaha mikro sukses.

Jika bukan karena keberaniannya dan tampil beda dalam mengemas kripik tike mungkin dia tidak mencapai kesuksesan seperti saat ini.

Kisah Umi Darinah memulai usaha bermula pada 2019, dari usahanya menjajakan ketetangga hingga kini sukses keluar kota hingga luar daerah.

Tak disangka, keputusan perempuan yang berusia 53 tahun ini justru bisa mengubah nasibnya menjadi pengusaha sukses keripik Tike.

Dikatakan Umi Darinah modal awal usahanya saat itu hanya ratusan ribu dan digunakan untuk membeli sebagai bahan baku selama sepekan. Secara perlahan produksi keripik Tike semakin meningkat dan berkembang sampai sekarang dan keripik Tike yang diberi nama “Tiga Saudara”

Melihat peluang usaha yang prospektif, kami memberanikan diri untuk mulai meminjam modal usaha ke BRI, dan alhamdulillah saya sangat terbantu dengan pinjaman modal dari BRI,”ujarnya, Rabu (1/12/2021).

Umi menuturkan seiring perkembangan bisnis dan kelancaran pembayaran, pinjaman modal usaha terus bertambah hingga menjadi puluhan juta.

Berharap usaha yang dilakukannya dapat berkembang dengan bantuan pihak-pihak yang berkompeten, demi keberlangsungan usaha di masa mendatang, sehingga dapat memberikan konstribusi terhadap perekonomian di kabupaten Indramayu.

Ia menjelaskan keripik tike ini diproduksi dalam skala industri rumah tangga secara tradisional.

Untuk itu kedepannya ada peningkatan mutu sumber daya manusia dengan mengikuti berbagai kegiatan seperti pelatihan, memperbaiki sarana prasarana untuk mencapai produk yang aman, proses produksi pengolahan sesuai standar dan peningkatan target produksi dengan memperhatikan rasa dan bentuk kemasan,” katanya.

Lanjut dikatakan agar produksi keripik tike mampu bersaing dengan produksi sejenis dari daerah dan taraf hidup warga Desa Jumbleng, Kec. Losarang, Kab. Indramayu, dapat lebih meningkat dan sejahtera.

Jika dalam usahanya mempunyai modal lebih, dan alat pabrikan (cangih) yang memadai, tentu akan lebih banyak menyediakan lapangan kerja untuk masyarakat sekitar, akan tetapi minimnya modal, dan peralatan pabrikan menjadikan kendala, karena semua menggunakan peralatan sangat sederhana,” sambungnya.

“Dengan dukungan peralatan yang memadai, untuk mencukupi permintaan pasar yang begitu banyak, dan terkendala segi permodalan
demi lancarnya usaha ya, kami membutukan modal,” pinta Umi Darinah yang seorang guru PNS ini.

(Anton K)

Share It.....