Ketua Distrik THS THM Keuskupan Agung Ende Lukas Mbulang Pimpin Pendadaran Ratusan Peserta Di Anakoli

Pers Warisan Budaya Nusantara

Ratusan anggota organisasi pencak silat pendidikan, Tunggal Hati Seminari (THS) dan Tunggal Hati Maria (THM), Keuskupan Agung Ende, wilayah Kevikepan Mbay, sukses mengikuti pendadaran peserta baru dan penyematan logo, bertempat di Gereja Stasi St Agustinus Anakoli, Wekaseko, Kabupaten Nagekeo, Flores NTT, pada 31 Desember 2023.



Pantauan WBN, rangkaian pendadaran berlangsung selama hampir sepekan, mulai tanggal 27-31 Desember 2023, diikuti peserta dari 12 Paroki dalam wilayah Kevikepan Mbay.

Rangkaian pendadaran dipimpin langsung oleh Ketua Distrik THS THM Keuskupan Agung Ende, Mbulang Lukas, SH.

Sebanyak 264 calon anggota mengikuti pendadaran dan 78 anggota menerima penyematan logo THS THM dalam kesempatan ini.

Selain dihadiri Ketua Distrik Keuskupan Agung Ende sejumlah Pengurus Distrik termasuk Humas, turut hadir Ketua Distrik Sikka NTT bersama salah satu Pengurus Kornas THS THM Indonesia serta senior angkatan pertama THS THM Indonesia yang masih ada, Fransiskus Aurelius Ladapase.

Rangkaian pendadaran dan penyematan logo mengangkat tema ‘Mari Kita Kembali ke Sumber’.

Diketahui, pendadaran merupakan salah satu tahapan ujian bagi calon anggota sebelum dikukuhkan menjadi anggota THS-THM. Sebagai sebuah organisasi bela diri, anggota THS-THM dituntut memiliki raga yang tangguh dan sehat serta jiwa yang kokoh berlandaskan iman Katolik.

“Puji Tuhan atas segala karunia bagi dunia, secara khusus kepada organisasi THS THM yang berdiri tegak untuk kebaikan umum, dengan motto Pro Patria et Ecclesia, yang berarti perjuangan demi bangsa dan gereja. Ratusan peserta yang mengikuti pendadaran dan penyematan THS THM didominasi anggota usia pelajar, mulai dari usia Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, dan hal ini merupakan kebanggaan bagi Gereja Katolik, sebab di tengah zaman yang canggih, putra putri Katolik tidak surut semangat untuk melebur dalam Gereja melalui organisasi THS THM. Dalam wadah THS THM kerohanian mereka maupun fisik ditempa dengan baik, untuk menjadi manusia-manusia yang tidak sombong, manusia yang rendah hati, yang selalu mau untuk belajar dan bertolak lebih ke dalam sesuai nafas Kitab Suci, sesuai inti-inti pokok ajaran cinta kasih dan pewartaan Yesus Kristus bagi dunia”, ujar Ketua Distrik THS THM Keuskupan Agung Ende, Mbulang Lukas.

Dia juga menenkankan kepada segenap anggota THS THM Keuskupan Agung Ende agar bersikap berani membela kebenaran dan keadilan, serta ulet dalam kekaryaan dengan watak rendah hati.

Rangkuman, Tunggal Hati Seminari (THS) dan Tunggal Hati Maria (THM) adalah sebuah aliran dalam ilmu bela diri pencak silat di Indonesia  yang bernafaskan agama Katolik, yang didirikan oleh 7 dewan pendiri, antara lain Rm. Hadi, Pr.

Latihan pertama pencak silat THS diadakan pada tahun 1983 di Seminari Petrus Kanisius Mertoyudan, diajarkan oleh Frater Hadiwijoyo, kala itu. Saat itu, latihan sama dengan latihan pencak silat pada umumnya. Pada awalnya ada 90 orang seminaris bergabung, tetapi seiring berjalannya waktu semakin berkurang menyisahkan 11 orang yang tekun berlatih, padahal pada masa itu Frater Hadiwijoyo hanya tersisah satu tahun lagi akan ditahbiskan dan hal itu berarti ia tidak lagi bertugas di Seminari.

Maka, saat liburan tiba, Frater Hadiwijoyo mengajak ke-11 seminaris tersebut untuk mengadakan retret rohani sekaligus mematangkan gerakan pencak silat. Frater Hadiwijoyo mengajak para seminaris berjalan kaki dari Kentungan menuju Kaliurang, di lereng Gunung Merapi. Sampai di Kaliurang, mereka mengolah rohani dan mematangkan gerak pencak silat. Pada liburan berikutnya, Frater Hadiwijoyo mengajak para seminaris ke Pantai Parangtritis. Di sinilah tercipta jurus-jurus otentik seminari yang dikreasi sendiri oleh para seminaris.

Jurus-jurus ini menggunakan gerak abjad A sampai Z.  Tanggal 4 Juli 1984, Frater Hadiwijoyo ditahbiskan menjadi imam dan ditugaskan di Paroki Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di sini, Romo Hadiwijioyo prihatin melihat kaum muda yang enggan beraktivitas di gereja. Diapun memanggil para seminaris untuk melatih mereka pencak silat. Beladiri ini dijadikan sarana untuk aksi panggilan, sebuah kegiatan untuk mempromosikan seminari kepada kaum muda.

Seiring berjalannya waktu, para seminaris mengusulkan agar dibuat sebuah organisasi resmi. Akhirnya, tanggal 10 November 1985 – tepat peringatan Hari Pahlawan dan tahun 1985 sebagai Tahun Pemuda Internasional – diresmikanlah di Gelanggang Remaja Jakarta Utara berdirinya Organisasi Beladiri Pencak Silat Katolik Tunggal Hati Seminari. Anggota yang tercatat berjumlah 223 orang Organisasi Beladiri Pencak silat Katolik Tunggal Hati seminari (THS).



Tujuan THS THM adalah menyatu tunggalkan hati dengan panggilan para seminaris. Setahun kemudian, pada 10 November 1986, diresmikan Tunggal Hati Maria (THM) untuk perempuan.

Awalnya, wadah ini menjadi salah satu sarana aksi panggilan, tetapi akhirnya berkembang menjadi alat kerasulan khas dari bumi Indonesia.

Memasuki tahun 1987, jumlah anggota THS-THM sudah mencapai lebih dari 2300 orang yang tersebar di kota-kota Jakarta, Yogyakarta, Surakarta, Wonogiri, Muntilan, Bandung, Lampung dan Banjarmasin.

Organisasi ini memiliki jalur koordinasi mulai dari tingkat pusat hingga di daerah-daerah. Di pusat terdapat Koordinatorat Nasional yang berkedudukan di Jakarta. Di bawahnya terdapat distrik-distrik yang mengikuti wilayah ̻keuskupan. Sementara di tingkat paroki terdapat ranting organisasi THS. Selain itu, ada pula unit latihan khusus, misal di sekolah-sekolah atau pendidikan tinggi.

Sampai sekarang, THS-THM terus berkembang seiring bertambahnya waktu, bahkan merambah hingga negara-negara tetangga, seperti Negara Timor Leste.

“Putra-putri, muda mudi serta orang dewasa Katolik, kami mengajak bersama-sama bergabung bersama THS THM, memperkuat dan turut mengembangkan, sebab usia tidak menjadi penghambat bagi warga Gereja Katolik menjadi anggota THS THM”, tutup Ketua Distrik THS THM Keuskupan Agung Ende, Mbulang Lukas.

WBN News

Share It.....