<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:series="https://publishpress.com/"
	>

<channel>
	<title>SEJARAH Archives - Warisan Budaya Nusantara.com</title>
	<atom:link href="https://warisanbudayanusantara.com/category/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://warisanbudayanusantara.com/category/sejarah/</link>
	<description>Tajam dalam Fakta</description>
	<lastBuildDate>Sun, 03 May 2026 02:57:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2022/12/cropped-cropped-LOGO-WBN-32x32.png</url>
	<title>SEJARAH Archives - Warisan Budaya Nusantara.com</title>
	<link>https://warisanbudayanusantara.com/category/sejarah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dari Sikka Flores, Mo&#8217;an Teka Iku Sang Revolusioner Buta Huruf Pendobrak Feodalisme dan Kolonialisme</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/03/dari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/03/dari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurel Doo]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 May 2026 02:42:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<category><![CDATA[TOKOH]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=79010</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Kornelius Moa Nita, S.Fil,  Di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) yang pada masa koloniaslime menjadi bagian dari Sunda Kecil memiliki banyak tokoh pejuang yang memberontak terhadap kolonialisme Belanda. Di Pulau Flores, selain Marilonga di Ende, ada pula Moan Teka Iku di Maumere, Kabupaten Sikka. Moan Teka Iku adalah seorang pejuang akar rumput ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/03/dari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme/">Dari Sikka Flores, Mo&#8217;an Teka Iku Sang Revolusioner Buta Huruf Pendobrak Feodalisme dan Kolonialisme</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Kornelius Moa Nita, S.Fil, </strong></p>
<p><strong>Di Provinsi </strong>Nusa Tenggara Timur ( NTT) yang pada masa koloniaslime menjadi bagian dari Sunda Kecil memiliki banyak tokoh pejuang yang memberontak terhadap kolonialisme Belanda. Di Pulau Flores, selain Marilonga di Ende, ada pula Moan Teka Iku di Maumere, Kabupaten Sikka. Moan Teka Iku adalah seorang pejuang akar rumput (grassroot) yang lahir dari kemiskinan dan ketidakadilan di jaman kolonial dan raja- raja lokal yang hidup dibawa kendali Belanda kala itu yang masuk ke Sikka pasca kekuasaan Portugis. Meskipun ia buta huruf karena tidak sekolah dan tidak memeluk agama Katolik (masih animisme) tapi uniknya ia sudah memiliki kesadaran yang tinggi dan visi misi yang jauh kedepan untuk membela rakyatnya dari ketidakadilan dan penindasan akibat Pajak 4 buah Kelapa per pohon di setiap musim panen, dan kerja paksa oleh kaum kolonialisme Belanda kala itu. Kontrasnya, bukan hanya melawan kolonialisme Belanda saja tetapi juga menentang raja-raja lokal yang pro Belanda dan ikut menindas rakyat.</p>
<p>Mo&#8217;an Teka yang lahir di desa Hubin- Wolomude, Kabupaten Sikka pada tahun 1800 an adalah anak dari Dua ( Ibu) Kotin dan Moan Bapak) Mitan. Ia bersama saudara kembarnya Moan IKU emudian menjadi yatim piatu setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Karena ayahnya adalah kepala kampung dan tana puan (tuan tanah), maka kemudian iMoan Teka diangkat menjadi Kapitan oleh raja Sikka.Tubuhnya pendek, kekar berotot berkulit hitam dan mengenakan sarung hitam dengan parang yang menjadi senjata saktinya selalu ia bawa.</p>
<p>Meskipun ia adalah Kapitan yang menjadi hirarki dari kerajaan Sikka, Ia mempunyai kaca mata berbeda dengan para raja pribumi dalam melihat penderitaan rakyat di kampungnya terkait Pajak 4 buah kelapa setiap pohon setiap musim panen yang mencekik leher rakyat miskin. Ia sangat geram menentang Pajak 4 buah kelapa tersebut dan melawan keras para raja yang menjadi kaki tangan Belanda. Sikap revolusinernya terus menyala-nyala di dalam dadanya terus menghasut rakyat agar tidak membayar pajak kelapa. Ia melakukan agitasi dan memprovokasi rakyat kecil di kampung-kampung untuk menolak dan melakukan perlawanan.</p>
<p>Mendengar Moan Teka Iku telah melakukan provokasi agar warga tidak membayar pajak Kelapa di berbagai kampung, maka para raja waktu itu yaitu Raja Sikka, Raja Nita, dan Raja Kangae .merasa geram. Raja Sikka kemudian memerintahkan atau mengundang Kapitan Moan Teka intuk datang menghadap raja mempertanggungjawabkan aksinya, namun permintaan itu samasekali tidak diindahkan oleh Moan Teka. Sikapnya yang sangat revolusioner memberontak melawan kekuasaan para raja dibawa kendali Pemerimtah Belanda tidak mempunyai tujuan khusus untuk merebut kekuasaan dari tangan para raja dan tidak untuk memperkaya diri tetapi bertujuan mulia melawan orang kulit putih (Belanda) yang datang berkuasa dan memerintah melalui tangan para raja di Sikka. Dendam dan kebenciannya sangat tinggi hingga mengatakan dengan tegas ” Daging Hitam saya sudah makan, saya mau makan lagi daging putih.” ( daging putih maksudnya tentara Belanda)</p>
<p>Fakta unik pertama untuk dicermati, Moan Teka Iku meski bukan turunan bangsawan, bukan seorang anak raja dan bukan kaum terdidik yang bersekolah di jaman Portugis dan Belanda, tetapi dengan keberanian yang membara, mental spiritual dan kharisma yang kuat mampu menyalakan api perlawanan, melakukan konsolidasi, dan membangun organisasi dengan menempatkan orang kepercayaannya di setiap kampung yang menjadi basis utamanya.</p>
<p>Dengan menunggang kudanya ia bersama prajurit-prajuriynya berjalan dari kampung ke kampung menggelar pertemuan dan mengobarkan semangat perlawanan terhadap Pajak yang memberatkan rakyat. Salah satu strategi untuk mempermudah pembangunan jaringan perjuangan, ia juga mengawini beberapa wanita dan melahirkan banyak anak, dari istri dan anak-anak yang dilahirkan membangun hubungan kawin mawin lagi dengan warga kampung lainnya sehingga jaringan politik Moan Teka Iku semakin kuat dan luas.</p>
<p>Semakin lama, barisan perlawanan Moan Teka Iku dan para pejuang gerilyawan alam yang hidup di hutan, gunung, lembah dan kampung-kampuang dengan logistik dari ladang sendiri membentuk jarimgan yang kuat di berbagai desa dari wilayah timur, wilayah tengah hingga wilayah utara dan barat yang melintasi daerah pegunungan, bukit, lembah dan sungai. Nama besar Moan Teka yang kala itu oleh orang Belanda dijuluki JENDERAL TEKA ( walau tidak ada pengelaman pendidikan militer) menjadi momok berbahaya dan menakutkan bagi para raja dan terutama para jenderal Belanda dan yang berkuasa di Flores. Karena terus melakukan perlawanan dengan manghasut rakyat tidak boleh bayar pajak kelapa dan tidak mau bekerjasama dengan raja raja di Sikka dan Belanda.</p>
<p>Puncak kemarahan Moan Teka Iku terhadap para raja yang mendukung Pajak 4 buah kelapa bagi Belanda, ia bersama laskarnya membakar kampung-kampung basis pendukung pajak kelapa yang dibekingi raja-raja, seperti Kampung di Nita, Koting, Beru di Maumere dan lain-lain. Ia juga akhirnya membakar gereja Katolik do Koting setelah bersitegang dengan pastor lantaran ada oknum bersenjata di dalam gereja yang berhasil menembak paha anak lelakinya dalam operasi tersebut. Pemberontakan atau perlawanan yang terjadi pada bulan itu, memantik kemarahan besar kompeni Belanda setelah menerima laporan dari para raja di Sikka dan juga melalui surat pastor Belanda di Sikka terkait serangan Jenderal Teka Iku.</p>
<p>Fakta unik kedua dari kisah nyata perjuangan Moan Teka Iku dan laskarnya, meski tidak pernah sekolah, tidak bisa menulis dan membaca, dan tidak pernah ikut latihan militer tetapi Moan Teka mampu menciptakan strategi untuk menghadapi serangan besar melawan Belanda yang telah mendengar pemberontakannya. Hal yang luar biasa, meski bukan seorang tentara, dan tidak mempunyai penasehat militer, Moan Teka bersama rekan-rekannya yang memegang moto “Lamen Tawa Tana” (pemuda yang lahir dari bumi) mampu membangun benteng pertahanan alamiia berupa beton berlapis dari bambu yang diisi dengan air untuk menangkis serangan meriam dan peluru Belanda dan sekutunya.</p>
<p>Selain itu, Ia juga menggali parit-parit dan lubang-lubang untuk menyelamatkan diri dikala keadaan darurat. Ada beberapa benteng yang menjadi markas pertahanan antara lain di desa Hubin-Wolomude, Baluele yang terletak di atas perbukitan dan juga di belakang Gunung Iligai dan Gunung Ilin Goran yang terletak di Desa Iligai, Selain itu, ia bersama pasukannya juga membekali diri dengan senjata berupa pedang, parang, pisau. Anak Panah, tombak, dan juga senjata laras panjang seperti bedil dan meriam meriam kecil hasil rampasan dari kaki tangan Belanda.</p>
<p><strong>Perang Kompeni I dan Kompeni II</strong></p>
<p>Fakta ketiga yang terunik adalah kegigihannya dalam mempertahankan Nian Tana ( Bumi) Sikka dari penjajah Belanda. Akibat dari sikap kepala batunya yang konsisten dengan penderitaan rakyat den tidak mengenal kompromi, perang Kompeni I pun pecah pada bulan Mei 1904, tentara Belanda yang didukung dengan pasukan dari para raja yang memihak kebijakan Pajak Belanda dengan persenjataan lengkap mulai memburuh dan menyerang benteng-benteng pertahanan Laskar Rakyat Moan Teka Iku. Perang sengitpun terjadi dengan jatuh banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Karena medan berbukit dan bergunung dan hutan yang sulit dijangkau tentara Belanda, maka mereka tidak berhasil mengalahkan laskar rakyat dan tidak berhasil menangkap Moan Teka.</p>
<p>Setelah tidak berhasil mengalahkan laskar Moan Teka Iku, Belanda dan sekutunya tidak tinggal diam, mereka kemudian mengatur strategi kedua, yaitu perang Kompeni Ii pada bulan Juni 1904. Perang ini menjadi perang terbesar di Flores dan satu-satunya perang besar melawan Belanda di Flores. Menghadapi militan Jenderal Teka Iku yang buta huruf, Belanda yang sudah kewalahan, terancam dan mulai cemas, akhirnya mengerahkan kekuatan penuh dari luar Sikka, mereka mendatangkan bantuan bala bantuan II kapal perang dari Makasar, tambahan pasukan dari Bugis Makasar, Sulawesi pasukan dari Residen Timor, Pasukan dari Residen Flores Timur dan dari Nggela. Semua pasukan itu bersama tentara Belanda dan sekutunya di Maumere mempersiapkan diri dengan amunisi dan persenjataan lengkap dengan meriam besar yang berhulu ledak tinggi siap mengepung dan membumihanguskan Teka Iku. Mengetahui itu, Moan Teka Ikupun tidak gentar sedikitpun. Ia sudah siap melawan dengan kekuatan penuh meski kalah dalam perbandingan kekuatan senjata dan jumlah pasukan. Ia bersama laskar rakyatmya dengan modal senjata sederhana dan semangat mengusir penjajah siap berperang.</p>
<p>Belanda dengan seluruh pasukannya mulai berperang untuk menangkap atau membunuh Moan Teka Iku. Seluruh kampung yang menjadi basis pasukan Teka dibumi hangus, benteng benteng pertahanan di Hubin-Wolomude dan Baluele digempur habis.. Baku tembak pun tidak terhindar lagi. Gempuran demi gempuran menghujani jantung pertahanan Teka Iku. Karena minim strategi, pengalaman tempur dan persenjataan, korban jiwa pun berjatuhan, tidak sedikit pula dari pihak Belanda. Belanda berhasil menguasai benteng benteng pertahanan Moan Teka Iku, namun tidak berhasil menangkapnya hidup atau mati. Moan Teka Iku dan pasukannya telah lari bersembunyi.</p>
<p><strong>Terjebak Skenario Perundingan Berujung Pemasungan</strong></p>
<p>Fakta keenpat yang kontas dan unik, Belanda dengan kekuatan penuh dari segala arah sudah menang perang, tetapi tidak berhasil menangkap Teka Iku kemudian mengatur starteg baru yang lazim dipakai untuk membungkam para pejuang Nusantara, seperti Pangeran Diponegoro di Tana Jawa, yaitu dengan perundingan. Belanda yang sudah kelimpungan atau gerah, membujuk ajudan Moan Teka yang bernama Moan Pitang dalam sebuah pesta pernikahan anak Moan Pitang. Tentara Belanda meminta dengan akal bulus agar Pitang merayu Moan Teka berunding. Moan Teka Iku dengan segala keluguhan, kepolosan, kerendah hati dan kejujuranlnya, termakan dan mau berunding.</p>
<p>Bersama Moan Pitang akhirnya ia pergi berunding dengan pihak Belanda di atas Kapal Perang dari Makasar yang berlabuh di Teluk Maumere. Niat baiknya untuk berunding akhirnya mengantar tubuhnya di pasung di atas kapal tersebut oleh tentara Belanda.. Pasca Moan Teka ditangkap, para pejuang yang masih hidup di gunung melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda yang mengejar mereka. di wilayah perbukitan kampung Sikka. Ketika tentara Belanda hendak mendaki memburu, loyalis Teka menggulingkan batu-batu besar yang mencabut nyawa serdadu Belanda. Namun kemudian mereka kalah, setelah Belanda mendatangkan pasukan yang lebih banyak.</p>
<p>Meski Moan Teka diadili dan hatus membayar pampasan perang 3000 gulden dan ditahan pasung, tentara Belanda yang berkuasa penuh masih merasa tidak aman kalau-kalau terjadi pemberontakan lagi. Untuk mengantisipasi itu, maka tentara Belanda kemudian menurunkan Pajak 4 buah kelapa yang memicu pemberontakan Teka Iku dan membangun kembali seluruh kampung warga yang dibakar saat perang, kecuali kampung Wolomude yang tidak dibangun. Pasca ditangkap, Moan Teka Iku kemudian dibawa dengan kapal Belanda ke Makasar Bumi Angin Mamiri, Sulawesi untuk di penjara di sana. Dan selanjutnya ia dibuang lagi di Sawalunto, Bukit Tinggi ,Sumatera Barat Bumi Melayu.</p>
<p>Moan Teka adalah anak Tana Sikka sang revolusipner akar rumput buta huruf yang memiliki jiwa heroiseme , patriotisme, dan anti feodaliame kolonialisme – kapitalisne akhirnya menghilang tanpa jejak meninggalkan pasukannya yang menipis dan rakyatnya yang loyal di kampung-kampung kecil yang merindukan perubahan dan kemerdekaan di bumi leluhur. Ia pergi untuk selamanya dalam kegelapan di balik awan hitam sejarah dan tenggelam di samudera biru putih bersama gelapnya tirai zaman hingga Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 sampqi saat ini.</p>
<p>Meski dikabarkan meninggal dunia di Sawalunto, sejarawan belum membuktikan di mana persis makam dan tulang belulang sang revolusioner itu. Pihak pemerintah Belanda pun belum memberikan informasi pasti terhadap tawanan perang asal Bumi Nyiur melambai itu. Di Kanpung halamannya Wolomude pun tidak terlihat makam dan potretnya, kecuali sebuah patung besar di pintu masuk Kota Maumere, Kabupaten Sikka yang berdiri tegak menjadi ikon mengurai sejarah perjuangannya membela rakyat tertindas di Bumi Sikka, Bumi Flores, NTT tanah persada Nusantara.</p>
<p><strong>Mengapa Belum Jadi Pahlawan Nasional?</strong></p>
<p>Pasca pembuangannya ke Makasar kemudian ke Sawalunto, puluhan tahun lamanya nama sang revolusioner Moan Teka Iku tidak kedengaran dan diketahui oleh siapapun termasuk generasi muda Sikka, kecuali kerabat dekatnya. Tidak ada satu pun sejarahwan dan ilmuwan iyang menulis atau para guru atau pemimpin politik yang mengisahkan kisah heroik perjuangan Moan Teka, dkk. Ia seperti menjadi sosok yang menakutkan dan mengancam. Namanya hilang lenyap dari sejarah perang besar di Sikka, Flores yang membawa perubahan besar. Entah mengapa dan ada apa? Tak seorang pun tahu.</p>
<p>Namun demikian, kebenaran dan fakta sejarah tak lekang oleh panas tak pudar oleh hujan badai dan gelombang. Sejarah tak pernah mati karena suara para roh pahlawan tetap menderu. Seiring perputatan roda waktu yang menggelinding, dan seiring tokoh-tokoh daerah dan Pemerintah Indonesia memberikan penghargaan gelar kehormatan bagi para pahlawan yang berjasa bagi negara, munculah nama Moan Teka Iku yang diprakarsai oleh Yayasan Moan Teka Iku pimpinan Paulus J. Gesing di Jakarta yang adalah keturunan langsung Moan Teka Iku. Ia mulai memunculkan nama Moan Teka Iku ( sang dwi tunggal) melalui beberapa buku yang menggali sejarah yang terkubur. Buku-buku itu antara lain berjudul, Perang Rakyat Flores Moan Teka Iku 1900-1904, Manajemen Kepemimpinan Manejerial dan Memory Perjuangan dan Pengabdian Moan Teka Iku yang juga berisi kumpulan dokumen persyaratan pengajuan Moan Teka yang diajukan ke Pemerintah Kabupaten Sikka dan Pemerintah Provinsi NTT. Buku berisi dokumen sejarah penting ini diterbitkan oleh Dinas Sosial Kabupaten Sikka usai sebuah seminar yang membedah perjuangan Moan Teka Iku di Maumere tahun 2005 yang dihadiri bupati, mantan bupati dan dosen serta sejarawan Sikka.</p>
<p>Dokumen dan sejumlah persyaratan kepahlawanan Moan Teka Iku telah diproses oleh Pemerintah dan DPRD Sikka dan diajukan ke Pemerintah Provinsi NTT di era Gubernur Piet Alexander Tallo. Namun hingga Gubernur Frans Lebu Raya, Gubernur Viktor Laiskodat sampai saat ini Melky Laka Lena di era Presiden Prabowo Subiyanto. nama Moan Teka Iku masih belum terlihat diradar pencalonan pahlawan nasional. Ironisnya, nama-nama calon pahlawan yang ditetapkan jadi pahlawan nasional lebih banyak muncul dari generasi baru masa kini yang dedikasi dan amal baktinya dinilai lebih memenuhi syarat. Pekerjaan rumah ini masih menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi NTT, Bupati Kabupaten Sikka dan para tokoh politik NTT di Senayan dalam membangun keran komunikasi yang masih tertutup.</p>
<p>Moan Teka Iku sebagaimana para pahlawan lainnya, seperti Sonbay di Pulau Timor, Umbu Putik Marisi di Pulau Sumba dan Marilonga di Ende telah menjadi ikon perlawanan di daerah dalam mengusir penjajah Belanda menuju Indonesia Merdeka pada 1945. Karya besar dan dedikasi, pengabdian dan amal bakti bagi rakyat dan bangsa di zamannya juga harus dilihat dan diberikan penghargaan yang layak dan pantas, tanpa mereduksi nilai heroisitas dan patriotisme berdasarkan kebutuhan politik semata.</p>
<p><strong>Penulis : Kornelius Moa Nita, S.Fil, </strong><em>Jurnalis NTT, dan Ketua Forum Peduli Pembangunan Daerah ( FPPD ) Nusantara.</em></p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/03/dari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F05%2F03%2Fdari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Dari%20Sikka%20Flores%2C%20Mo%27an%20Teka%20Iku%20Sang%20Revolusioner%20Buta%20Huruf%20Pendobrak%20Feodalisme%20dan%20Kolonialisme%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F05%2F03%2Fdari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Dari%20Sikka%20Flores%2C%20Mo%27an%20Teka%20Iku%20Sang%20Revolusioner%20Buta%20Huruf%20Pendobrak%20Feodalisme%20dan%20Kolonialisme&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F05%2F03%2Fdari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://social-plugins.line.me/lineit/share?url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F05%2F03%2Fdari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/03/dari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/03/dari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme/', 'Dari%20Sikka%20Flores%2C%20Mo%27an%20Teka%20Iku%20Sang%20Revolusioner%20Buta%20Huruf%20Pendobrak%20Feodalisme%20dan%20Kolonialisme', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/03/dari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme/">Dari Sikka Flores, Mo&#8217;an Teka Iku Sang Revolusioner Buta Huruf Pendobrak Feodalisme dan Kolonialisme</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/03/dari-sikka-flores-moan-teka-iku-sang-revolusioner-buta-huruf-pendobrak-feodalisme-dan-kolonialisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hari Pahlawan, Marilonga Layak Diusulkan Pahlawan Nasional dari Ende</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2025/11/10/hari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2025/11/10/hari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurel Doo]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2025 09:19:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<category><![CDATA[BERITA UMUM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=75850</guid>

					<description><![CDATA[<p>Media Warisan Budaya Nusantara Memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November, salah satu Pemerhati Kebangsaan dan Pembangunan Daerah, asal Ende Lio, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA, pada Senin (10/11/2025), melalui catatan pendeknya menulis pemaknaan dan harapan, menyebut Pahlawan Marilonga di Kabupaten Ende Pulau Flores, layak ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/11/10/hari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende/">Hari Pahlawan, Marilonga Layak Diusulkan Pahlawan Nasional dari Ende</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">Media Warisan Budaya Nusantara</span></strong></p>
<p>Memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November, salah satu Pemerhati Kebangsaan dan Pembangunan Daerah, asal Ende Lio, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA, pada Senin (10/11/2025), melalui catatan pendeknya menulis pemaknaan dan harapan, menyebut Pahlawan Marilonga di Kabupaten Ende Pulau Flores, layak diperjuangkan menjadi Pahlawan Nasional.</p>
<p>Berikut kutipan catatan pendek Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA.</p>
<p>Melawan Penjajah Pembangunan Modern, Refleksi Hari Pahlawan dan Usulan Marilonga sebagai Pahlawan Nasional dari Ende, Flores.</p>
<p>Saya, Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA, menyatakan sepakat sepenuhnya dengan tulisan Sekjend PERINDO, Dr. H. Ferry Kurnia R, yang menegaskan bahwa musuh terbesar bangsa saat ini bukanlah penjajah dari luar, melainkan koruptor dan ambisi pribadi para elite yang menjadi &#8220;Penjajah Pembangunan Modern.&#8221;</p>
<p>Peringatan Hari Pahlawan, Tanggal 10 November, memang seharusnya menjadi momen refleksi moral bagi seluruh anak bangsa, terutama para pemimpin dan pejabat publik, agar menginternalisasi nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dalam setiap kebijakan dan tindakan.</p>
<p>Korupsi dan keserakahan kekuasaan adalah bentuk nyata pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata.</p>
<p>Saya juga menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas keputusan Presiden Republik Indonesia yang telah menetapkan 10 Pahlawan Nasional baru, tahun 2025.</p>
<p>Semoga semangat dan keteladanan mereka menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus berjuang dengan integritas, kejujuran, dan semangat pengabdian, tanpa pamrih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Marilonga Mengusir Penjajah Tanpa Pamrih</strong></p>
<p>Sebagai salah satu Putra Ende Flores, Nusa Tenggara Timur, saya menakar posisi dan nilai-nilai besar perjuangan Marilonga sebagai pahlawan dari Kampung Watunggere, Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende Flores, Kota Pancasila, bernilai tidak sebatas lokal, sebaliknya sangat makro, jauh melampaui sekadar urusan kedaerahan.</p>
<p>Menelusuri deretan episode atas jejak juang Marilonga, harus berani dikata, Marilonga layak diperjuangkan sebagai Pahlawan Nasional.</p>
<p>Tidak sedikit pahlawan daerah yang berjuang tanpa pamrih hingga gugur di medan pertempuran, pada gilirannya menjadi Pahlawan Nasional.</p>
<p>Marilonga pun berjuang hingga titik darah terakhir, gugur di medan tempur, demi mengusir penjajah, menolak penjajah Belanda, dengan darah dan nyawa sebagai taruhan.</p>
<p>Marilonga adalah sosok pejuang sejati yang telah berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan Pancasila di Kabupaten Ende, tanah Flores, warisan luhur yang patut dikenang dan diteladani oleh seluruh bangsa.</p>
<p>Menanamkan nilai-nilai luhur yang selaras dengan nadi perjuangan nasional, selaras pula dengan nilai-nilai Pancasila.</p>
<p>Semoga dalam kiprah pengukuhan para Pahlawan Bangsa, Marilonga terus berproses menuju titik puncak, atas  pengabdiannya bagi tanah kelahiran, daerah, Nusa dan Bangsa.</p>
<p>Dan, semoga semangat para pahlawan senantiasa menjadi cahaya yang menuntun perjalanan bangsa menuju Indonesia yang bersih, berdaulat, adil, dan sejahtera.</p>
<p>&#8220;Catatan Pendek, Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA&#8221;. Pemerhati Kebangsaan dan Pembangunan Daerah.</p>
<p>Editor : Aurel Do&#8217;o &#8211; WBN Pers.</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2025/11/10/hari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F11%2F10%2Fhari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Hari%20Pahlawan%2C%20Marilonga%20Layak%20Diusulkan%20Pahlawan%20Nasional%20dari%20Ende%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F11%2F10%2Fhari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Hari%20Pahlawan%2C%20Marilonga%20Layak%20Diusulkan%20Pahlawan%20Nasional%20dari%20Ende&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F11%2F10%2Fhari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://social-plugins.line.me/lineit/share?url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F11%2F10%2Fhari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/11/10/hari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2025/11/10/hari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende/', 'Hari%20Pahlawan%2C%20Marilonga%20Layak%20Diusulkan%20Pahlawan%20Nasional%20dari%20Ende', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/11/10/hari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende/">Hari Pahlawan, Marilonga Layak Diusulkan Pahlawan Nasional dari Ende</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2025/11/10/hari-pahlawan-marilonga-layak-diusulkan-pahlawan-nasional-dari-ende/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Misteri Benteng Bukit Larangan Legok Cireunghas Sukabumi</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2025/10/14/misteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2025/10/14/misteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2025 05:17:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Abah Anton Charliyan]]></category>
		<category><![CDATA[Sukabumi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=75075</guid>

					<description><![CDATA[<p>WBN &#124; SUKABUMI, JABAR &#8211; Abah Anton Chaliayan bersama tim Kombes (P) Dindin Ridwan, Hadi Gasantana dan Tim, Ambu Zahwa, H. Aep S. Menelusuri Cireunghas, Sukabumi, menyimpan segudang misteri terkait sejarah masa penjajahan Jepang. Benteng pertahanan yang sangat dirahasiakan ini menjadi saksi bisu dari peristiwa yang dilalui oleh masyarakat setempat. Para peneliti, dipimpin oleh Anton ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/10/14/misteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi/">Misteri Benteng Bukit Larangan Legok Cireunghas Sukabumi</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://warisanbudayanusantara.com" target="_blank" rel="noopener">WBN | SUKABUMI, JABAR</a> &#8211; Abah Anton Chaliayan bersama tim Kombes (P) Dindin Ridwan, Hadi Gasantana dan Tim, Ambu Zahwa, H. Aep S. Menelusuri Cireunghas, Sukabumi, menyimpan segudang misteri terkait sejarah masa penjajahan Jepang. Benteng pertahanan yang sangat dirahasiakan ini menjadi saksi bisu dari peristiwa yang dilalui oleh masyarakat setempat. Para peneliti, dipimpin oleh Anton dan timnya, menghadapi tantangan untuk mengungkap fakta-fakta menarik tentang lokasi strategis ini yang kini terpendam dalam ingatan dan legenda masyarakat.</p>
<p>Di Bukit Larangan Legok Cempaka Putih, yang dulunya merupakan area terlarang, ditemukan sisa-sisa bangunan yang menunjukkan bahwa tempat ini pernah menjadi markas militer. Pabrik pengolahan logam dan terowongan yang terhubung seakan bercerita tentang aktivitas yang berlangsung di wilayah tersebut. Bukit Larangan, yang dalam sejarahnya disebut sebagai lokasi yang harus dijaga ketat, memperlihatkan betapa pentingnya strategi pertahanan bagi pasukan pada masa itu.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-75077" src="https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-300x169.jpg" alt="" width="300" height="169" srcset="https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-300x169.jpg 300w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-1024x576.jpg 1024w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-750x422.jpg 750w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-1536x865.jpg 1536w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-2048x1153.jpg 2048w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-372x208.jpg 372w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-360x202.jpg 360w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-251x141.jpg 251w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-230x129.jpg 230w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-203x114.jpg 203w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2025/10/Dofoto_20251014_115755330-165x92.jpg 165w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Keberadaan benteng pertahanan yang dibangun dengan kokoh menyimpan cerita yang belum sepenuhnya terungkap. Benteng ini, diperkirakan memiliki luas antara 500 hingga 1000 hektare, berdiri megah dengan tinggi sekitar 4 meter, berbahan dasar coran batu lebar. Posisinya yang dikelilingi bukit membuatnya sulit diakses oleh musuh, memberikan keuntungan strategis bagi para prajurit yang bertugas menjaga tempat tersebut. Meski demikian, informasi mengenai benteng ini kerap kali terabaikan dalam catatan sejarah resmi, seakan hilang ditelan waktu.</p>
<p>Sebagian masyarakat menyebut area ini sebagai &#8216;Hiroshima Indonesia&#8217;, merujuk pada bombardir yang dialami ketika Sekutu mengambil alih kendali di Indonesia. Sebuah pelajaran berharga tentang betapa berharganya tanah ini mengalami pertempuran, pengorbanan, dan perjuangan. Tidak jauh dari lokasi benteng, peninggalan sejarah lainnya, termasuk Maqom Tua dan Gua Rangga Gading, menambah daya tarik situs ini. Legenda yang mengelilingi tempat-tempat ini mengenai Prabu Taji Malela dan Prabu Rangga Gading menandakan betapa kaya budaya dan sejarah yang ada di Cireunghas.</p>
<p>Dengan adanya kerjasama antara pemerintah dan pihak-pihak terkait, diharapkan bahwa misteri ini dapat diangkat ke permukaan. Penggalian informasi dan penelitian lebih lanjut tidak hanya bisa mengungkap fakta-fakta sejarah yang hilang, tetapi juga dapat memberikan wawasan tentang bagaimana generasi sebelumnya berjuang di tengah tantangan. Sejarah akan selalu menjadi pengingat yang abadi, bukan hanya bagi masyarakat Cireunghas, tetapi untuk seluruh bangsa Indonesia dalam menjaga warisan dan identitas mereka. (Red)</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2025/10/14/misteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F10%2F14%2Fmisteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Misteri%20Benteng%20Bukit%20Larangan%20Legok%20Cireunghas%20Sukabumi%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F10%2F14%2Fmisteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Misteri%20Benteng%20Bukit%20Larangan%20Legok%20Cireunghas%20Sukabumi&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F10%2F14%2Fmisteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://social-plugins.line.me/lineit/share?url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F10%2F14%2Fmisteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/10/14/misteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2025/10/14/misteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi/', 'Misteri%20Benteng%20Bukit%20Larangan%20Legok%20Cireunghas%20Sukabumi', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/10/14/misteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi/">Misteri Benteng Bukit Larangan Legok Cireunghas Sukabumi</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2025/10/14/misteri-benteng-bukit-larangan-legok-cireunghas-sukabumi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jejak Kerajaan Kampar yang Terlupakan</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2025/09/29/74815/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2025/09/29/74815/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2025 02:33:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=74815</guid>

					<description><![CDATA[<p>Warisan Budaya Nusantar-Kerajaan Kampar, atau dikenal juga sebagai Kamvou, Kamper, dan Kampa, merupakan sebuah entitas politik kuno yang penting dalam sejarah Indonesia. Dikenal dalam Pupuh XIII Kitab Nagarakaṛtagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365, Kampar menciptakan catatan sejarah yang menempel erat dalam identitas daerah tersebut. Istilah Kampar tidak hanya menandakan keberadaan kerajaan, tetapi juga merujuk ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/09/29/74815/">Jejak Kerajaan Kampar yang Terlupakan</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://warisanbudayanusantara.com" target="_blank">Warisan Budaya Nusantar</a>-Kerajaan Kampar, atau dikenal juga sebagai Kamvou, Kamper, dan Kampa, merupakan sebuah entitas politik kuno yang penting dalam sejarah Indonesia. Dikenal dalam Pupuh XIII Kitab Nagarakaṛtagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365, Kampar menciptakan catatan sejarah yang menempel erat dalam identitas daerah tersebut.</p>
<p>Istilah Kampar tidak hanya menandakan keberadaan kerajaan, tetapi juga merujuk pada beberapa aspek wilayah. Di antara berbagai sebutan, Tanah Andiko menjadi sebutan utama untuk daerah yang masuk dalam teritorial Sa-Adat Salimbago. Penamaan ini meliputi sungai-sungai yang mengalir, seperti Sungai Kampar, Sungai Siak, dan Sungai Rokan. Sebagai kawasan yang lebih luas, Kampar tak hanya merepresentasikan kerajaan, tetapi juga mencakup batasan geografi yang dipenuhi keunikan dan tradisi.</p>
<p>Awal dari pemerintahan Kerajaan Kampar tercatat di bawah kepemimpinan Raja Buyuong Saidi, yang menguasai wilayah Nagoghi Koto Pomban. Seiring waktu, cakupan wilayah Kerajaan Kampar mengalami perubahan yang signifikan, terutama setelah terbentuknya konfederasi Limo Koto. Pembangunan Kenegerian-kenegerian baru mencerminkan dinamika sosial dan politik antar bangsawan, yang akhirnya mengarah pada integrasi ke dalam satu institusi pemerintahan di bawah sultan-sultan yang berbeda.</p>
<p>Melangkah ke era modern, wilayah yang dulu menjadi pusat Kerajaan Kampar mencakup beberapa kecamatan, seperti Kampa, Tambang, Siak Hulu, dan Perhentian Raja yang berada di Kabupaten Kampar. Selain itu, sebagian dari Kota Pekanbaru dan Kabupaten Pelalawan termasuk dalam batas wilayah yang secara historis diakui sebagai bagian dari kerajaan yang pernah berkuasa ini. Pembagian geografi ini menggambarkan bagaimana sejarah yang kaya ini membentuk karakter dan identitas masyarakat setempat.</p>
<p>Batasan utara dan selatan Kerajaan Kampar dipisahkan oleh sungai-sungai besar yang menciptakan akses yang kompleks. Di timur, Kepulauan Karimun menghadirkan tantangan tersendiri, sedangkan di sebelah barat, arus Sungai Kampar yang kuat menjadi penghalang alami bagi perlayaran. Kondisi ini menambah pesona serta nuansa mistis akan warisan sejarah yang masih mengalir dan mengalun seiring waktu. Dengan semua aspek tersebut, Kerajaan Kampar tetap menjadi saksi bisu bagi perjalanan panjang budaya dan politik di Nusantara.</p>
<p>(Tome Pires)<br />
Editor Hendra</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2025/09/29/74815/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F09%2F29%2F74815%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Jejak%20Kerajaan%20Kampar%20yang%20Terlupakan%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F09%2F29%2F74815%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Jejak%20Kerajaan%20Kampar%20yang%20Terlupakan&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F09%2F29%2F74815%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://social-plugins.line.me/lineit/share?url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F09%2F29%2F74815%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/09/29/74815/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2025/09/29/74815/', 'Jejak%20Kerajaan%20Kampar%20yang%20Terlupakan', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/09/29/74815/">Jejak Kerajaan Kampar yang Terlupakan</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2025/09/29/74815/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemilu Kedua 1971 dan Pemilu Ketiga 1977</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/pemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/pemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurel Doo]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2025 14:08:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<category><![CDATA[PEMILU]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=72122</guid>

					<description><![CDATA[<p>Media Warisan Budaya Nusantara Pemilu tahun 1971 adalah Pemilu kedua yang diselengarakan di Indonesia setelah Pemilu pertama tahun 1955. Partai peserta Pemilu sebanyak 10 partai politik, yaitu NU, Golkar, Parmusi, PNI, PSII, Parkindo, Partai Katolik, PERTI, IPKI, dan MURBA. Pada tahun 1977 yaitu Pemilu ketiga beberapa partai melakukan fusi atau gabungan. NU, Parmusi, Perti, dan ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/pemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977/">Pemilu Kedua 1971 dan Pemilu Ketiga 1977</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">Media Warisan Budaya Nusantara</span></strong></p>
<p>Pemilu tahun 1971 adalah Pemilu kedua yang diselengarakan di Indonesia setelah Pemilu pertama tahun 1955.</p>
<p>Partai peserta Pemilu sebanyak 10 partai politik, yaitu NU, Golkar, Parmusi, PNI, PSII, Parkindo, Partai Katolik, PERTI, IPKI, dan MURBA.</p>
<p>Pada tahun 1977 yaitu Pemilu ketiga beberapa partai melakukan fusi atau gabungan.</p>
<p>NU, Parmusi, Perti, dan PSII bergabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan atau PPP.</p>
<p>Sedangkan PNI, Parkindo, partai Katolik, IPKI dan Murba bergabung menjadi Partai Demokrasi Indonesia atau PDI.</p>
<p>Sehingga pada Pemilu tahun 1977 ada 3 kontestan peserta pemilu yaitu PPP, PDI dan Golkar.</p>
<p>WBN</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/pemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Fpemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Pemilu%20Kedua%201971%20dan%20Pemilu%20Ketiga%201977%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Fpemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Pemilu%20Kedua%201971%20dan%20Pemilu%20Ketiga%201977&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Fpemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://social-plugins.line.me/lineit/share?url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Fpemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/pemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/pemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977/', 'Pemilu%20Kedua%201971%20dan%20Pemilu%20Ketiga%201977', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/pemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977/">Pemilu Kedua 1971 dan Pemilu Ketiga 1977</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/pemilu-kedua-1971dan-pemilu-ketiga-1977/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Foto Marinir Belanda dan TNI di Garis Demarkasi Status Quo 1948</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/foto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/foto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurel Doo]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2025 12:34:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=72118</guid>

					<description><![CDATA[<p>Media Warisan Budaya Nusantara Marinir Belanda foto bersama prajurit TNI di daerah perbatasan pada garis demarkasi status quo atau dikenal sebagai garis Van Mook pada tahun 1948, kemungkinan di daerah Jawa Tengah. Garis Van Mook adalah garis perbatasan wilayah hasil perjanjian Renville tahun 1948 antara pihak Belanda dan pihak Republik Indonesia untuk mengakhiri konflik pada ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/foto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948/">Foto Marinir Belanda dan TNI di Garis Demarkasi Status Quo 1948</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">Media Warisan Budaya Nusantara</span></strong></p>
<p>Marinir Belanda foto bersama prajurit TNI di daerah perbatasan pada garis demarkasi status quo atau dikenal sebagai garis Van Mook pada tahun 1948, kemungkinan di daerah Jawa Tengah.</p>
<p>Garis Van Mook adalah garis perbatasan wilayah hasil perjanjian Renville tahun 1948 antara pihak Belanda dan pihak Republik Indonesia untuk mengakhiri konflik pada Agresi Militer Belanda I tahun 1947.</p>
<p>Dalam perjanjian tersebut wilayah Rebuplik Indonesia adalah daerah Jawa Tengah, daerah Yogyakarta, sebagaian besar pulau Sumatra terkecuali Sumatra Timur.</p>
<p>Konsekwensinya dibuatlah garis demarkasi untuk memisahkan wilayah kekuasaan Indonesia dan Belanda.</p>
<p>Pihak Indonesia menyebut garis demarkasi tersebut sebagai garis Van Mook karena dinilai hanya menguntungkan pihak Belanda karena pulau Jawa pada saat itu menjadi pusat kekuatan pemerintahan yang mana dengan garis perbatasan tersebut pihak Republik Indonesia menjadi tidak leluasa bergerak karena berada ditengah-tengah wilayah yang menjadi kekuasaan Belanda.</p>
<p>Akibatnya kedua belah pihak masih terlibat konflik senjata yang berujung pada terjadinya Agresi Militer kedua yang dilakukan pihak Belanda.</p>
<p>Sumber foto : universiteitleiden.nl/KITLV</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/foto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Ffoto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Foto%20Marinir%20Belanda%20dan%20TNI%20di%20Garis%20Demarkasi%20Status%20Quo%201948%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Ffoto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Foto%20Marinir%20Belanda%20dan%20TNI%20di%20Garis%20Demarkasi%20Status%20Quo%201948&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Ffoto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://social-plugins.line.me/lineit/share?url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Ffoto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/foto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/foto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948/', 'Foto%20Marinir%20Belanda%20dan%20TNI%20di%20Garis%20Demarkasi%20Status%20Quo%201948', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/foto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948/">Foto Marinir Belanda dan TNI di Garis Demarkasi Status Quo 1948</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/foto-marinir-belanda-dan-tni-di-garis-demarkasi-status-quo-1948/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Potret Pemimpin Kerajaan Larantuka Don Lorenzo II</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/potret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/potret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurel Doo]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2025 11:46:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<category><![CDATA[TOKOH]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=72107</guid>

					<description><![CDATA[<p>Media Warisan Budaya Nusantara Potret pemimpin kerajaan Larantuka, Lorenzo Diaz Vieria Godinho, yang bergelar Don Lorenzo II, bersama kedua penasehatnya, sekitar tahun 1890. Kerajaan Larantuka adalah kerajaan sekutu Portugal, yang dulu menguasai wilayah kepulauan Flores bagian timur. Akibat perjanjian Lisbon antara Portugal dan Belanda pada tahun 1859, maka wilayah kekuasaan kerajaaan Larantuka diberikan kepada pihak ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/potret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii/">Potret Pemimpin Kerajaan Larantuka Don Lorenzo II</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">Media Warisan Budaya Nusantara</span></strong></p>
<p>Potret pemimpin kerajaan Larantuka, Lorenzo Diaz Vieria Godinho, yang bergelar Don Lorenzo II, bersama kedua penasehatnya, sekitar tahun 1890.</p>
<p>Kerajaan Larantuka adalah kerajaan sekutu Portugal, yang dulu menguasai wilayah kepulauan Flores bagian timur.</p>
<p>Akibat perjanjian Lisbon antara Portugal dan Belanda pada tahun 1859, maka wilayah kekuasaan kerajaaan Larantuka diberikan kepada pihak Belanda, dan menjadi wilayah bagian Hindia Belanda, yang akhirnya menjadi wilayah bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Sumber foto : Lembaga Antropologi Belanda, KITLV</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/potret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Fpotret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Potret%20Pemimpin%20Kerajaan%20Larantuka%20Don%20Lorenzo%20II%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Fpotret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Potret%20Pemimpin%20Kerajaan%20Larantuka%20Don%20Lorenzo%20II&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Fpotret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://social-plugins.line.me/lineit/share?url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F06%2F09%2Fpotret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/potret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/potret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii/', 'Potret%20Pemimpin%20Kerajaan%20Larantuka%20Don%20Lorenzo%20II', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/potret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii/">Potret Pemimpin Kerajaan Larantuka Don Lorenzo II</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2025/06/09/potret-pemimpin-kerajaan-larantuka-don-lorenzo-ii/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ribuan Pengunjung Hadiri Malam Sakral Puncak Gebeg Maulud Keraton Kasepuhan Cirebon 1446H</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2024/09/17/ribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2024/09/17/ribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hery Susanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Sep 2024 05:41:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[WBN Streaming TV]]></category>
		<category><![CDATA[ADAT]]></category>
		<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<category><![CDATA[PUSAKA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=66945</guid>

					<description><![CDATA[<p>WBN &#124; Cirebon. Tradisi muludan yang di peringati setiap bulan maulid, dalam rangka memperingati hari lahirnya Nabi Besar Muhamad SAW., di keraton kasepuhan cirebon sudah berlangsung semenjak puluhan tahun, dan dapat terjaga dan dilestarikan hingga saat ini, pada tradisi acara adat muludan ada malam puncak yang selalu dinanti oleh masyarakat sekitar juga masyarakat diluar Cirebon. ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2024/09/17/ribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m/">Ribuan Pengunjung Hadiri Malam Sakral Puncak Gebeg Maulud Keraton Kasepuhan Cirebon 1446H</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">WBN | Cirebon. Tradisi muludan yang di peringati setiap bulan maulid, dalam rangka memperingati hari lahirnya Nabi Besar Muhamad SAW., di keraton kasepuhan cirebon sudah berlangsung semenjak puluhan tahun, dan dapat terjaga dan dilestarikan hingga saat ini, pada tradisi acara adat muludan ada malam puncak yang selalu dinanti oleh masyarakat sekitar juga masyarakat diluar Cirebon.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Senin 16/09/2024. Ribuan masyarakat berkumpul semenjak sore hari memadati area kraton untuk menunggu untuk menyaksikan acara yang dinanti nanti yaitu Panjang Jimat, sebuah acara sakral dimana pusaka pusaka yang syarat akan makna dan simbol simbol kehidupan di bawa keluar di arak dengan proses tradisi menuju Langgar Agung, (Mushola bersejarah yang di agungkan di area Keraton).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tampak Pangeran Patih Raja Muhammad Nusantara, didampingi Pangeran Patih Sepuh PR Goemelar Soeriadiningrat, Hadir juga Utusan adat kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn. Yang diwakili oleh Penembahan Dato Pangeran Puspo Kesumo R H Zainal Abidin Rahman. Serta tampak hadir tokoh tokoh adat dari Cirebon dan sekitarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam sambutanya untuk melepas keluarnya Pusaka tersebut, Pangeran Patih Raja Muhamad Nusantara, mengatakan &#8220;kita semua dapat berkumpul di tempat yang bersejarah ini Keraton Kasepuhan Cirebon Keraton yang meneruskan perjuangan syiar Islam yang diamanatkan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati, dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, yang dijadikan sebagai agenda tradisi tahunan di Keraton Kasepuhan Cirebon dengan nama upacara tradisi Panjang Jimat&#8221; Paparnya.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-66946" src="https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2024/09/IMG-20240917-WA0011-1024x768.jpg" alt="" width="750" height="563" srcset="https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2024/09/IMG-20240917-WA0011-1024x768.jpg 1024w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2024/09/IMG-20240917-WA0011-300x225.jpg 300w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2024/09/IMG-20240917-WA0011-750x563.jpg 750w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2024/09/IMG-20240917-WA0011-1536x1152.jpg 1536w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2024/09/IMG-20240917-WA0011.jpg 1600w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /></p>
<blockquote><p>&nbsp;</p></blockquote>
<p>Maman Salah satu pengunjung berasal dari Karawang saat di wawancara awak media Mengatakan &#8220;Saat ini saya beserta rombongan satu Minibus, sengaja datang ke Keraton Kasepuhan dari jam 15:00, yang memang kami beserta rombongan selalu menunggu saat malam Panjang Jimat ini, selain hanya dilaksanakan satu tahun sekali, kami juga sangat menyakini dengan mengikuti rangkaian dan ikut doa bersama, semoga saja kami ikut mendapatkan Keberkahan dari Kanjeng Nabi&#8221; Paparnya.</p>
<p><strong>Saksikan Siaran Langsung&#8230;</strong></p>
<p><iframe title="🔴LIVE - MALAM PUNCAK GREBEG MULUD PELALAN PANJANG JIMAT KERATON KESEPUHAN CIREBON - 16/09/24" width="750" height="422" src="https://www.youtube.com/embed/oTreR2vJsHU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Walaupun acara di padati ribuan pengunjung namun tetap berjalan tertib dengan tidak mengurangi nilai nilai sakral Panjang Jimat.</p>
<p>(Bang Ay)</p>
<p>&nbsp;</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2024/09/17/ribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2024%2F09%2F17%2Fribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Ribuan%20Pengunjung%20Hadiri%20Malam%20Sakral%20Puncak%20Gebeg%20Maulud%20Keraton%20Kasepuhan%20Cirebon%201446H%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2024%2F09%2F17%2Fribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Ribuan%20Pengunjung%20Hadiri%20Malam%20Sakral%20Puncak%20Gebeg%20Maulud%20Keraton%20Kasepuhan%20Cirebon%201446H&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2024%2F09%2F17%2Fribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://social-plugins.line.me/lineit/share?url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2024%2F09%2F17%2Fribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2024/09/17/ribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2024/09/17/ribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m/', 'Ribuan%20Pengunjung%20Hadiri%20Malam%20Sakral%20Puncak%20Gebeg%20Maulud%20Keraton%20Kasepuhan%20Cirebon%201446H', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2024/09/17/ribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m/">Ribuan Pengunjung Hadiri Malam Sakral Puncak Gebeg Maulud Keraton Kasepuhan Cirebon 1446H</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2024/09/17/ribuan-pengunjung-hadiri-malam-sakral-puncak-gebeg-maulud-di-kraton-kasepuhan-cirebon-1446h-2024m/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KENDEDES</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2024/05/12/kendedes/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2024/05/12/kendedes/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 May 2024 11:23:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[Kendedes]]></category>
		<category><![CDATA[kenarok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=65132</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suatu waktu Ken Arok yang nama aslinya “Temon” itu mengadukan penglihatan anehnya kepada Pendeta Lhogawe, dalam pengaduannya ia mengungkapkan, pada saat ia di taman Baboji, ketika Ken Dedes turun dari kereta, kainnya tersingkap, terbuka jelas hingga paha, kemaluan Ken Dedes rupanya terlihat jelas oleh Ken Arok, hal ini tentu wajar sebab pada tahun-tahun itu belum ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2024/05/12/kendedes/">KENDEDES</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu waktu Ken Arok yang nama aslinya “Temon” itu mengadukan penglihatan anehnya kepada Pendeta Lhogawe, dalam pengaduannya ia mengungkapkan, pada saat ia di taman Baboji, ketika Ken Dedes  turun dari kereta, kainnya tersingkap, terbuka jelas hingga paha, kemaluan Ken Dedes rupanya terlihat jelas oleh Ken Arok, hal ini tentu wajar sebab pada tahun-tahun itu belum tercipta celana dalam yang memadai.</p>
<p>Dalam penglihatannya, Ken Arok melihat jika kemaluan Ken Dedes bercahaya, bahkan kilauannya menyilauan Ken Arok, Pendeta Lhogawe mengabarkan bahwa “itu adalah tanda bahwa Ken Dedes adalah wanita Nareswari”, sang pendeta juga menambahkan bahwa “Betatapaun sengsaranya maka laki-laki yang mengawininya akan jadi Raja Besar”.</p>
<p>Peristiwa memancarnya cahaya dari kemaluan Ken Dedes yang menyilaukan mata Ken Arok ini kelak menjadi pemantik petaka di Jawa. Tunggul Ametung Terbunuh, bahkan Kerajaan Kediri, Kerajaan yang tersohor kemakmurannya di seantero jagat itu runtuh karena ambisi besar Ken Arok yang dipengaruhi tafsir Pendeta Lho Gawe setelah sebelumnya melihat kemaluan Ken Dedes yang bercahaya.</p>
<p>Kisah mengenai bercahayanya kemaluan Ken Dedes ini dibahas dalam Tafsir Sejarah Negarakertagama Karya Slamet Muljana (2009;93-94), dimana didalamnya mengisyaratkan bahwa petaka yang timbul di Tumapel, Kediri, maupun petaka-petaka yang menyebabkan terbunuhnya Ken Arok serta terbunuhnya ketujuh keturunannya bukan karena kutuk Keris Empu Gandring semata, melainkan juga karena kilauan kemaluan Ken Dedes yang bercahaya.</p>
<p>(NN) </p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2024/05/12/kendedes/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2024%2F05%2F12%2Fkendedes%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=KENDEDES%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2024%2F05%2F12%2Fkendedes%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=KENDEDES&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2024%2F05%2F12%2Fkendedes%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://social-plugins.line.me/lineit/share?url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2024%2F05%2F12%2Fkendedes%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2024/05/12/kendedes/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2024/05/12/kendedes/', 'KENDEDES', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2024/05/12/kendedes/">KENDEDES</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2024/05/12/kendedes/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Forum Sunda Sabuana Prawiro Daulat HASHIM DJOJOHADIKUSUMO sebagai Putra Adiluhung Sunda</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2023/06/11/forum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2023/06/11/forum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[HERMAN SUL-SEL]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Jun 2023 09:47:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<category><![CDATA[BERITA UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[KOMUNITAS]]></category>
		<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=58937</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tasikmalaya,WBN-Dalam rangkaian Acara Deklarasi Emak Emak 08 Prabowo for Presiden Se Priangan Timur, dirangkaikan juga pendaulatan Hashim Djoyohadikusumo yang didaulat Sebagai Adiluhung Putra Sunda Utama oleh Forum Sunda Sabuana sekaligus Diberi Anugerah Penghargaan Sebagai Pelestari dan Penyelamat Sejarah dan Budaya Indonesia oleh Yayasan lintas Budaya Nusantara mitra Prawiro Indonesia Garuda Merah Putih pada Jumat 10 ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2023/06/11/forum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda/">Forum Sunda Sabuana Prawiro Daulat HASHIM DJOJOHADIKUSUMO sebagai Putra Adiluhung Sunda</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tasikmalaya,WBN-Dalam rangkaian Acara Deklarasi Emak Emak 08 Prabowo for Presiden Se Priangan Timur, dirangkaikan juga pendaulatan Hashim Djoyohadikusumo yang didaulat Sebagai Adiluhung Putra Sunda Utama oleh Forum Sunda Sabuana sekaligus Diberi Anugerah Penghargaan Sebagai Pelestari dan Penyelamat Sejarah dan Budaya Indonesia oleh Yayasan lintas Budaya Nusantara mitra Prawiro Indonesia Garuda Merah Putih pada Jumat 10 Juni 2023, bertempat di Komplek Gebu Kab Tasikmalaya didalam rangkaian Acara Deklarasi Emak2 08 Prabowo for Presiden Se Priangan Timur.</p>
<p>Pemberian Penghargaan tersebut berupa pemberian Sertifikat dan Simbolik penyerahan Kujang Pusaka, Iket dan Baju Kasundaan, yang diberikan langsung oleh abah Anton Charliyan sebagai Ketua Umum Sunda Sabuana sekaligus Sekjen Prawiro IGMP dan Komjen ( P) Iwan Bule Sebagai Perwakilan Masyarakat Sunda.</p>
<p>Dalam acara itu disaksikan puluhan para tokoh Sunda yang hadir dlm acara tersebut seperti, Rd Amir M primajasa, Asep Sofari Msi Ketua DPRD Tasik , Mulyadi DPR RI , Rd Dicky Z Soekapoera, Okky Panglima Pendekar, Hadi P Gasantana, Ki Agung Pancaroba, Ki Endang Tarsono, Ki Jayeng Rana Panjalu , Rd Diding Cipatujah, Bunda Mery Subang , Abah Obby Subang, R Ipin Pajajaran Pusat, Rd Guntara Pangandaran , Ki Iwan Manonjaya, Ki Edi Galunggung , Ambu Apong Jahyang, Ki Ustad Cecep Cilogak, Ki Rino LAKRI, Bah Asep S LSI , Ki Deden Citiis, dan lain lain.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-58939" src="https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2023/06/IMG_20230611_173001-170x300.webp" alt="" width="170" height="300" srcset="https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2023/06/IMG_20230611_173001-170x300.webp 170w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2023/06/IMG_20230611_173001-581x1024.webp 581w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2023/06/IMG_20230611_173001-750x1322.webp 750w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2023/06/IMG_20230611_173001-871x1536.webp 871w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2023/06/IMG_20230611_173001-jpg.webp 1080w" sizes="auto, (max-width: 170px) 100vw, 170px" /></p>
<p>Abah Anton Charliyan dan Kang jend Ibul Ketika Dikonfirmasi tim redaksi kami dilapangan menyampaikan,&#8221;Atas Kesepakatan Para Tokoh dan Kasepuhan Kasundaan Jabar Banten kami sepakat Menganugrahi pak Hashim DJ Sebagai Adiluhung Putra Sunda Utama dengan Gelar Rakeyan Agung Winata Praja Jayadibuana ing Batu Ampar Galunggung.</p>
<p>Lebih lanjut,&#8221;jadi sekarang pak Hashim sudah Syah sebagai Urang Sunda dan Berhak dipanggil Sebagai Kang Hashim . Disamping itu atas Kiprahnya selama ini Sbg Pecinta Benda Seni, budaya dan Sejarah kami Apresiasi dengan memberi penghargaan Khusus sebagai Pelestari dan Penyelamat Benda-benda Sejarah dan Budaya Indonesia.</p>
<p>Kang Iwan bule juga menambahkan,&#8221; Memang beliau sangat layak dan Pantas Mendapat Anugrah tersebut Karena saya tahu persis begitu banyak Benda benda Sejarah yang bernilai tinggi beliau Selamatkan atas dasar kesadaran pribadi dan dengan Budget Pribadi juga.</p>
<p>R H Aming M dan Asep Sopari menegaskan,&#8221;diharapkan setelah pak Hasim Betul betul Resmi Sebagai Putra Sunda diharapkan bisa lebih memperhatikan sejarah dan Budaya Sunda dan lebih mencintai Tatar Sunda dan sebaliknya .</p>
<p>Selain Acara Deklarasi Emak emak Se Priangan Timur dalam rangka mendukung Prabowo for Presiden ini berlangsung dg sangat Antusias dan Penuh semangat.</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2023/06/11/forum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2023%2F06%2F11%2Fforum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Forum%20Sunda%20Sabuana%20Prawiro%20Daulat%20HASHIM%20DJOJOHADIKUSUMO%20sebagai%20Putra%20Adiluhung%20Sunda%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2023%2F06%2F11%2Fforum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Forum%20Sunda%20Sabuana%20Prawiro%20Daulat%20HASHIM%20DJOJOHADIKUSUMO%20sebagai%20Putra%20Adiluhung%20Sunda&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2023%2F06%2F11%2Fforum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://social-plugins.line.me/lineit/share?url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2023%2F06%2F11%2Fforum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2023/06/11/forum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2023/06/11/forum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda/', 'Forum%20Sunda%20Sabuana%20Prawiro%20Daulat%20HASHIM%20DJOJOHADIKUSUMO%20sebagai%20Putra%20Adiluhung%20Sunda', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2023/06/11/forum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda/">Forum Sunda Sabuana Prawiro Daulat HASHIM DJOJOHADIKUSUMO sebagai Putra Adiluhung Sunda</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2023/06/11/forum-sunda-sabuana-prawiro-daulat-hashim-djojohadikusumo-sebagai-putra-adiluhung-sunda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
