Dari Sikka Flores, Mo’an Teka Iku Sang Revolusioner Buta Huruf Pendobrak Feodalisme dan Kolonialisme

Oleh : Kornelius Moa Nita, S.Fil, 

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) yang pada masa koloniaslime menjadi bagian dari Sunda Kecil memiliki banyak tokoh pejuang yang memberontak terhadap kolonialisme Belanda. Di Pulau Flores, selain Marilonga di Ende, ada pula Moan Teka Iku di Maumere, Kabupaten Sikka. Moan Teka Iku adalah seorang pejuang akar rumput (grassroot) yang lahir dari kemiskinan dan ketidakadilan di jaman kolonial dan raja- raja lokal yang hidup dibawa kendali Belanda kala itu yang masuk ke Sikka pasca kekuasaan Portugis. Meskipun ia buta huruf karena tidak sekolah dan tidak memeluk agama Katolik (masih animisme) tapi uniknya ia sudah memiliki kesadaran yang tinggi dan visi misi yang jauh kedepan untuk membela rakyatnya dari ketidakadilan dan penindasan akibat Pajak 4 buah Kelapa per pohon di setiap musim panen, dan kerja paksa oleh kaum kolonialisme Belanda kala itu. Kontrasnya, bukan hanya melawan kolonialisme Belanda saja tetapi juga menentang raja-raja lokal yang pro Belanda dan ikut menindas rakyat.

Mo’an Teka yang lahir di desa Hubin- Wolomude, Kabupaten Sikka pada tahun 1800 an adalah anak dari Dua ( Ibu) Kotin dan Moan Bapak) Mitan. Ia bersama saudara kembarnya Moan IKU emudian menjadi yatim piatu setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Karena ayahnya adalah kepala kampung dan tana puan (tuan tanah), maka kemudian iMoan Teka diangkat menjadi Kapitan oleh raja Sikka.Tubuhnya pendek, kekar berotot berkulit hitam dan mengenakan sarung hitam dengan parang yang menjadi senjata saktinya selalu ia bawa.

Meskipun ia adalah Kapitan yang menjadi hirarki dari kerajaan Sikka, Ia mempunyai kaca mata berbeda dengan para raja pribumi dalam melihat penderitaan rakyat di kampungnya terkait Pajak 4 buah kelapa setiap pohon setiap musim panen yang mencekik leher rakyat miskin. Ia sangat geram menentang Pajak 4 buah kelapa tersebut dan melawan keras para raja yang menjadi kaki tangan Belanda. Sikap revolusinernya terus menyala-nyala di dalam dadanya terus menghasut rakyat agar tidak membayar pajak kelapa. Ia melakukan agitasi dan memprovokasi rakyat kecil di kampung-kampung untuk menolak dan melakukan perlawanan.

Mendengar Moan Teka Iku telah melakukan provokasi agar warga tidak membayar pajak Kelapa di berbagai kampung, maka para raja waktu itu yaitu Raja Sikka, Raja Nita, dan Raja Kangae .merasa geram. Raja Sikka kemudian memerintahkan atau mengundang Kapitan Moan Teka intuk datang menghadap raja mempertanggungjawabkan aksinya, namun permintaan itu samasekali tidak diindahkan oleh Moan Teka. Sikapnya yang sangat revolusioner memberontak melawan kekuasaan para raja dibawa kendali Pemerimtah Belanda tidak mempunyai tujuan khusus untuk merebut kekuasaan dari tangan para raja dan tidak untuk memperkaya diri tetapi bertujuan mulia melawan orang kulit putih (Belanda) yang datang berkuasa dan memerintah melalui tangan para raja di Sikka. Dendam dan kebenciannya sangat tinggi hingga mengatakan dengan tegas ” Daging Hitam saya sudah makan, saya mau makan lagi daging putih.” ( daging putih maksudnya tentara Belanda)

Fakta unik pertama untuk dicermati, Moan Teka Iku meski bukan turunan bangsawan, bukan seorang anak raja dan bukan kaum terdidik yang bersekolah di jaman Portugis dan Belanda, tetapi dengan keberanian yang membara, mental spiritual dan kharisma yang kuat mampu menyalakan api perlawanan, melakukan konsolidasi, dan membangun organisasi dengan menempatkan orang kepercayaannya di setiap kampung yang menjadi basis utamanya.

Dengan menunggang kudanya ia bersama prajurit-prajuriynya berjalan dari kampung ke kampung menggelar pertemuan dan mengobarkan semangat perlawanan terhadap Pajak yang memberatkan rakyat. Salah satu strategi untuk mempermudah pembangunan jaringan perjuangan, ia juga mengawini beberapa wanita dan melahirkan banyak anak, dari istri dan anak-anak yang dilahirkan membangun hubungan kawin mawin lagi dengan warga kampung lainnya sehingga jaringan politik Moan Teka Iku semakin kuat dan luas.

Semakin lama, barisan perlawanan Moan Teka Iku dan para pejuang gerilyawan alam yang hidup di hutan, gunung, lembah dan kampung-kampuang dengan logistik dari ladang sendiri membentuk jarimgan yang kuat di berbagai desa dari wilayah timur, wilayah tengah hingga wilayah utara dan barat yang melintasi daerah pegunungan, bukit, lembah dan sungai. Nama besar Moan Teka yang kala itu oleh orang Belanda dijuluki JENDERAL TEKA ( walau tidak ada pengelaman pendidikan militer) menjadi momok berbahaya dan menakutkan bagi para raja dan terutama para jenderal Belanda dan yang berkuasa di Flores. Karena terus melakukan perlawanan dengan manghasut rakyat tidak boleh bayar pajak kelapa dan tidak mau bekerjasama dengan raja raja di Sikka dan Belanda.

Puncak kemarahan Moan Teka Iku terhadap para raja yang mendukung Pajak 4 buah kelapa bagi Belanda, ia bersama laskarnya membakar kampung-kampung basis pendukung pajak kelapa yang dibekingi raja-raja, seperti Kampung di Nita, Koting, Beru di Maumere dan lain-lain. Ia juga akhirnya membakar gereja Katolik do Koting setelah bersitegang dengan pastor lantaran ada oknum bersenjata di dalam gereja yang berhasil menembak paha anak lelakinya dalam operasi tersebut. Pemberontakan atau perlawanan yang terjadi pada bulan itu, memantik kemarahan besar kompeni Belanda setelah menerima laporan dari para raja di Sikka dan juga melalui surat pastor Belanda di Sikka terkait serangan Jenderal Teka Iku.

Fakta unik kedua dari kisah nyata perjuangan Moan Teka Iku dan laskarnya, meski tidak pernah sekolah, tidak bisa menulis dan membaca, dan tidak pernah ikut latihan militer tetapi Moan Teka mampu menciptakan strategi untuk menghadapi serangan besar melawan Belanda yang telah mendengar pemberontakannya. Hal yang luar biasa, meski bukan seorang tentara, dan tidak mempunyai penasehat militer, Moan Teka bersama rekan-rekannya yang memegang moto “Lamen Tawa Tana” (pemuda yang lahir dari bumi) mampu membangun benteng pertahanan alamiia berupa beton berlapis dari bambu yang diisi dengan air untuk menangkis serangan meriam dan peluru Belanda dan sekutunya.

Selain itu, Ia juga menggali parit-parit dan lubang-lubang untuk menyelamatkan diri dikala keadaan darurat. Ada beberapa benteng yang menjadi markas pertahanan antara lain di desa Hubin-Wolomude, Baluele yang terletak di atas perbukitan dan juga di belakang Gunung Iligai dan Gunung Ilin Goran yang terletak di Desa Iligai, Selain itu, ia bersama pasukannya juga membekali diri dengan senjata berupa pedang, parang, pisau. Anak Panah, tombak, dan juga senjata laras panjang seperti bedil dan meriam meriam kecil hasil rampasan dari kaki tangan Belanda.

Perang Kompeni I dan Kompeni II

Fakta ketiga yang terunik adalah kegigihannya dalam mempertahankan Nian Tana ( Bumi) Sikka dari penjajah Belanda. Akibat dari sikap kepala batunya yang konsisten dengan penderitaan rakyat den tidak mengenal kompromi, perang Kompeni I pun pecah pada bulan Mei 1904, tentara Belanda yang didukung dengan pasukan dari para raja yang memihak kebijakan Pajak Belanda dengan persenjataan lengkap mulai memburuh dan menyerang benteng-benteng pertahanan Laskar Rakyat Moan Teka Iku. Perang sengitpun terjadi dengan jatuh banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Karena medan berbukit dan bergunung dan hutan yang sulit dijangkau tentara Belanda, maka mereka tidak berhasil mengalahkan laskar rakyat dan tidak berhasil menangkap Moan Teka.

Setelah tidak berhasil mengalahkan laskar Moan Teka Iku, Belanda dan sekutunya tidak tinggal diam, mereka kemudian mengatur strategi kedua, yaitu perang Kompeni Ii pada bulan Juni 1904. Perang ini menjadi perang terbesar di Flores dan satu-satunya perang besar melawan Belanda di Flores. Menghadapi militan Jenderal Teka Iku yang buta huruf, Belanda yang sudah kewalahan, terancam dan mulai cemas, akhirnya mengerahkan kekuatan penuh dari luar Sikka, mereka mendatangkan bantuan bala bantuan II kapal perang dari Makasar, tambahan pasukan dari Bugis Makasar, Sulawesi pasukan dari Residen Timor, Pasukan dari Residen Flores Timur dan dari Nggela. Semua pasukan itu bersama tentara Belanda dan sekutunya di Maumere mempersiapkan diri dengan amunisi dan persenjataan lengkap dengan meriam besar yang berhulu ledak tinggi siap mengepung dan membumihanguskan Teka Iku. Mengetahui itu, Moan Teka Ikupun tidak gentar sedikitpun. Ia sudah siap melawan dengan kekuatan penuh meski kalah dalam perbandingan kekuatan senjata dan jumlah pasukan. Ia bersama laskar rakyatmya dengan modal senjata sederhana dan semangat mengusir penjajah siap berperang.

Belanda dengan seluruh pasukannya mulai berperang untuk menangkap atau membunuh Moan Teka Iku. Seluruh kampung yang menjadi basis pasukan Teka dibumi hangus, benteng benteng pertahanan di Hubin-Wolomude dan Baluele digempur habis.. Baku tembak pun tidak terhindar lagi. Gempuran demi gempuran menghujani jantung pertahanan Teka Iku. Karena minim strategi, pengalaman tempur dan persenjataan, korban jiwa pun berjatuhan, tidak sedikit pula dari pihak Belanda. Belanda berhasil menguasai benteng benteng pertahanan Moan Teka Iku, namun tidak berhasil menangkapnya hidup atau mati. Moan Teka Iku dan pasukannya telah lari bersembunyi.

Terjebak Skenario Perundingan Berujung Pemasungan

Fakta keenpat yang kontas dan unik, Belanda dengan kekuatan penuh dari segala arah sudah menang perang, tetapi tidak berhasil menangkap Teka Iku kemudian mengatur starteg baru yang lazim dipakai untuk membungkam para pejuang Nusantara, seperti Pangeran Diponegoro di Tana Jawa, yaitu dengan perundingan. Belanda yang sudah kelimpungan atau gerah, membujuk ajudan Moan Teka yang bernama Moan Pitang dalam sebuah pesta pernikahan anak Moan Pitang. Tentara Belanda meminta dengan akal bulus agar Pitang merayu Moan Teka berunding. Moan Teka Iku dengan segala keluguhan, kepolosan, kerendah hati dan kejujuranlnya, termakan dan mau berunding.

Bersama Moan Pitang akhirnya ia pergi berunding dengan pihak Belanda di atas Kapal Perang dari Makasar yang berlabuh di Teluk Maumere. Niat baiknya untuk berunding akhirnya mengantar tubuhnya di pasung di atas kapal tersebut oleh tentara Belanda.. Pasca Moan Teka ditangkap, para pejuang yang masih hidup di gunung melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda yang mengejar mereka. di wilayah perbukitan kampung Sikka. Ketika tentara Belanda hendak mendaki memburu, loyalis Teka menggulingkan batu-batu besar yang mencabut nyawa serdadu Belanda. Namun kemudian mereka kalah, setelah Belanda mendatangkan pasukan yang lebih banyak.

Meski Moan Teka diadili dan hatus membayar pampasan perang 3000 gulden dan ditahan pasung, tentara Belanda yang berkuasa penuh masih merasa tidak aman kalau-kalau terjadi pemberontakan lagi. Untuk mengantisipasi itu, maka tentara Belanda kemudian menurunkan Pajak 4 buah kelapa yang memicu pemberontakan Teka Iku dan membangun kembali seluruh kampung warga yang dibakar saat perang, kecuali kampung Wolomude yang tidak dibangun. Pasca ditangkap, Moan Teka Iku kemudian dibawa dengan kapal Belanda ke Makasar Bumi Angin Mamiri, Sulawesi untuk di penjara di sana. Dan selanjutnya ia dibuang lagi di Sawalunto, Bukit Tinggi ,Sumatera Barat Bumi Melayu.

Moan Teka adalah anak Tana Sikka sang revolusipner akar rumput buta huruf yang memiliki jiwa heroiseme , patriotisme, dan anti feodaliame kolonialisme – kapitalisne akhirnya menghilang tanpa jejak meninggalkan pasukannya yang menipis dan rakyatnya yang loyal di kampung-kampung kecil yang merindukan perubahan dan kemerdekaan di bumi leluhur. Ia pergi untuk selamanya dalam kegelapan di balik awan hitam sejarah dan tenggelam di samudera biru putih bersama gelapnya tirai zaman hingga Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 sampqi saat ini.

Meski dikabarkan meninggal dunia di Sawalunto, sejarawan belum membuktikan di mana persis makam dan tulang belulang sang revolusioner itu. Pihak pemerintah Belanda pun belum memberikan informasi pasti terhadap tawanan perang asal Bumi Nyiur melambai itu. Di Kanpung halamannya Wolomude pun tidak terlihat makam dan potretnya, kecuali sebuah patung besar di pintu masuk Kota Maumere, Kabupaten Sikka yang berdiri tegak menjadi ikon mengurai sejarah perjuangannya membela rakyat tertindas di Bumi Sikka, Bumi Flores, NTT tanah persada Nusantara.

Mengapa Belum Jadi Pahlawan Nasional?

Pasca pembuangannya ke Makasar kemudian ke Sawalunto, puluhan tahun lamanya nama sang revolusioner Moan Teka Iku tidak kedengaran dan diketahui oleh siapapun termasuk generasi muda Sikka, kecuali kerabat dekatnya. Tidak ada satu pun sejarahwan dan ilmuwan iyang menulis atau para guru atau pemimpin politik yang mengisahkan kisah heroik perjuangan Moan Teka, dkk. Ia seperti menjadi sosok yang menakutkan dan mengancam. Namanya hilang lenyap dari sejarah perang besar di Sikka, Flores yang membawa perubahan besar. Entah mengapa dan ada apa? Tak seorang pun tahu.

Namun demikian, kebenaran dan fakta sejarah tak lekang oleh panas tak pudar oleh hujan badai dan gelombang. Sejarah tak pernah mati karena suara para roh pahlawan tetap menderu. Seiring perputatan roda waktu yang menggelinding, dan seiring tokoh-tokoh daerah dan Pemerintah Indonesia memberikan penghargaan gelar kehormatan bagi para pahlawan yang berjasa bagi negara, munculah nama Moan Teka Iku yang diprakarsai oleh Yayasan Moan Teka Iku pimpinan Paulus J. Gesing di Jakarta yang adalah keturunan langsung Moan Teka Iku. Ia mulai memunculkan nama Moan Teka Iku ( sang dwi tunggal) melalui beberapa buku yang menggali sejarah yang terkubur. Buku-buku itu antara lain berjudul, Perang Rakyat Flores Moan Teka Iku 1900-1904, Manajemen Kepemimpinan Manejerial dan Memory Perjuangan dan Pengabdian Moan Teka Iku yang juga berisi kumpulan dokumen persyaratan pengajuan Moan Teka yang diajukan ke Pemerintah Kabupaten Sikka dan Pemerintah Provinsi NTT. Buku berisi dokumen sejarah penting ini diterbitkan oleh Dinas Sosial Kabupaten Sikka usai sebuah seminar yang membedah perjuangan Moan Teka Iku di Maumere tahun 2005 yang dihadiri bupati, mantan bupati dan dosen serta sejarawan Sikka.

Dokumen dan sejumlah persyaratan kepahlawanan Moan Teka Iku telah diproses oleh Pemerintah dan DPRD Sikka dan diajukan ke Pemerintah Provinsi NTT di era Gubernur Piet Alexander Tallo. Namun hingga Gubernur Frans Lebu Raya, Gubernur Viktor Laiskodat sampai saat ini Melky Laka Lena di era Presiden Prabowo Subiyanto. nama Moan Teka Iku masih belum terlihat diradar pencalonan pahlawan nasional. Ironisnya, nama-nama calon pahlawan yang ditetapkan jadi pahlawan nasional lebih banyak muncul dari generasi baru masa kini yang dedikasi dan amal baktinya dinilai lebih memenuhi syarat. Pekerjaan rumah ini masih menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi NTT, Bupati Kabupaten Sikka dan para tokoh politik NTT di Senayan dalam membangun keran komunikasi yang masih tertutup.

Moan Teka Iku sebagaimana para pahlawan lainnya, seperti Sonbay di Pulau Timor, Umbu Putik Marisi di Pulau Sumba dan Marilonga di Ende telah menjadi ikon perlawanan di daerah dalam mengusir penjajah Belanda menuju Indonesia Merdeka pada 1945. Karya besar dan dedikasi, pengabdian dan amal bakti bagi rakyat dan bangsa di zamannya juga harus dilihat dan diberikan penghargaan yang layak dan pantas, tanpa mereduksi nilai heroisitas dan patriotisme berdasarkan kebutuhan politik semata.

Penulis : Kornelius Moa Nita, S.Fil, Jurnalis NTT, dan Ketua Forum Peduli Pembangunan Daerah ( FPPD ) Nusantara.

Share It.....