<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:series="https://publishpress.com/"
	>

<channel>
	<title>ADAT Archives - Warisan Budaya Nusantara.com</title>
	<atom:link href="https://warisanbudayanusantara.com/category/adat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://warisanbudayanusantara.com/category/adat/</link>
	<description>Tajam dalam Fakta</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Jul 2026 14:11:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2022/12/cropped-cropped-LOGO-WBN-32x32.png</url>
	<title>ADAT Archives - Warisan Budaya Nusantara.com</title>
	<link>https://warisanbudayanusantara.com/category/adat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kata Tokoh Adat dan Akademisi Untuk Program Ka Sao Pemda Ngada</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2026/07/01/tokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2026/07/01/tokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurel Doo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2026 13:56:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[ADAT]]></category>
		<category><![CDATA[PEMERINTAH DAERAH]]></category>
		<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=80241</guid>

					<description><![CDATA[<p>NGADA, WBN — Keberlanjutan program pelestarian adat &#8220;Ka Sao&#8221; di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Program yang diintegrasikan melalui kebijakan Murni Kasih di bawah kepemimpinan Bupati Raymundus Bena dan Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu ini dinilai mampu memperkuat akar budaya sekaligus mendorong sektor pariwisata daerah. Salah satu tokoh adat, ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/07/01/tokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada/">Kata Tokoh Adat dan Akademisi Untuk Program Ka Sao Pemda Ngada</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>NGADA, WBN —</strong> Keberlanjutan program pelestarian adat &#8220;Ka Sao&#8221; di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mendapat respons positif dari berbagai kalangan.</p>
<p>Program yang diintegrasikan melalui kebijakan Murni Kasih di bawah kepemimpinan Bupati Raymundus Bena dan Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu ini dinilai mampu memperkuat akar budaya sekaligus mendorong sektor pariwisata daerah.</p>
<p>Salah satu tokoh adat, Martinus Pea, Ketua Suku sekaligus pemilik Sao Kopa Rade dan Sao Leka Bero di Desa Tiwu Toda, Kecamatan Golewa mengatakan secara terbuka kesan dan penilaiannya atas program Pemda Ngada.</p>
<p>Saat menggelar upacara adat Ka Sao yang dihadiri langsung oleh jajaran pemerintah daerah pada Selasa (30/6/2026), Martinus menyatakan bahwa kehadiran pemerintah memberikan rasa pengakuan yang nyata bagi masyarakat adat.</p>
<p>&#8220;Program ini sangat baik dan kami mendukung agar terus dilanjutkan oleh siapapun pemimpin daerah ini ke depan. Melalui kebijakan ini, pemerintah menunjukkan pemahaman bahwa adat budaya adalah akar dari masyarakat Ngada. Kami merasa pemerintah tahu cara menghargai dan menyatu dengan tradisi kami,&#8221; ujar Martinus.</p>
<p>Secara teknis, Program Murni Kasih berfungsi sebagai payung kebijakan sosial budaya Pemerintah Kabupaten Ngada. Lewat program ini, komunitas adat mendapatkan pengakuan hukum, upaya pelestarian yang terstruktur, hingga bantuan fasilitasi finansial yang terukur untuk mendukung pelaksanaan ritual adat.</p>
<p><strong>Sinkronisasi Sektor Pariwisata</strong></p>
<p>Rangkuman media ini, sebelumnya Bidang Kebudayaan Kabupaten Ngada menjelaskan, dukungan terhadap ritus Ka Sao bukan sekadar formalitas, melainkan langkah strategis daerah untuk mengakui eksistensi budaya dan hak asal-usul suku-suku di Ngada.</p>
<p>Lebih jauh, program ini ditargetkan mampu merekonstruksi kampung-kampung adat yang interaksinya erat dengan pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya. Langkah hilirisasi budaya ini juga dinilai selaras dengan visi kementerian di tingkat pusat yang mendorong keterlibatan aktif pemerintah daerah dalam ekosistem kebudayaan nasional.</p>
<p>Apresiasi senada turut disampaikan oleh tim akademisi dari Universitas Brawijaya Malang dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sedang melakukan penelitian di Ngada. Mereka adalah Dr. Nia Kurniasi, Dr. Rismawan Sumarwan, dan Fajar Hidayat, M.Si.</p>
<p>&#8220;Adat budaya di Ngada luar biasa karena tradisinya masih sangat kental dan lestari. Kami beruntung bisa menyaksikan langsung keunikan ini di tengah agenda riset kami,&#8221; kata perwakilan tim akademisi tersebut.</p>
<figure id="attachment_80246" aria-describedby="caption-attachment-80246" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-medium wp-image-80246" src="https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot_20260701_220219_Editor-Lite-300x181.jpg" alt="Akademisi Universitas Brawijaya Malang dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sedang melakukan penelitian di Ngada : Dr. Nia Kurniasi, Dr. Rismawan Sumarwan, Fajar Hidayat, M.Si." width="300" height="181" srcset="https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot_20260701_220219_Editor-Lite-300x181.jpg 300w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot_20260701_220219_Editor-Lite.jpg 664w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-80246" class="wp-caption-text">Akademisi Universitas Brawijaya Malang dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sedang melakukan penelitian di Ngada : Dr. Nia Kurniasi, Dr. Rismawan Sumarwan, Fajar Hidayat, M.Si.</figcaption></figure>
<p>Menurut mereka, kolaborasi antara komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi dan kehadiran dari pemerintah daerah merupakan praktik baik yang patut dipertahankan demi keberlanjutan warisan budaya takbenda di Indonesia.</p>
<p>&#8220;Di Jawa sejumlah pemimpin mengambil peran posisi sama terhadap segmen kebudayaan. Memang harus demikian jika pemerintah memandang adat budaya adalah aset yang harus disentuh secara nyata. Pembangunan dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang saling membutuhkan dan menguatkan&#8221;, tutup mereka.</p>
<p><strong>WBN</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2026/07/01/tokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F07%2F01%2Ftokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Kata%20Tokoh%20Adat%20dan%20Akademisi%20Untuk%20Program%20Ka%20Sao%20Pemda%20Ngada%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F07%2F01%2Ftokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Kata%20Tokoh%20Adat%20dan%20Akademisi%20Untuk%20Program%20Ka%20Sao%20Pemda%20Ngada&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F07%2F01%2Ftokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://line.me/R/share?text=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F07%2F01%2Ftokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/07/01/tokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2026/07/01/tokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada/', 'Kata%20Tokoh%20Adat%20dan%20Akademisi%20Untuk%20Program%20Ka%20Sao%20Pemda%20Ngada', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/07/01/tokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada/">Kata Tokoh Adat dan Akademisi Untuk Program Ka Sao Pemda Ngada</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2026/07/01/tokoh-adat-dan-akademisi-itb-brawijaya-apresiasi-program-ka-sao-pemda-ngada/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rahasia Beras Singkong Cireundeu: Mandiri Pangan Sejak Zaman Kolonial hingga Upaya Menjaga Tradisi</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/27/rahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/27/rahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2026 04:36:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[ADAT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=80160</guid>

					<description><![CDATA[<p>CIMAHI – Tim Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat yang dipimpin oleh Irjen Pol. (Purn) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, MPKN., atau yang akrab disapa Abah Anton Charliyan, melaksanakan kunjungan silaturahmi budaya ke Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Abah Anton hadir didampingi oleh rombongan pengurus MASDA Jawa Barat, di antaranya ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/27/rahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi/">Rahasia Beras Singkong Cireundeu: Mandiri Pangan Sejak Zaman Kolonial hingga Upaya Menjaga Tradisi</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>CIMAHI – Tim Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat yang dipimpin oleh Irjen Pol. (Purn) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, MPKN., atau yang akrab disapa Abah Anton Charliyan, melaksanakan kunjungan silaturahmi budaya ke Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.<br />
Abah Anton hadir didampingi oleh rombongan pengurus MASDA Jawa Barat, di antaranya Uwa Deden, Bah Iwan, Raden Dicky Z. Sastradikusumah, Rd. Berry, Jayengrana Wirasantana, serta jajaran pengurus lainnya. Rombongan disambut hangat oleh Panitren Adat Abah Asep Abbas, Ais Pangampih Abah Widi, Kang Didi (Bidang Budaya), dan Kang Domba (Bidang Seni). Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi, menggali potensi budaya, serta mengidentifikasi berbagai permasalahan masyarakat adat demi pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan. 24 Juni 2026</p>
<p>Berdasarkan hasil pemantauan dan dialog tim MASDA Jabar di lapangan, berikut adalah profil serta dinamika terkini dari Kampung Adat Cireundeu:</p>
<p><strong>Sejarah Singkat dan Filosofi Hidup</strong></p>
<p>Kampung Adat Cireundeu pertama kali dibuka oleh Mama Aki Haji Ali sekitar abad ke-19 Masehi. Nama &#8220;Cireundeu&#8221; diambil dari pohon Reundeu yang dahulu tumbuh subur di kawasan tersebut. Dari nama ini lahir istilah “Sareundeu, Sabobot, Saigelan” yang bermakna kompak, guyub, satu pikiran, satu perkataan, satu perbuatan, serta menjunjung tinggi gotong royong.<br />
Masyarakat Cireundeu dikenal sebagai pewaris nilai-nilai karuhun (leluhur) Sunda yang kuat. Mereka memegang teguh filosofi hidup: &#8220;Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman&#8221;, yang berarti mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas adat. Ada pula prinsip hidup: “Kajeun teu nyawah asal boga pare, teu boga pare asal boga beas, teu boga beas asal bisa nyangu, teu bisa nyangu asal bisa dahar, henteu bisa dahar asal bisa kuat” (Biarpun tidak punya sawah asal punya padi, tidak punya padi asal punya beras, tidak punya beras asal bisa menanak nasi, tidak bisa menanak nasi asal bisa makan, tidak bisa makan asal bisa kuat).</p>
<p><strong>Ketahanan Pangan Unik: Rasi (Beras Singkong)</strong></p>
<p>Sistem ketahanan pangan di Cireundeu sangat unik dan berbasis singkong. Sejak masa kolonial sekitar tahun 1918, masyarakat setempat telah berpindah konsumsi pangan ke Rasi (Beras Singkong) karena kontur tanah yang kering dan sulit pengairan. Teknologi pengolahan rasi ini kemudian disempurnakan pada tahun 1924 oleh Ibu Sepuh Omah Asnanah, menghasilkan hidangan singkong yang sangat lezat dan pulen, sebagaimana yang dicicipi oleh tim MASDA Jabar. Berpijak pada aturan adat (pamali), warga dilarang keras untuk mengonsumsi nasi dari padi.</p>
<p>Luas Wilayah dan Jumlah Warga</p>
<p>Kawasan adat Cireundeu terletak di wilayah selatan Cimahi pada ketinggian 700 hingga 900 Mdpl. Total luas kawasan adat beserta lingkungan penyangganya mencapai 64 hektare, yang terbagi menjadi empat zona:</p>
<p>1. Kawasan permukiman adat (2 Ha)</p>
<p>2. Leuweung Larangan / Hutan Titipan (3 Ha) – Kawasan sakral yang tidak boleh ditebang demi menjaga mata air.</p>
<p>3. Leuweung Tutupan / Hutan Lindung (35 Ha) – Hutan produksi terbatas; pohon yang ditebang wajib ditanam kembali.</p>
<p>4. Leuweung Garapan (24 Ha) – Area pertanian dan perkebunan aktif masyarakat.</p>
<p>Saat ini, komunitas Cireundeu dihuni oleh sekitar 1.500 warga (360 Kepala Keluarga). Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 60 KK (130 warga) yang menjadi inti penegak adat (pengkuh adat) yang mengamalkan ajaran kepercayaan Sunda Wiwitan, merujuk pada pakem Ageman ajaran Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Sementara warga lainnya tetap membaur aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.</p>
<p><strong>Tantangan Status Tanah Ulayat dan Modernisasi Bangunan</strong></p>
<p>Kendati memiliki wilayah adat yang dijaga turun-temurun, saat ini status kepemilikan tanah di Cireundeu sebagian besar telah berubah menjadi milik pribadi masing-masing warga. Akibatnya, Kampung Adat Cireundeu secara hukum belum memiliki Tanah Ulayat komunal yang diakui sebagai aset bersama milik adat, kecuali kawasan Leuweung Larangan.<br />
Tantangan lain muncul dari sektor arsitektur. Rumah asli masyarakat Cireundeu yang dahulunya bermaterialkan alam (kayu, bambu, atap ijuk, tanpa tembok dan listrik) kini sudah tergerus arus modernisasi. Bangunan asli tersebut hampir tidak tersisa karena digantikan oleh rumah modern. Diperlukan perhatian serius dari pemerintah dan pengamat budaya untuk merekonstruksi kembali miniatur atau kawasan khusus bangunan asli agar arsitektur tradisional tersebut tetap lestari.</p>
<p><strong>Infrastruktur, Ekonomi, dan Seni Budaya</strong></p>
<p>Akses jalan menuju Kampung Adat Cireundeu saat ini sudah dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat, namun kondisinya banyak yang rusak. Diperlukan perbaikan jalan lingkungan, penataan drainase pertanian, serta pembenahan fasilitas pendukung wisata edukasi.<br />
Untuk mata pencaharian, sebagian besar warga bekerja sebagai petani, perajin UMKM olahan singkong, seniman, dan pemandu wisata. Saban tahun, mereka konsisten menggelar upacara adat besar seperti Seren Taun (Tutup Taun 1 Suro) dan Hajat Bumi. Kesenian tradisional seperti Karinding, Kacapi Suling, Angklung Buncis, Degung, dan kaulinan barudak juga terus dihidupkan oleh generasi muda.</p>
<p><strong>Harapan Masyarakat Adat</strong></p>
<p>Melalui dialog bersama MASDA Jabar, masyarakat adat Cireundeu menitipkan beberapa harapan komparatif, antara lain:</p>
<p>1. Bantuan peremajaan perangkat alat kesenian tradisional beserta kostum panggungnya (Gamelan, Degung, Kendang Pencak, Angklung Buncis, dan Kacapi Suling).</p>
<p>2. Pengadaan bibit tanaman produktif bernilai ekonomi tinggi untuk area garapan (seperti Buah Naga Hitam, Melon Inggris, Pala, Kawung, Kemiri), serta bibit pohon keras (Albasiah, Jati Belanda) untuk penghijauan Leuweung Tutupan, lengkap dengan ketersediaan pupuknya.</p>
<p>EDITING N&#8217;DRA</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/27/rahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F27%2Frahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Rahasia%20Beras%20Singkong%20Cireundeu%3A%20Mandiri%20Pangan%20Sejak%20Zaman%20Kolonial%20hingga%20Upaya%20Menjaga%20Tradisi%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F27%2Frahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Rahasia%20Beras%20Singkong%20Cireundeu%3A%20Mandiri%20Pangan%20Sejak%20Zaman%20Kolonial%20hingga%20Upaya%20Menjaga%20Tradisi&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F27%2Frahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://line.me/R/share?text=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F27%2Frahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/27/rahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/27/rahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi/', 'Rahasia%20Beras%20Singkong%20Cireundeu%3A%20Mandiri%20Pangan%20Sejak%20Zaman%20Kolonial%20hingga%20Upaya%20Menjaga%20Tradisi', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/27/rahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi/">Rahasia Beras Singkong Cireundeu: Mandiri Pangan Sejak Zaman Kolonial hingga Upaya Menjaga Tradisi</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/27/rahasia-beras-singkong-cireundeu-mandiri-pangan-sejak-zaman-kolonial-hingga-upaya-menjaga-tradisi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Abah Anton Kunjungi Kampung Adat Kuta: Warga Harapkan Solusi Air Bersih dan Penguatan Lembaga Adat</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/20/abah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/20/abah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2026 02:49:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ADAT]]></category>
		<category><![CDATA[PEMERINTAH DAERAH]]></category>
		<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=80107</guid>

					<description><![CDATA[<p>Media WBN&#124;CIAMIS – Kampung Adat Kuta, salah satu warisan budaya Sunda yang masih mempertahankan tradisi leluhur secara ketat, ternyata masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Selain kesulitan mendapatkan pasokan air yang memadai, masyarakat adat juga belum memiliki tanah ulayat bersama serta sejumlah fasilitas adat yang menjadi kebutuhan penting bagi keberlangsungan kehidupan sosial dan budaya mereka. Hal ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/20/abah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat/">Abah Anton Kunjungi Kampung Adat Kuta: Warga Harapkan Solusi Air Bersih dan Penguatan Lembaga Adat</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://warisanbudayanusantara.com" target="_blank">Media WBN|CIAMIS</a> – Kampung Adat Kuta, salah satu warisan budaya Sunda yang masih mempertahankan tradisi leluhur secara ketat, ternyata masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Selain kesulitan mendapatkan pasokan air yang memadai, masyarakat adat juga belum memiliki tanah ulayat bersama serta sejumlah fasilitas adat yang menjadi kebutuhan penting bagi keberlangsungan kehidupan sosial dan budaya mereka.</p>
<p>Hal tersebut terungkap saat Ketua Umum Majelis Adat Sunda Jawa Barat, Irjen Pol (Purn) Dr. H. Anton Charliyan atau yang akrab disapa Abah Anton, melakukan kunjungan silaturahmi dan survei lapangan ke Kampung Adat Kuta, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Kamis (18/6/2026).</p>
<p>Dalam kunjungan tersebut, Abah Anton didampingi Kang Aip, Kang Epi Lo Ciamis, dan staf pendamping Kang Dindin Mauludin. Rombongan diterima langsung oleh Tetua Adat Ki Warja, Wakil Tetua Adat Abah Udin, Sekretaris Adat Firman, serta Ketua DKM Abah Didi.</p>
<p>Menurut para sesepuh adat, nama &#8220;Kuta&#8221; diyakini berasal dari kata &#8220;Mahkota&#8221;. Berdasarkan cerita turun-temurun, wilayah ini merupakan cikal bakal lokasi yang pernah direncanakan menjadi pusat Keraton Galuh pada masa Prabu Ki Ajar Sukaresi sekitar abad ke-10.</p>
<p>Saat ini Kampung Adat Kuta dihuni sekitar 97 kepala keluarga yang seluruhnya beragama Islam. Kampung ini berada di wilayah paling timur Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Luas kawasan adat mencapai sekitar 185 hektare, dengan 31 hektare di antaranya merupakan Leuweung Tutupan atau hutan larangan yang dijaga secara ketat.</p>
<p>Namun, di tengah kekayaan budaya dan alam yang dimiliki, masyarakat masih menghadapi kesulitan besar dalam sektor pengairan. Pertanian yang sebagian besar berupa sawah tadah hujan dan lahan huma belum dapat dikelola secara optimal karena keterbatasan sumber air. Bahkan saat musim kemarau, warga kerap mengalami kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan memasak.</p>
<p>Meski demikian, masyarakat tetap mampu menghasilkan gula aren dan gula semut berkualitas tinggi secara tradisional. Produksi bahkan meningkat setelah mendapatkan pendampingan teknis dari Willy, yang disebut sebagai salah satu tenaga pendamping program pemberdayaan ekonomi masyarakat.</p>
<p>Selain persoalan air, kondisi infrastruktur juga menjadi perhatian. Sebagian ruas jalan menuju Kampung Adat Kuta masih mengalami kerusakan, terutama jalur dari arah Kawali. Sementara itu, jalan di dalam kawasan kampung sepanjang sekitar 1,3 kilometer juga membutuhkan perbaikan serius.</p>
<p>Kampung Adat Kuta dikenal sebagai &#8220;Kampung Sarebu Pamali&#8221; karena masih memegang teguh berbagai aturan adat. Beberapa di antaranya adalah larangan memakamkan jenazah di dalam kawasan kampung adat, larangan membangun rumah berbahan semen, larangan mengenakan pakaian hitam saat memasuki hutan larangan, serta sejumlah aturan adat lainnya yang masih dijalankan hingga kini.</p>
<p>Masyarakat juga rutin melaksanakan berbagai upacara adat tahunan, seperti Hajat Suguhan setiap 5 Safar, Hajat Bumi pada 1 Muharam, dan Hajat Babarit sebagai tradisi tolak bala.<br />
Dari hasil dialog bersama tokoh adat dan warga, terdapat lima persoalan utama yang dinilai perlu mendapat perhatian pemerintah.</p>
<p>Pertama, belum adanya legalitas tanah ulayat yang dapat dikelola bersama oleh masyarakat adat. Kedua, keterbatasan sarana pengairan yang menghambat produktivitas pertanian. Ketiga, kerusakan jalan di kawasan kampung adat sepanjang sekitar 1.300 meter. Keempat, belum tersedianya berbagai fasilitas adat seperti Bale Ageung, surau, leuit (lumbung padi), rumah pusaka, gerbang adat, serta perlunya revitalisasi Monumen Kalpataru. Kelima, perlunya program penghijauan dan penguatan ekonomi berbasis tanaman produktif seperti aren, kirai, kopi, pala, durian, kelapa, dan berbagai tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi.<br />
Masyarakat Adat Kuta berharap aspirasi tersebut dapat menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Ciamis, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta Kementerian Kebudayaan.</p>
<p>Di akhir kunjungannya, Abah Anton menyampaikan harapan warga agar Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), dapat berkunjung langsung ke Kampung Adat Kuta. Menurut warga, hingga saat ini kampung adat tersebut belum pernah menerima kunjungan resmi dari gubernur Jawa Barat sejak masa kepemimpinan gubernur-gubernur sebelumnya.<br />
&#8220;Kami berharap Pak Gubernur KDM dapat datang langsung melihat kondisi masyarakat dan potensi besar Kampung Adat Kuta, sehingga berbagai kebutuhan yang ada dapat segera mendapat perhatian,&#8221; ujar Abah Anton menutup (RED)</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/20/abah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F20%2Fabah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Abah%20Anton%20Kunjungi%20Kampung%20Adat%20Kuta%3A%20Warga%20Harapkan%20Solusi%20Air%20Bersih%20dan%20Penguatan%20Lembaga%20Adat%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F20%2Fabah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Abah%20Anton%20Kunjungi%20Kampung%20Adat%20Kuta%3A%20Warga%20Harapkan%20Solusi%20Air%20Bersih%20dan%20Penguatan%20Lembaga%20Adat&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F20%2Fabah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://line.me/R/share?text=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F20%2Fabah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/20/abah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/20/abah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat/', 'Abah%20Anton%20Kunjungi%20Kampung%20Adat%20Kuta%3A%20Warga%20Harapkan%20Solusi%20Air%20Bersih%20dan%20Penguatan%20Lembaga%20Adat', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/20/abah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat/">Abah Anton Kunjungi Kampung Adat Kuta: Warga Harapkan Solusi Air Bersih dan Penguatan Lembaga Adat</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/20/abah-anton-kunjungi-kampung-adat-kuta-warga-harapkan-solusi-air-bersih-dan-penguatan-lembaga-adat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wae Rebo Menaklukkan Dunia</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/17/wae-rebo-menaklukkan-dunia/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/17/wae-rebo-menaklukkan-dunia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2026 15:46:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[ADAT]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Wae rebo]]></category>
		<category><![CDATA[Manggarai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=80088</guid>

					<description><![CDATA[<p>MANGGARAI, WBN -– Di tengah pesatnya perkembangan dunia modern yang dipenuhi gedung pencakar langit, teknologi canggih, dan kota-kota metropolitan yang gemerlap, sebuah kampung adat sederhana di pegunungan Flores justru berhasil mencuri perhatian dunia. Kampung itu bernama Wae Rebo, sebuah desa adat yang tersembunyi di ketinggian Pegunungan Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Indonesia ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/17/wae-rebo-menaklukkan-dunia/">Wae Rebo Menaklukkan Dunia</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MANGGARAI, WBN</strong> -– Di tengah pesatnya perkembangan dunia modern yang dipenuhi gedung pencakar langit, teknologi canggih, dan kota-kota metropolitan yang gemerlap, sebuah kampung adat sederhana di pegunungan Flores justru berhasil mencuri perhatian dunia.</p>
<p>Kampung itu bernama Wae Rebo, sebuah desa adat yang tersembunyi di ketinggian Pegunungan Manggarai, Nusa Tenggara Timur.</p>
<p>Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Indonesia di sektor pariwisata internasional. Desa Adat Wae Rebo secara resmi dinobatkan sebagai desa tercantik nomor dua di dunia dalam daftar bergengsi &#8220;World&#8217;s Most Beautiful Small Towns 2024&#8221; yang dirilis oleh media perjalanan internasional ternama, Time Out.</p>
<p>Pengakuan tersebut bukan hanya sebuah penghargaan biasa. Ini merupakan pengakuan dunia terhadap kekayaan budaya, keindahan alam, serta kearifan lokal Indonesia yang mampu bersaing dengan destinasi-destinasi terbaik dari berbagai belahan dunia.</p>
<p>Di saat banyak negara berlomba membangun objek wisata modern bernilai miliaran dolar, Wae Rebo justru memikat dunia melalui kesederhanaannya.</p>
<p>Sebuah desa kecil.</p>
<p>Sebuah budaya tua.</p>
<p>Sebuah warisan leluhur.</p>
<p>Namun mampu membuat dunia berdecak kagum.</p>
<p><strong>Surga di Atas Awan Flores</strong></p>
<p>Wae Rebo bukanlah destinasi wisata yang dapat dicapai dengan mudah. Letaknya berada di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.</p>
<p>Untuk mencapai desa ini, wisatawan harus menempuh perjalanan darat yang cukup panjang sebelum melanjutkan trekking selama beberapa jam melewati hutan tropis yang masih alami.</p>
<p>Namun justru di situlah letak keistimewaannya.</p>
<p>Perjalanan menuju Wae Rebo bukan sekadar perjalanan wisata.</p>
<p>Ia adalah sebuah petualangan.</p>
<p>Ia adalah sebuah proses.</p>
<p>Ia adalah pengalaman yang perlahan mengajarkan manusia untuk kembali menghargai alam.</p>
<p>Ketika langkah terakhir mencapai puncak perbukitan dan hamparan lembah terbuka di hadapan mata, para pengunjung akan disambut pemandangan yang sulit dilupakan sepanjang hidup.</p>
<p>Tujuh rumah adat berbentuk kerucut berdiri megah di tengah padang rumput hijau.</p>
<p>Kabut tipis menari di antara pegunungan.</p>
<p>Udara segar memenuhi paru-paru. Langit biru berpadu dengan hijaunya alam Manggarai. Tak heran jika banyak wisatawan menyebut Wae Rebo sebagai &#8220;Surga di Atas Awan.&#8221;</p>
<p>Mbaru Niang, Mahakarya Arsitektur Nusantara</p>
<p>Daya tarik utama Wae Rebo adalah rumah adat khas yang disebut Mbaru Niang.</p>
<p>Rumah berbentuk kerucut raksasa ini menjadi simbol identitas masyarakat adat Manggarai yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.</p>
<p>Dari kejauhan, Mbaru Niang tampak sederhana.</p>
<p>Namun ketika memasuki bangunannya, wisatawan akan menyadari bahwa rumah tersebut merupakan karya arsitektur tradisional yang luar biasa.</p>
<p>Dibangun tanpa teknologi modern, rumah-rumah ini mampu bertahan menghadapi perubahan cuaca pegunungan yang ekstrem.</p>
<p>Setiap bagian bangunan memiliki filosofi mendalam yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.</p>
<p>Di era modern ketika banyak budaya lokal mulai tergerus zaman, masyarakat Wae Rebo tetap mempertahankan warisan leluhur mereka dengan penuh kebanggaan.</p>
<p>Mereka menjaga tradisi bukan karena terpaksa.</p>
<p>Mereka menjaganya karena memahami bahwa identitas adalah kekuatan.</p>
<p>Ketika Dunia Belajar dari Wae Rebo</p>
<p>Pengakuan internasional terhadap Wae Rebo sesungguhnya membawa pesan penting bagi dunia. Bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan budaya.</p>
<p>Bahwa modernisasi tidak harus menghapus tradisi. Dan bahwa warisan leluhur dapat menjadi sumber kesejahteraan jika dijaga dengan baik.</p>
<p>Wae Rebo menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat adat mampu hidup berdampingan dengan perkembangan pariwisata tanpa kehilangan jati dirinya.</p>
<p>Di desa ini, wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto.</p>
<p>Mereka datang untuk belajar. Belajar menghormati budaya. Belajar hidup sederhana. Belajar menghargai alam. Belajar memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan.</p>
<p><strong>Kebanggaan NTT</strong></p>
<p>Predikat desa tercantik nomor dua di dunia tentu menjadi kebanggaan besar bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.</p>
<p>Selama ini Flores telah dikenal dunia melalui Taman Nasional Komodo yang mendunia.</p>
<p>Kini Wae Rebo hadir memperkuat posisi Flores sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia bahkan dunia.</p>
<p>Pengakuan tersebut sekaligus membuktikan bahwa NTT memiliki potensi wisata yang luar biasa besar.</p>
<p>Dari pantai-pantai eksotis, bukit-bukit savana yang menawan, kekayaan budaya yang unik hingga masyarakat yang ramah dan bersahaja.</p>
<p>Semuanya menjadikan NTT sebagai permata pariwisata Indonesia yang semakin bersinar di mata dunia.</p>
<p>Saatnya Indonesia Berbangga, keberhasilan Wae Rebo bukan hanya kemenangan masyarakat Manggarai. Bukan hanya kemenangan Nusa Tenggara Timur. Melainkan kemenangan seluruh rakyat Indonesia.</p>
<p>Ini adalah bukti bahwa kekayaan budaya Nusantara mampu berdiri sejajar dengan destinasi terbaik dunia.</p>
<p>Bahwa desa kecil di pegunungan Flores mampu membuat dunia menoleh. Bahwa Indonesia memiliki lebih banyak keajaiban daripada yang selama ini diketahui banyak orang.</p>
<p>Mengapa Anda Harus Mengunjungi Wae Rebo?</p>
<p>Karena tidak semua tempat di dunia mampu membuat Anda berhenti sejenak dan mengagumi kehidupan.</p>
<p>Karena tidak semua destinasi wisata menawarkan pengalaman yang menyentuh hati.</p>
<p>Karena tidak semua perjalanan mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap alam dan budaya.</p>
<p>Datanglah ke Wae Rebo.</p>
<p>Rasakan udara pegunungannya. Nikmati kehangatan masyarakat adatnya. Saksikan keindahan Mbaru Niang secara langsung. Dengarkan suara alam yang menenangkan.</p>
<p>Dan biarkan diri Anda memahami mengapa dunia menempatkan desa ini sebagai salah satu desa tercantik di muka bumi.</p>
<p>Wae Rebo bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah wajah Indonesia yang sesungguhnya. Sederhana, indah, ramah, dan penuh makna.</p>
<p>Ketika dunia mencari keindahan, mereka menemukannya di pegunungan Flores.</p>
<p>Dan ketika dunia berbicara tentang desa tercantik, nama Wae Rebo kini berdiri dengan bangga di antara yang terbaik di planet ini.</p>
<p>Asis DN<br />
Kontributor WBN SUMBA</p>
<p>Editor visual: ndra</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/17/wae-rebo-menaklukkan-dunia/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F17%2Fwae-rebo-menaklukkan-dunia%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Wae%20Rebo%20Menaklukkan%20Dunia%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F17%2Fwae-rebo-menaklukkan-dunia%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Wae%20Rebo%20Menaklukkan%20Dunia&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F17%2Fwae-rebo-menaklukkan-dunia%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://line.me/R/share?text=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F17%2Fwae-rebo-menaklukkan-dunia%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/17/wae-rebo-menaklukkan-dunia/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/17/wae-rebo-menaklukkan-dunia/', 'Wae%20Rebo%20Menaklukkan%20Dunia', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/17/wae-rebo-menaklukkan-dunia/">Wae Rebo Menaklukkan Dunia</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/17/wae-rebo-menaklukkan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ensiklopedia &#8220;Di&#8217;i Sa&#8217;o&#8221; Terbit, Peneliti Tegaskan Ngada Tidak Anut Sistem Kawin Masuk</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/05/ensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/05/ensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurel Doo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2026 10:19:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA UMUM]]></category>
		<category><![CDATA[ADAT]]></category>
		<category><![CDATA[PEMERINTAH DAERAH]]></category>
		<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=79942</guid>

					<description><![CDATA[<p>NGADA, WBN — Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Bidang Kebudayaan menggelar diskusi draf buku bertajuk Ensiklopedi Ritual Perkawinan Di&#8217;i Sa&#8217;o dalam Budaya Matrilineal Suku Ngadha Flores di Bajawa, Kabupaten Ngada, pada Kamis (4/6/2026). Diskusi yang menghadirkan sang penulis, Dr. Firmina Angela Nai, M.Si, beserta para tokoh adat ini menjadi ruang ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/05/ensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk/">Ensiklopedia &#8220;Di&#8217;i Sa&#8217;o&#8221; Terbit, Peneliti Tegaskan Ngada Tidak Anut Sistem Kawin Masuk</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>NGADA, WBN</strong> — Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Bidang Kebudayaan menggelar diskusi draf buku bertajuk Ensiklopedi Ritual Perkawinan Di&#8217;i Sa&#8217;o dalam Budaya Matrilineal Suku Ngadha Flores di Bajawa, Kabupaten Ngada, pada Kamis (4/6/2026).</p>
<p>Diskusi yang menghadirkan sang penulis, Dr. Firmina Angela Nai, M.Si, beserta para tokoh adat ini menjadi ruang krusial untuk meluruskan kekeliruan tafsir yang mengakar di masyarakat terkait tradisi pernikahan etnis Ngadha.</p>
<p>Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Ngada, Paschalia Maria Dolorosa Moi, menjelaskan bahwa penyusunan buku ini merupakan inisiatif penulis yang didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan. Proses riset dan penggarapannya sendiri telah berjalan selama dua tahun.</p>
<p>&#8220;Buku ini menyajikan data akurat yang membawa ruang pembaruan bagi pemahaman budaya kita. Pemahaman masyarakat terhadap sistem matrilineal etnis Ngadhu Bhaga Ngada selama ini masih sangat terbatas. Kehadiran karya ini sangat membantu kita untuk mengenal akar budaya yang sesungguhnya,&#8221; ujar Paschalia.</p>
<p>Selain buku, rangkaian program ini juga mencakup pembuatan film dokumenter bertema serupa.</p>
<p><strong>Bukan &#8220;Kawin Masuk&#8221;</strong></p>
<p>Selama ini, sistem kekerabatan matrilineal pada suku Ngadha sering kali disalahartikan oleh publik, bahkan oleh generasi muda Ngada sendiri sebagai sistem &#8220;kawin masuk&#8221;.</p>
<figure id="attachment_79944" aria-describedby="caption-attachment-79944" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-79944" src="https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2026/06/Screenshot_20260605_181507_Editor-Lite-300x200.jpg" alt="Penulis bersama Bidang Kebudayaan Ngada dan sejumlah tokoh budaya foto bersama di depan Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada" width="300" height="200" srcset="https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2026/06/Screenshot_20260605_181507_Editor-Lite-300x200.jpg 300w, https://warisanbudayanusantara.com/wp-content/uploads/2026/06/Screenshot_20260605_181507_Editor-Lite.jpg 565w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-79944" class="wp-caption-text">Penulis bersama Bidang Kebudayaan Ngada dan sejumlah tokoh budaya foto bersama di depan Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada</figcaption></figure>
<p>Melalui draf ensiklopedia ini, Firmina Angela Nai menegaskan bahwa kebudayaan Ngadha sama sekali tidak mengenal konsep kawin masuk.</p>
<p>&#8220;Tradisi yang benar adalah Di&#8217;i Sa&#8217;o yang berarti tinggal di rumah (pihak perempuan). Konsep ini sangat jauh berbeda dengan stigma kawin masuk. Karena salah interpretasi, implementasinya di lapangan pun ikut keliru dan fatalnya hal ini telanjur meluas menjadi pemahaman umum,&#8221; kata Firmina.</p>
<p>Firmina menambahkan, Di&#8217;i Sa&#8217;o memiliki aturan main yang ketat, meliputi ruang lingkup, tata acara, batasan jumlah hanya satu anak perempuan terpilih, tinggalnya pun di rumah adat. Tradisi Di&#8217;i Sa&#8217;o memiliki cara pandang dan praktek adat yang spesifik, berbeda jauh dari tradisi kawin masuk.</p>
<p>Ia menjamin isi buku ini bukan merupakan asumsi pribadi, melainkan hasil penelitian panjang yang melibatkan tokoh-tokoh adat dari berbagai wilayah di Ngada, mulai dari Bajawa, Jerebu&#8217;u, Langa, hingga Golewa.</p>
<p><strong>Ancaman Arus Globalisasi</strong></p>
<p>Apresiasi terhadap pelurusan sejarah ini juga datang dari salah satu tokoh adat Ngadhu Bhaga Ngada, Arnoldus Meka. Menurutnya, pergeseran pemahaman dan praktik tradisi kini menjadi ancaman nyata akibat derasnya arus modernisasi.</p>
<p>&#8220;Zaman terus berkembang dan pengetahuan budaya harus dikembalikan pada jati dirinya agar tidak rusak total digerus globalisasi. Melalui diskusi ini, kita ditegaskan kembali bahwa etnis Ngada tidak menganut sistem kawin masuk. Ada syarat, ketentuan, dan rambu-rambu adat dalam Di&#8217;i Sa&#8217;o yang harus dihormati,&#8221; tutur Arnoldus.</p>
<p>Di akhir diskusi, Firmina berpesan agar generasi muda Ngada terus memperkuat literasi budaya. Penguatan literasi ini dinilai menjadi benteng utama agar generasi penerus tidak kehilangan arah dan keliru dalam memahami jati diri serta identitas asli leluhur mereka.</p>
<p><strong>WBN</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/05/ensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F05%2Fensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Ensiklopedia%20%22Di%27i%20Sa%27o%22%20Terbit%2C%20Peneliti%20Tegaskan%20Ngada%20Tidak%20Anut%20Sistem%20Kawin%20Masuk%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F05%2Fensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Ensiklopedia%20%22Di%27i%20Sa%27o%22%20Terbit%2C%20Peneliti%20Tegaskan%20Ngada%20Tidak%20Anut%20Sistem%20Kawin%20Masuk&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F05%2Fensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://line.me/R/share?text=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F06%2F05%2Fensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/05/ensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/05/ensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk/', 'Ensiklopedia%20%22Di%27i%20Sa%27o%22%20Terbit%2C%20Peneliti%20Tegaskan%20Ngada%20Tidak%20Anut%20Sistem%20Kawin%20Masuk', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/05/ensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk/">Ensiklopedia &#8220;Di&#8217;i Sa&#8217;o&#8221; Terbit, Peneliti Tegaskan Ngada Tidak Anut Sistem Kawin Masuk</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2026/06/05/ensiklopedia-dii-sao-terbit-peneliti-tegaskan-suku-ngada-tidak-anut-sistem-kawin-masuk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rahasia Dibalik Puncak Keli Ndota Nida Kecamatan Detukeli Dan Kedaulatan Pangan</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/30/keli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/30/keli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurel Doo]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2026 06:35:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>
		<category><![CDATA[ADAT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=79752</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Aurelius Do&#8217;o Puncak Gunung Keli Koja atau Keli Ndota di Kecamatan Detukeli Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan narasi tua tentang pengorbanan dan ketahanan pangan. Bagi Masyarakat Adat Nida Kecamatan Detukeli, Keli Koja atau yang kemudian berganti nama menjadi Keli Ndota, bukan sekadar bentang alam, melainkan panggung sakral tempat seorang ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/30/keli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende/">Rahasia Dibalik Puncak Keli Ndota Nida Kecamatan Detukeli Dan Kedaulatan Pangan</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Aurelius Do&#8217;o</p>
<p><strong>Puncak</strong> Gunung Keli Koja atau Keli Ndota di Kecamatan Detukeli Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan narasi tua tentang pengorbanan dan ketahanan pangan.</p>
<p>Bagi Masyarakat Adat Nida Kecamatan Detukeli, Keli Koja atau yang kemudian berganti nama menjadi Keli Ndota, bukan sekadar bentang alam, melainkan panggung sakral tempat seorang putri jelita menjelma menjadi padi demi menyelamatkan manusia dari kelaparan.</p>
<p>Sosok itu dihormati sebagai Ine Pare yang secara harfiah berarti &#8220;Ibu Padi&#8221;.</p>
<p>Media Warisan Budaya Nusantara (WBN) merangkum bagaimana mitos luhur ini dijaga ketat lewat ritual, hukum adat, dan ruang-ruang rahasia yang tidak boleh disentuh sembarang orang.</p>
<p><strong>Teologi Langit dan Bum</strong>i &#8212;<em> &#8220;Du&#8217;a Gheta Lulu Wula, Ngga&#8217;e Ghale Wena Tana</em>&#8220;.</p>
<p>Dalam kosmologi masyarakat Nida, struktur tertinggi alam semesta dikendalikan oleh kekuatan agung yang seimbang. Masyarakat adat menyebutnya <em>“Du’a Gheta Lulu Wula, Ngga’e Ghale Wena Tana”</em> yakni Sang Ilahi yang menguasai langit sekaligus bumi beserta seluruh isinya. Di bawah naungan spiritual inilah, kisah Ine Pare dirawat.</p>
<p>Adat setempat memegang teguh prinsip <em>“Welu No Pi Li, Rebhe No Pebe Lape”, s</em>euntai manifesto adat yang menegaskan bahwa seluruh warisan tradisi harus dilestarikan sepanjang masa, pantang diubah, dan tabu untuk dihentikan.</p>
<p><strong>Jejak Rasional di Balik Mitos</strong></p>
<p>Bagi telinga modern, kisah manusia berganti wujud menjadi tanaman pangan mungkin terdengar seperti dongeng pengantar tidur. Namun, bagi komunitas adat Nida, narasi ini adalah sejarah yang hidup.</p>
<p>Indikator empirisnya terpahat jelas di lapangan. Segala wujud kebendaan terkait kisah ini masih kokoh berdiri yakni :</p>
<p>Situs Geografis: Gunung Keli Koja (Keli Ndota) yang menjadi latar utama kejadian.</p>
<p>Artefak Fisik: Peninggalan bebatuan kuno dan pilar-pilar batu yang menandai lokasi kejadian.</p>
<p>Ritus yang Hidup: Tahapan ritual pertanian yang masih dipraktikkan tanpa putus hingga hari ini.</p>
<p>Keberadaan bukti-bukti fisik dan ritus berkala ini menjadi jangkar rasionalitas yang membuat ingatan kolektif warga adat terhadap Ine Pare tetap utuh, menolak larut oleh zaman.</p>
<p><strong>Rahasia Puncak Keli Koja</strong></p>
<p>Dikisahkan, pada zaman dahulu, seorang putri berwajah elok berjalan mendaki Puncak Keli Koja bersama enam orang saudara laki-lakinya. Di atas puncak yang sunyi itulah peristiwa sakral terjadi.</p>
<p>Di tengah ancaman kelaparan yang hebat, sang putri memilih mengorbankan dirinya. Tubuhnya melebur dan menjelma menjadi padi. Tubuhnya menjadi sumber kehidupan dan menu makanan utama bagi manusia di sekitarnya.</p>
<p>Menariknya, identitas asli sang putri tetap menjadi misteri yang rapat. Para Mosalaki (pemimpin adat) bersama barisan pemangku adat Nida memiliki kode etik ketat untuk tidak membuka kisah ini secara telanjang ke publik. Pantang menyebut nama asli manusia sakral yang pernah hidup di Keli Koja, terutama nama asli sang putri jelita.</p>
<p>Penyebutan kata &#8220;Dewi&#8221; atau Ine (Ine berarti Ibu) merupakan bentuk penghormatan tertinggi sekaligus batas terjauh yang boleh diucapkan oleh masyarakat luar.</p>
<p><strong>Simbol Kesalehan Lokal</strong></p>
<p>Kisah Ine Pare dalam tradisi Nida menegaskan satu hal, yakni Masyarakat Nida secara khusus, Masyarakat Kecamatan Detukeli Kabupaten Ende, Masyarakat Flores dan NTT memiliki sistem ketahanan pangan yang berbasis pada spiritualitas dan kesalehan lokal.</p>
<p>Di balik butir-butir padi yang dipanen setiap tahun, ada nilai penghormatan mendalam terhadap alam, kepemimpinan adat, dan figur perempuan sebagai sumber kehidupan.</p>
<p>Melindungi mitos Ine Pare berarti melindungi kedaulatan pangan dan identitas kebudayaan agar tidak lekang oleh arus modernisasi.</p>
<p><strong>Ine Pare Mahkota Hidup dari Keli Ndota</strong></p>
<p>Sebuah bukit di Flores menjaga memori tentang pangan, identitas, dan simbol negara yang terpatri di dada Garuda. Nama aslinya Keli Koja. Namun, waktu mengubah sebutannya menjadi Keli Ndota.</p>
<p>Hingga hari ini tetap berdiri tegak, menjadi pelindung bagi Kampung Nida dan deretan kampung adat lain di sekitarnya. Di bawah bayang-bayang Keli Ndota, sebuah filosofi tua tentang bertahan hidup terus dirawat oleh Masyarakat Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.</p>
<p>Bagi masyarakat setempat, Keli Ndota bukan sekadar bentang alam. Ia adalah saksi bisu dari lahirnya penghormatan terhadap padi. Sesuatu yang di tingkat nasional bertransformasi menjadi simbol sakral.</p>
<p>Padi, bagaimanapun, adalah mahkota hidup bangsa ini. Kehadirannya tidak pernah kasatmata sebagai pengisi piring semata. Di dada Burung Garuda, bulir-bulir emas itu terpancang abadi, bersanding bersama Bintang, Rantai, Beringin, Banteng, dan Kapas.</p>
<p>Ia melambangkan keadilan sosial, sebuah fundamen kesejahteraan yang akarnya menghujam jauh ke desa-desa adat seperti Nida di Kecamatan Detukeli.</p>
<p>Penghormatan terhadap pangan ini mewujud nyata dalam ingatan kolektif masyarakat Ende melalui sosok mistis bernama Ine Pare (Ibu Padi). Kehadirannya begitu sentral, hingga pemerintah daerah mengabadikannya menjadi nama sebuah gedung pertemuan besar di pusat Kota Ende: Gedung Ine Pare.</p>
<p>Pemberian nama itu jelas bukan sekadar kosmetik tata kota atau asal ada. Ia adalah monumen pengingat bahwa dari tanah Flores yang berbukit-bukit, dari Kampung Nida yang terisolir, pangan adalah fondasi peradaban dan kedaulatan yang tidak boleh dilupakan.</p>
<p>Ya, ! Sebuah fragmen sejarah yang terkubur di balik deretan perkampungan tua dengan segala ketertinggalan, kembali ke permukaan. Di balik ketenangannya, dibalik Kecamatan Detukeli dengan segala keterbatasan, tersimpan kisah yang selama ini hanya hidup dalam ingatan lisan para tetua.</p>
<p>Melalui penelusuran ingatan, lembar demi lembar sejarah harus terus dirajut kembali.</p>
<p>Kesaksian dari masa lalu yang tidak tersentuh catatan tertulis, namun ingatan dari generasi ke generasi tetap menyala. Generasi harus menjadi penjaga memori peradaban.</p>
<p>Berbeda dengan wilayah pesisir, dinamika di pedalaman Detukeli sangat dipengaruhi oleh adat budaya. Masyarakat adalah penjaga warisan budaya, warisan Ingatan dan warisan nilai-nilai sakral.</p>
<p>Tulisan ini adalah catatan kecil terhadap edisi yang diturunkan Media WBN berjudul &#8220;Kisah Manusia Ibu Padi Atau Ine Pare Dalam Tradisi Nida, Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende Flores-NTT, karya Jurnalis Aurelius Do&#8217;o.</p>
<p><em>Sebuah karya jurnalistik yang kemudian berhasil masuk dalam &#8220;Perpustakaan Digital Budaya Indonesia&#8221;. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI) adalah platform daring gotong-royong yang mengumpulkan, mengelola, dan mendokumentasikan berbagai Warisan Budaya Tradisional Indonesia. Platform ini diakses melalui situs Budaya Indonesia dan diakui sebagai inisiatif penting oleh UNESCO.</em></p>
<p>Penulis: Aurelius Do’o, Jurnalis</p>
<p>&nbsp;</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/30/keli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F05%2F30%2Fkeli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Rahasia%20Dibalik%20Puncak%20Keli%20Ndota%20Nida%20Kecamatan%20Detukeli%20Dan%20Kedaulatan%20Pangan%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F05%2F30%2Fkeli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Rahasia%20Dibalik%20Puncak%20Keli%20Ndota%20Nida%20Kecamatan%20Detukeli%20Dan%20Kedaulatan%20Pangan&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F05%2F30%2Fkeli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://line.me/R/share?text=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F05%2F30%2Fkeli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/30/keli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/30/keli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende/', 'Rahasia%20Dibalik%20Puncak%20Keli%20Ndota%20Nida%20Kecamatan%20Detukeli%20Dan%20Kedaulatan%20Pangan', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/30/keli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende/">Rahasia Dibalik Puncak Keli Ndota Nida Kecamatan Detukeli Dan Kedaulatan Pangan</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2026/05/30/keli-ndota-dan-pengorbanan-catatan-ine-pare-dalam-tradisi-nida-kecamatan-detukeli-ende/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kunjungi Kampung Naga, Majelis Adat Sunda Jabar Serap Aspirasi Terkait Ancaman Banjir dan Pelestarian Adat</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/27/kunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/27/kunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2026 21:43:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[ADAT]]></category>
		<category><![CDATA[PEMERINTAH DAERAH]]></category>
		<category><![CDATA[Abah Anton Charliyan]]></category>
		<category><![CDATA[kampung naga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=78694</guid>

					<description><![CDATA[<p>MEDIA WARISAN BUDAYA NUSANTARA TASIKMALAYA – Ketua Umum Majelis Adat Sunda Jawa Barat (MASDA Jabar), Abah Anton Charliyan, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kampung Adat Naga, Desa Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (26/4/2026). Dalam pertemuan tersebut, para tokoh adat menyampaikan sejumlah keprihatinan mendalam terkait kondisi lingkungan dan fasilitas di kampung adat yang kian mengkhawatirkan. Pertemuan yang berlangsung ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/27/kunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat/">Kunjungi Kampung Naga, Majelis Adat Sunda Jabar Serap Aspirasi Terkait Ancaman Banjir dan Pelestarian Adat</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://warisanbudayanusantara.com" target="_blank" rel="noopener">MEDIA WARISAN BUDAYA NUSANTARA </a><br />
<strong>TASIKMALAYA</strong> – Ketua Umum Majelis Adat Sunda Jawa Barat (MASDA Jabar), Abah Anton Charliyan, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kampung Adat Naga, Desa Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (26/4/2026). Dalam pertemuan tersebut, para tokoh adat menyampaikan sejumlah keprihatinan mendalam terkait kondisi lingkungan dan fasilitas di kampung adat yang kian mengkhawatirkan.</p>
<p>Pertemuan yang berlangsung hangat dalam suasana &#8220;ngariung&#8221; tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting Kampung Naga, di antaranya Sesepuh Abah Tajudin, Pemangku Adat Bah Ucu, serta perwakilan pemuda (nonoman) Kang Aceng dan Kang Aep.<br />
Ancaman Banjir dan Kerusakan Lingkungan<br />
Isu utama yang mencuat adalah ancaman banjir kiriman dari Sungai Ciwulan yang melintasi kawasan tersebut. Anton Charliyan mengungkapkan bahwa pendangkalan sungai yang terjadi bertahun-tahun telah menyebabkan luapan air sering merusak lahan garapan warga.</p>
<p>&#8220;Kondisinya cukup mengkhawatirkan. Warga berharap adanya pengerukan dan pendalaman sungai sepanjang 1 kilometer, atau minimal peninggian tanggul setinggi 0,5 meter guna membendung luapan air saat curah hujan tinggi,&#8221; ujar Abah Anton.<br />
Selain infrastruktur sungai, warga juga mengusulkan perluasan penghijauan di bantaran kali dan penguatan irigasi sawah yang saat ini mengalami penyempitan akibat material banjir.<br />
Kondisi Rumah Adat Memprihatinkan<br />
Selain masalah alam, warga mengeluhkan kondisi fisik bangunan adat. Harga material ijuk untuk atap rumah yang kini melambung tinggi membuat warga kesulitan melakukan perbaikan. Akibatnya, banyak atap yang bocor dan menyebabkan kayu penyangga rumah mulai melapuk.</p>
<p>Kerusakan juga mulai merambah ke fasilitas umum seperti Leuit (lumbung padi), Pacilingan (toilet umum), Mushola, hingga Saung Lisung. Meski demikian, masyarakat Kampung Naga tetap memegang teguh prinsip adat untuk tidak meminta-minta bantuan secara langsung.</p>
<p>&#8220;Bagi masyarakat Naga, meminta itu pantangan. Namun, mereka terbuka terhadap uluran tangan yang tulus dan ikhlas, selama bantuan tersebut tidak bertentangan dengan tradisi adat yang ada,&#8221; tambah Anton.</p>
<p>Harapan Revitalisasi Ekonomi<br />
Untuk meningkatkan kesejahteraan, Abah Tajudin mengusulkan adanya program revitalisasi pertanian melalui penanaman komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti lada, kopi, melon Inggris, hingga gaharu dengan metode modern seperti green house tanpa merusak keseimbangan alam.</p>
<p>Sementara itu, perwakilan pemuda, Kang Aceng dan Kang Aep, menyoroti pentingnya pengembangan sektor peternakan ayam dan domba garut. Mereka berharap pemerintah dapat membantu akses permodalan dan memutus rantai pemasaran yang selama ini dikuasai bandar agar harga jual petani bisa lebih kompetitif.<br />
&#8220;Kami berharap aspirasi ini dapat sampai ke telinga para pemangku kebijakan di Gedung Sate. Perlu langkah konkret dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjaga keberlangsungan Kampung Naga sebagai salah satu warisan budaya Sunda yang tak ternilai,&#8221; pungkas Abah Anton.</p>
<p>(Hendra)</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/27/kunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F04%2F27%2Fkunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Kunjungi%20Kampung%20Naga%2C%20Majelis%20Adat%20Sunda%20Jabar%20Serap%20Aspirasi%20Terkait%20Ancaman%20Banjir%20dan%20Pelestarian%20Adat%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F04%2F27%2Fkunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Kunjungi%20Kampung%20Naga%2C%20Majelis%20Adat%20Sunda%20Jabar%20Serap%20Aspirasi%20Terkait%20Ancaman%20Banjir%20dan%20Pelestarian%20Adat&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F04%2F27%2Fkunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://line.me/R/share?text=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F04%2F27%2Fkunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/27/kunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/27/kunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat/', 'Kunjungi%20Kampung%20Naga%2C%20Majelis%20Adat%20Sunda%20Jabar%20Serap%20Aspirasi%20Terkait%20Ancaman%20Banjir%20dan%20Pelestarian%20Adat', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/27/kunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat/">Kunjungi Kampung Naga, Majelis Adat Sunda Jabar Serap Aspirasi Terkait Ancaman Banjir dan Pelestarian Adat</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/27/kunjungi-kampung-naga-majelis-adat-sunda-jabar-serap-aspirasi-terkait-ancaman-banjir-dan-pelestarian-adat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Labolewa Nagekeo : Roh Budaya Ikat Perdamaian Ferdinandus Dhosa dan Thobias Dega</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/16/78340/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/16/78340/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurel Doo]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2026 07:36:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[HUKUM]]></category>
		<category><![CDATA[ADAT]]></category>
		<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=78340</guid>

					<description><![CDATA[<p>Media Warisan Budaya Nusantara Rabu 15 April 2026, Kampung Nebe, Desa Labolewa Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur, mencatat sejarah positif penyelesaian perkara dengan kearifan budaya. Roh sakral budaya hadir mengikat perdamaian untuk kebaikan. Pendekatan budaya yang memiliki makna positif dan mendalam dalam menciptakan keadilan yang manusiawi dan kontekstual, dijunjung sebagai instrumen penyelesaian ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/16/78340/">Labolewa Nagekeo : Roh Budaya Ikat Perdamaian Ferdinandus Dhosa dan Thobias Dega</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Media Warisan Budaya Nusantara</strong></span></p>
<p>Rabu 15 April 2026, Kampung Nebe, Desa Labolewa Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur, mencatat sejarah positif penyelesaian perkara dengan kearifan budaya. Roh sakral budaya hadir mengikat perdamaian untuk kebaikan.</p>
<p>Pendekatan budaya yang memiliki makna positif dan mendalam dalam menciptakan keadilan yang manusiawi dan kontekstual, dijunjung sebagai instrumen penyelesaian sengketa, pemulihan hubungan untuk mewujudkan keadilan atau Restorative Justice.</p>
<p>Disaksikan oleh masyarakat setempat, pemerintah tingkat terbawah Kepala Dusun, BPD serta perwakilan TNI Polri dan sejumlah jurnalis insan pers, digelar upacara perdamaian penuh khikmad secara budaya adat istiadat antara Ferdinandus Dhosa (42) Warga Boamaso dengan Thobias Dega (66) Warga Nebe.</p>
<p>Acara perdamaian difasilitasi oleh Pemerintah Desa melalui Dusun Lambo III dan Dusun Lambo IV.</p>
<p>Sebelumnya, antara Ferdinandus dan Thobias sempat terjadi perselisihan pada 14 Maret 2026, bermula dari ternak sapi masuk merumput padi  sawah milik Ferdinandus.</p>
<p>Berawal dari peristiwa tersebut, reaksi dan emosi spontan pun tidak terhindar, hingga terjadi insiden gesekan lapangan. Buntut dari peristiwa, Thobias memutuskan mempolisikan Ferdinandus Dhosa ke meja hukum Polres Nagekeo di Mbay.</p>
<p>Suasana perkampungan mencekam, saling diam, terjadi ketegangan sosial, proses hukum terus berjalan, para pihak dipanggil memberikan keterangan oleh pihak kepolisian Polres Nagekeo.</p>
<p>Kepada wartawan, Rabu (15/4), Ferdinandus menuturkan, di tengah proses hukum yang berjalan, dirinya terus merefleksikan gesekan peristiwa yang dipicu oleh emosi spontan lapangan.</p>
<p>Ia akhirnya memutuskan mendatangi  kediaman Thobias dengan etika adat, menyampaikan permohonan maaf dan sesal atas kejadian lapangan yang mengakibatkan kerenggangan tali temali kekeluargaan, sosial, adat dan budaya.</p>
<p>Sementara itu Thobias kepada wartawan menyampaikan bahwa, pada mulanya ia meragukan niat kedatangan Ferdinandus ke rumahnya. Tetapi setelah mencermati beberapa saat, ia memutuskan menyambut kedatangan Ferdinandus yang didampingi sang istri ke rumahnya.</p>
<p>&#8220;Pada awal Ferdin bersama istri datang ke rumah, saya masih ragu untuk bertemu. Tetapi setelah mereka lama menunggu, saya memutuskan untuk menyambut kedatangan. Sebagai umat Katolik, sebelum memasuki Perayaan Kamis Putih, saya sangat gelisah waktu itu. Saya bertanya  dalam hati, oh Tuhan apakah saya bisa masuk ke gereja untuk ikut Misa Perayaan Kamis Putih, sedangkan kami tidak berdamai dengan sesama . Saya sampai telepon anak yang Pastor bertugas di Brazil. Tetapi selanjutnya justeru pada masa-masa itulah Ferdin datang ke rumah saya dan dia mengakui kesalahan, menyesali dan meminta maaf. Maka saya percaya ini semua adalah jalan Tuhan, alam dan juga leluhur&#8221;, ungkap Thobias.</p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Inti Kesepakatan Perdamaian</strong></span></p>
<p>Pantauan Media WBN (15/4), acara dirangkai dengan penandatanganan bersama Berita Acara Perdamaian.</p>
<p>Berikut poin-poin penting Berita Acara :</p>
<p>1. Ferdinandus Dhosa mengakui kesalahan dan berjanji tidak mengulangi kesalahan serupa.</p>
<p>2. Masing-masing pihak menyatakan berdamai dan saling memaafkan secara kekeluargaan dan secara budaya.</p>
<p>3. Masing-masing pihak menyatakan tidak saling mengajukan tuntutan hukum pidana maupun perdata dan bersepakat mengakhiri perkara.</p>
<p>4. Thobias Dega menyatakan menarik laporan di Polres Nagekeo dan tidak melanjutkan perkara.</p>
<p>5. Berita acara perdamaian dijadikan sebagai dasar bagi Aparat Penegak Hukum (APH) Republik Indonesia untuk menghentikan Penyelidikan dan Penuntutan perkara.</p>
<p>Kesepakatan juga diperkuat dengan tanda tangan para saksi, diantaranya, Krispianus Satu, Antonius Dhesa, Matias Mapa, Bernadus Polu, Misraim Fay, Bertholomeus Leu Mengi, Yohanes Leornadi Masa Paga.</p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Pesan Perdamaian</strong></span></p>
<p>Kapolres Nagekeo melalui Bhabinkamtibmas Desa Labolewa, Brigpol Bertholomeus Leu Mengi, menyampaikan agar momen perdamaian yang diikat dengan tata acara budaya tersebut harus dijadikan sebagai momentum refleksi besar bagi masyarakat1 dalam ber1pembangunan.</p>
<p>Ia juga mengingatkan warga agar11 meningkatkan keharmonisan hidup dalam bermasyarakat, saling menghargai, rendah hati, berbudaya dan taat azas.</p>
<p>Ia juga meminta masyarakat memperhatikan berbagai himbauan pemerintah dan oleh lembaga hukum  untuk menciptakan keteraturan bersama.</p>
<p>&#8220;Saya juga mengimbau, jika ada masalah, hindari bermain hakim sendiri. Sebaliknya segera menyampaikan kepada kami ataupun kepada pemerintah untuk bagaimana bersama-sama kita temukan jalan keluar pemecahannya. TNI Polri melakukan pendekatan pelayanan kepada masyarakat dengan cara menempatkan personel di lapngan, maka dari itu persoalan-persoalan yang terjadi di lapangan, ayo kita bergandengan tangan mencarikan solusi-solusi terbaik demi kebaikan umum. Kami selalu siap melayani&#8221;, ujar Bhabinkamtibmas Desa Labolewa, Brigpol Bertholomeus Leu Mengi.</p>
<p>Mirip senada disampaikan juga oleh Babinsa Labolewa, Anggota Kodim 1625 Ngada, Kopda Misraim A Fay.</p>
<p>Ia secara khusus mengimbau warga pemilik ternak agar tertib beternak dan jangan membiarkan ternak hewan seperti sapi, kerbau, kambing berkeliaran bebas, sebab bisa merusak tanaman pertanian milik warga, yang berpotensi terjadi masalah dan benturan di tengah masyarakat.</p>
<p>Turut memberikan dukungan dan arahan dalam kesempatan tersebut, yakni para tokoh adat, pemuka kampung, Ketua BPD Desa Labolewa, Yohanes Leonardi Paga,<br />
Kepala Dusun IV, Krispianus Satu serta<br />
Kepala Dusun III, Antonius Dhesa.</p>
<p><iframe  id="_ytid_66656"  width="750" height="422"  data-origwidth="750" data-origheight="422" src="https://www.youtube.com/embed/nmpSlBX6ebc?enablejsapi=1&#038;autoplay=1&#038;cc_load_policy=0&#038;cc_lang_pref=&#038;iv_load_policy=1&#038;loop=1&#038;playlist=nmpSlBX6ebc&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;playsinline=0&#038;autohide=2&#038;theme=dark&#038;color=red&#038;controls=1&#038;disablekb=0&#038;" class="__youtube_prefs__  epyt-is-override  no-lazyload" title="YouTube player"  allow="fullscreen; accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen data-no-lazy="1" data-skipgform_ajax_framebjll=""></iframe></p>
<p><strong>W B N </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/16/78340/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F04%2F16%2F78340%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Labolewa%20Nagekeo%20%3A%20Roh%20Budaya%20Ikat%20Perdamaian%20Ferdinandus%20Dhosa%20dan%20Thobias%20Dega%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F04%2F16%2F78340%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Labolewa%20Nagekeo%20%3A%20Roh%20Budaya%20Ikat%20Perdamaian%20Ferdinandus%20Dhosa%20dan%20Thobias%20Dega&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F04%2F16%2F78340%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://line.me/R/share?text=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F04%2F16%2F78340%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/16/78340/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/16/78340/', 'Labolewa%20Nagekeo%20%3A%20Roh%20Budaya%20Ikat%20Perdamaian%20Ferdinandus%20Dhosa%20dan%20Thobias%20Dega', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/16/78340/">Labolewa Nagekeo : Roh Budaya Ikat Perdamaian Ferdinandus Dhosa dan Thobias Dega</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2026/04/16/78340/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tahun 2026 Ngada Usulkan Enam Warisan Budaya Tak Benda untuk Ditetapkan</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2026/03/31/tahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2026/03/31/tahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurel Doo]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2026 02:20:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ADAT]]></category>
		<category><![CDATA[PEMERINTAH DAERAH]]></category>
		<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=77901</guid>

					<description><![CDATA[<p>Media Warisan Budaya Nusantara Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur, kepemimpinan Bupati Raymundus Bena dan Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu, melalui Bidang Kebudayaan, Paschalia Maria Dolorosa Moi mengusulkan kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebanyak 6 (enam) Warisan Budaya Tak Benda untuk ditetapkan. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Ngada, Paschalia Maria ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/03/31/tahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan/">Tahun 2026 Ngada Usulkan Enam Warisan Budaya Tak Benda untuk Ditetapkan</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Media Warisan Budaya Nusantara</strong></span></p>
<p>Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur, kepemimpinan Bupati Raymundus Bena dan Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu, melalui Bidang Kebudayaan, Paschalia Maria Dolorosa Moi mengusulkan kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebanyak 6 (enam) Warisan Budaya Tak Benda untuk ditetapkan.</p>
<p>Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Ngada, Paschalia Maria Dolorosa Moi kepada media Warisan Budaya Nusantara (WBN), di Bajawa, pada Senin (30/3/2026).</p>
<p>Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Ngada, Paschalia Maria Dolorosa Moi, Warisan Budaya Tak Benda harus diperjuangkan untuk ditetapkan secara resmi, baik tingkat provinsi, nasional maupun dunia, karena perannya sangat krusial dalam menjaga identitas, keberlanjutan dan perlindungan kearifan lokal.</p>
<p>&#8220;Pada tahun 2025 kami mengusulkan tiga Warisan Budaya Tak Benda Ngada dan puji syukur ketiganya lolos ditetapkan. Dari tiga yang ditetapkan tersebut yakni Mbela, tradisi adat istiadat Masyarakat Adat Tadho. Berikutnya, Sagi dan yang terakhir Tunawu Ndoka Laeng dari Suku Mundu di wilayah Kecamatan Wolomeze. Kemudian untuk tahun 2026, sebanyak enam Warisan Budaya Tak Benda kembali diusulkan, yakni Ghan Weton, Laba Bua, Sao, Ka Sao, Pakaian Adat dan Wuli&#8221;, urai Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Ngada, Paschalia Maria Dolorosa Moi, kepada WBN (30/3).</p>
<p>Ia menambahkan, terhitung mulai tahun 2018, Kabupaten Ngada terus berjuang mendapatkan perlindungan hukum dan legalitas terhadap Warisan Budaya Tak Benda, untuk identitas dan kebanggaan lokal, demi pelestarian tradisi, pengembangan pariwisata budaya serta pembangunan berkelanjutan.</p>
<p>Kepemimpinan Bupati Ngada Raymundus Bena bersama Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu, lanjut Kabid Paschalia Maria Dolorosa Moi, juga sangat menaruh skala prioritas tinggi terhadap pelestarian kebudayaan Ngada.</p>
<p>&#8220;Pada tahun 2018 Ngada meraih penetapan Warisan Budaya Tak Bena Reba. Pada tahun 2022  Jai, tahun 2025 Sagi, Mbela danTunawu Ndoka Laeng. Tahun 2026 kita kembali memperjuangkan enam, diantaranya Ghan Weton, Laba Bua, Sao, Ka Sao, Pakaian Adat dan Wuli&#8221;, tutup Kabid Kebudayaan Ngada, Paschalia Maria Dolorosa Moi kepada media WBN (30/3).</p>
<p><iframe loading="lazy"  id="_ytid_81999"  width="750" height="422"  data-origwidth="750" data-origheight="422" src="https://www.youtube.com/embed/CRgQuJW4IHU?enablejsapi=1&#038;autoplay=1&#038;cc_load_policy=0&#038;cc_lang_pref=&#038;iv_load_policy=1&#038;loop=1&#038;playlist=CRgQuJW4IHU&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;playsinline=0&#038;autohide=2&#038;theme=dark&#038;color=red&#038;controls=1&#038;disablekb=0&#038;" class="__youtube_prefs__  epyt-is-override  no-lazyload" title="YouTube player"  allow="fullscreen; accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen data-no-lazy="1" data-skipgform_ajax_framebjll=""></iframe></p>
<p><strong>W B N</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2026/03/31/tahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F03%2F31%2Ftahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Tahun%202026%20Ngada%20Usulkan%20Enam%20Warisan%20Budaya%20Tak%20Benda%20untuk%20Ditetapkan%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F03%2F31%2Ftahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Tahun%202026%20Ngada%20Usulkan%20Enam%20Warisan%20Budaya%20Tak%20Benda%20untuk%20Ditetapkan&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F03%2F31%2Ftahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://line.me/R/share?text=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2026%2F03%2F31%2Ftahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/03/31/tahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2026/03/31/tahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan/', 'Tahun%202026%20Ngada%20Usulkan%20Enam%20Warisan%20Budaya%20Tak%20Benda%20untuk%20Ditetapkan', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2026/03/31/tahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan/">Tahun 2026 Ngada Usulkan Enam Warisan Budaya Tak Benda untuk Ditetapkan</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2026/03/31/tahun-2026-kabupaten-ngada-usulkan-enam-warisan-budaya-tak-benda-untuk-ditetapkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Laporan Pencemaran Nama Pahlawan Marilonga, Pelaku Minta Maaf di Makam Marilonga</title>
		<link>https://warisanbudayanusantara.com/2025/12/29/laporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga/</link>
					<comments>https://warisanbudayanusantara.com/2025/12/29/laporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aurel Doo]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2025 08:13:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[HUKUM]]></category>
		<category><![CDATA[ADAT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://warisanbudayanusantara.com/?p=76912</guid>

					<description><![CDATA[<p>Media Warisan Budaya Nusantara Laporan pencemaran nama baik melalui meja hukum Polres Ende, yang diadukan oleh generasi keturunan Pahlawan Marilonga di Kabupaten Ende Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, berakhir dengan jalan keadilan restoratif atau Restorative Justice. Keadilan Restoratif atau Restorative Justice adalah pendekatan penyelesaian perkara pidana yang berfokus pada pemulihan hubungan, dengan mempertemukan para pihak terkait ...</p>
<p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/12/29/laporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga/">Laporan Pencemaran Nama Pahlawan Marilonga, Pelaku Minta Maaf di Makam Marilonga</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Media Warisan Budaya Nusantara</strong></span></p>
<p>Laporan pencemaran nama baik melalui meja hukum Polres Ende, yang diadukan oleh generasi keturunan Pahlawan Marilonga di Kabupaten Ende Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, berakhir dengan jalan keadilan restoratif atau Restorative Justice.</p>
<p>Keadilan Restoratif atau Restorative Justice adalah pendekatan penyelesaian perkara pidana yang berfokus pada pemulihan hubungan, dengan mempertemukan para pihak terkait yang bertujuan memperbaiki kerusakan yang terjadi, dan pelaku bertanggung jawab secara konstruktif, melalui mediasi, dan perdamaian secara kekeluargaan.</p>
<p>Kasus berawal dari postingan sebuah akun facebook bernama Oneng Maria, yang ditemukan mempleset nama Marilonga. Atas kejadian, generasi keturunan Marilonga, Kristoforus Oro Mari , yang juga sebagai Mosalaki atau Pemimpin Adat di tanah kelahiran Marilonga, Kampung Watunggere Kecamatan Detukeli Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 3 Desember 2025, secara resmi mengadukan akun Oneng Maria ke meja hukum Polres Ende.</p>
<p>Laporan pengaduan perkara melalui meja hukum, ditempuh agar persoalan dapat diselesaikan secara baik dan benar, menghindari berbagai bias ataupun potensi minor, dan agar pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatan secara konstruktif.</p>
<p>Melalui penanganan hukum Polres Ende, para pihak dipertemukan, mengurai kejadian secara terbuka, lalu bersepakat damai, penyelesaiannya dilanjutkan secara kekeluargaan dan budaya.</p>
<p>Pantauan media, masih dalam suasana perayaan Natal, Minggu (28/12/2025), bertepatan dengan Pesta Keluarga Kudus untuk umat Gereja Katolik, pelaku didampingi keluarga mendatangi langsung Kampung Adat Watunggere dan mengunjungi Makam Pahlawan Marilonga.</p>
<p>Kehadiran di tanah kelahiran Pahlawan Marilonga disambut hangat dan penuh persaudaraan dalam balutan budaya oleh Keluarga Besar Marilonga, masyarakat adat bersama stake holder setempat.</p>
<p>Ungkapan permintaan maaf secara langsung disampaikan pada kesempatan tersebut, dalam ritual budaya di makam Pahlawan Marilonga.</p>
<p>&#8220;Kami datang dengan hati yang tulus untuk menyampaikan permintaan maaf kepada Babo Marilonga dan keluarga besar, atas kekhilafan yang melukai perasaan dan nama baik melalui unggahan di media sosial. Semoga Babo Marilonga menyambut baik kehadiran kami dan permintaan maaf atas kekhilafan yang telah terjadi”, ungkap Nano Riberu dan Yohanes Madha, selaku Perwakilan Keluarga yang mendampingi pelaku, bertempat di Kampung Adat Watunggere Marilonga (28/12).</p>
<p>Menanggapi penyelesaian damai secara budaya dan kekeluargaan, Mosalaki Watunggere Kristoforus Oro Mari, menyampaikan bahwa Keluarga Besar Marilonga menyambut baik dengan penuh kehangatan, atas niat baik menyelesaikan perkara.</p>
<p>&#8220;Setelah melalui proses penguraian bersama, kita semua tiba pada titik ini. Kami pun melihat ketulusan, keseriusan dalam niat baik untuk menyelesaikan masalah ini, dan kami menyambut dengan hati terbuka dan kekeluargaan. Dengan ini perkara telah selesai. Kami juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pihak Polres Ende yang telah menanggapi pengaduan dan menindaklanjut hingga terjadi pertemuan dan perdamaian secara kekeluargaan dan budaya. Pesan dari peristiwa ini adalah kita harus bijak bermedia sosial, dan jika terjadi kesalahan, jangan lupa pula untuk mengambil langkah bijak dan terukur dalam penyelesaiannya&#8221;, ungkap Mosalaki Watunggere, Kristoforus Oro Mari.</p>
<p><strong>Kilas Pahlawan Marilonga</strong></p>
<p>Marilonga adalah salah satu Pahlawan Ende Lio yang berperang mengusir penjajah Belanda. Perang Marilonga terjadi pada 1893-1907.</p>
<p>Marilonga masuk dalam lembaran sejarah pahlawan daerah Lio Ende Flores, pada Perang Koloni 1 sampai Perang Koloni 5.</p>
<p>Marilonga dilahirkan sekitar tahun 1855 di Kampung Watunggere, saat ini wilayah Kecamatan Detukeli Kabupaten Ende. Marilonga adalah putra dari perkawinan antara Longa Rowa (Ayah) dan Kemba Kore (Ibu).</p>
<p>Marilonga secara langsung mengangkat senjata berperang melawan Belanda. Marilonga bersama pasukan khususnya yang diberi nama &#8216;Ana Fua, secara terbuka bertempur melawan para serdadu Belanda.</p>
<p>Selain perang terbuka, Marilonga juga menerapkan system perang gerilya.</p>
<p>Perang terjadi karena tiga hal yakni, pertama menolak tunduk kepada Belanda. Kedua, mempertahankan adat istiadat. Ketiga, menolak membayar pajak kepada Belanda.</p>
<p><iframe loading="lazy"  id="_ytid_75297"  width="750" height="422"  data-origwidth="750" data-origheight="422" src="https://www.youtube.com/embed/ES15kOAX5TU?enablejsapi=1&#038;autoplay=1&#038;cc_load_policy=0&#038;cc_lang_pref=&#038;iv_load_policy=1&#038;loop=1&#038;playlist=ES15kOAX5TU&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;playsinline=0&#038;autohide=2&#038;theme=dark&#038;color=red&#038;controls=1&#038;disablekb=0&#038;" class="__youtube_prefs__  epyt-is-override  no-lazyload" title="YouTube player"  allow="fullscreen; accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen data-no-lazy="1" data-skipgform_ajax_framebjll=""></iframe></p>
<p>WBN</p>
<p>&nbsp;</p>
<div class='heateorSssClear'></div><div  class='heateor_sss_sharing_container heateor_sss_horizontal_sharing' data-heateor-sss-href='https://warisanbudayanusantara.com/2025/12/29/laporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga/'><div class='heateor_sss_sharing_title' style="font-weight:bold" >Share It.....</div><div class="heateor_sss_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="heateor_sss_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F12%2F29%2Flaporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#0765FE;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="heateor_sss_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Laporan%20Pencemaran%20Nama%20Pahlawan%20Marilonga%2C%20Pelaku%20Minta%20Maaf%20di%20Makam%20Marilonga%20https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F12%2F29%2Flaporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#55eb4c;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="heateor_sss_svg_stroke heateor_sss_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="heateor_sss_no_fill heateor_sss_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Twitter" class="heateor_sss_button_twitter" href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Laporan%20Pencemaran%20Nama%20Pahlawan%20Marilonga%2C%20Pelaku%20Minta%20Maaf%20di%20Makam%20Marilonga&url=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F12%2F29%2Flaporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga%2F" title="Twitter" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_twitter" style="background-color:#55acee;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-4 -4 39 39"><path d="M28 8.557a9.913 9.913 0 0 1-2.828.775 4.93 4.93 0 0 0 2.166-2.725 9.738 9.738 0 0 1-3.13 1.194 4.92 4.92 0 0 0-3.593-1.55 4.924 4.924 0 0 0-4.794 6.049c-4.09-.21-7.72-2.17-10.15-5.15a4.942 4.942 0 0 0-.665 2.477c0 1.71.87 3.214 2.19 4.1a4.968 4.968 0 0 1-2.23-.616v.06c0 2.39 1.7 4.38 3.952 4.83-.414.115-.85.174-1.297.174-.318 0-.626-.03-.928-.086a4.935 4.935 0 0 0 4.6 3.42 9.893 9.893 0 0 1-6.114 2.107c-.398 0-.79-.023-1.175-.068a13.953 13.953 0 0 0 7.55 2.213c9.056 0 14.01-7.507 14.01-14.013 0-.213-.005-.426-.015-.637.96-.695 1.795-1.56 2.455-2.55z" fill="#fff"></path></svg></span></a><a target="_blank" aria-label="Line" class="heateor_sss_button_line" href="https://line.me/R/share?text=https%3A%2F%2Fwarisanbudayanusantara.com%2F2025%2F12%2F29%2Flaporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga%2F" title="Line" rel="noopener" target="_blank" style="font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="heateor_sss_svg heateor_sss_s__default heateor_sss_s_line" style="background-color:#00c300;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:32px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;border-radius:999px;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 14.304c0-5.37-5.384-9.738-12-9.738S4 8.936 4 14.304c0 4.814 4.27 8.846 10.035 9.608.39.084.923.258 1.058.592.122.303.08.778.04 1.084l-.172 1.028c-.05.303-.24 1.187 1.04.647s6.91-4.07 9.43-6.968c1.737-1.905 2.57-3.842 2.57-5.99zM11.302 17.5H8.918c-.347 0-.63-.283-.63-.63V12.1c0-.346.283-.628.63-.628.348 0 .63.283.63.63v4.14h1.754c.35 0 .63.28.63.628 0 .347-.282.63-.63.63zm2.467-.63c0 .347-.284.628-.63.628-.348 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm5.74 0c0 .27-.175.51-.433.596-.065.02-.132.032-.2.032-.195 0-.384-.094-.502-.25l-2.443-3.33v2.95c0 .35-.282.63-.63.63-.347 0-.63-.282-.63-.63V12.1c0-.27.174-.51.43-.597.066-.02.134-.033.2-.033.197 0 .386.094.503.252l2.444 3.328V12.1c0-.347.282-.63.63-.63.346 0 .63.284.63.63v4.77zm3.855-3.014c.348 0 .63.282.63.63 0 .346-.282.628-.63.628H21.61v1.126h1.755c.348 0 .63.282.63.63 0 .347-.282.628-.63.628H20.98c-.345 0-.628-.282-.628-.63v-4.766c0-.346.283-.628.63-.628h2.384c.348 0 .63.283.63.63 0 .346-.282.628-.63.628h-1.754v1.126h1.754z"/></svg></span></a><a class="heateor_sss_more" aria-label="More" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size: 32px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/12/29/laporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga/" onclick="event.preventDefault()"><span class="heateor_sss_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:30px;height:30px;border-radius:999px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="heateorSssMoreSharingPopup(this, 'https://warisanbudayanusantara.com/2025/12/29/laporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga/', 'Laporan%20Pencemaran%20Nama%20Pahlawan%20Marilonga%2C%20Pelaku%20Minta%20Maaf%20di%20Makam%20Marilonga', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;border-radius:999px;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div><div class="heateorSssClear"></div></div><div class='heateorSssClear'></div><p>The post <a href="https://warisanbudayanusantara.com/2025/12/29/laporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga/">Laporan Pencemaran Nama Pahlawan Marilonga, Pelaku Minta Maaf di Makam Marilonga</a> appeared first on <a href="https://warisanbudayanusantara.com">Warisan Budaya Nusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://warisanbudayanusantara.com/2025/12/29/laporan-pencemaran-nama-pahlawan-marilonga-pelaku-minta-maaf-di-makam-marilonga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
