Rahasia Beras Singkong Cireundeu: Mandiri Pangan Sejak Zaman Kolonial hingga Upaya Menjaga Tradisi

CIMAHI – Tim Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat yang dipimpin oleh Irjen Pol. (Purn) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, MPKN., atau yang akrab disapa Abah Anton Charliyan, melaksanakan kunjungan silaturahmi budaya ke Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.
Abah Anton hadir didampingi oleh rombongan pengurus MASDA Jawa Barat, di antaranya Uwa Deden, Bah Iwan, Raden Dicky Z. Sastradikusumah, Rd. Berry, Jayengrana Wirasantana, serta jajaran pengurus lainnya. Rombongan disambut hangat oleh Panitren Adat Abah Asep Abbas, Ais Pangampih Abah Widi, Kang Didi (Bidang Budaya), dan Kang Domba (Bidang Seni). Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi, menggali potensi budaya, serta mengidentifikasi berbagai permasalahan masyarakat adat demi pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan. 24 Juni 2026

Berdasarkan hasil pemantauan dan dialog tim MASDA Jabar di lapangan, berikut adalah profil serta dinamika terkini dari Kampung Adat Cireundeu:

Sejarah Singkat dan Filosofi Hidup

Kampung Adat Cireundeu pertama kali dibuka oleh Mama Aki Haji Ali sekitar abad ke-19 Masehi. Nama “Cireundeu” diambil dari pohon Reundeu yang dahulu tumbuh subur di kawasan tersebut. Dari nama ini lahir istilah “Sareundeu, Sabobot, Saigelan” yang bermakna kompak, guyub, satu pikiran, satu perkataan, satu perbuatan, serta menjunjung tinggi gotong royong.
Masyarakat Cireundeu dikenal sebagai pewaris nilai-nilai karuhun (leluhur) Sunda yang kuat. Mereka memegang teguh filosofi hidup: “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman”, yang berarti mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas adat. Ada pula prinsip hidup: “Kajeun teu nyawah asal boga pare, teu boga pare asal boga beas, teu boga beas asal bisa nyangu, teu bisa nyangu asal bisa dahar, henteu bisa dahar asal bisa kuat” (Biarpun tidak punya sawah asal punya padi, tidak punya padi asal punya beras, tidak punya beras asal bisa menanak nasi, tidak bisa menanak nasi asal bisa makan, tidak bisa makan asal bisa kuat).

Ketahanan Pangan Unik: Rasi (Beras Singkong)

Sistem ketahanan pangan di Cireundeu sangat unik dan berbasis singkong. Sejak masa kolonial sekitar tahun 1918, masyarakat setempat telah berpindah konsumsi pangan ke Rasi (Beras Singkong) karena kontur tanah yang kering dan sulit pengairan. Teknologi pengolahan rasi ini kemudian disempurnakan pada tahun 1924 oleh Ibu Sepuh Omah Asnanah, menghasilkan hidangan singkong yang sangat lezat dan pulen, sebagaimana yang dicicipi oleh tim MASDA Jabar. Berpijak pada aturan adat (pamali), warga dilarang keras untuk mengonsumsi nasi dari padi.

Luas Wilayah dan Jumlah Warga

Kawasan adat Cireundeu terletak di wilayah selatan Cimahi pada ketinggian 700 hingga 900 Mdpl. Total luas kawasan adat beserta lingkungan penyangganya mencapai 64 hektare, yang terbagi menjadi empat zona:

1. Kawasan permukiman adat (2 Ha)

2. Leuweung Larangan / Hutan Titipan (3 Ha) – Kawasan sakral yang tidak boleh ditebang demi menjaga mata air.

3. Leuweung Tutupan / Hutan Lindung (35 Ha) – Hutan produksi terbatas; pohon yang ditebang wajib ditanam kembali.

4. Leuweung Garapan (24 Ha) – Area pertanian dan perkebunan aktif masyarakat.

Saat ini, komunitas Cireundeu dihuni oleh sekitar 1.500 warga (360 Kepala Keluarga). Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 60 KK (130 warga) yang menjadi inti penegak adat (pengkuh adat) yang mengamalkan ajaran kepercayaan Sunda Wiwitan, merujuk pada pakem Ageman ajaran Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Sementara warga lainnya tetap membaur aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Tantangan Status Tanah Ulayat dan Modernisasi Bangunan

Kendati memiliki wilayah adat yang dijaga turun-temurun, saat ini status kepemilikan tanah di Cireundeu sebagian besar telah berubah menjadi milik pribadi masing-masing warga. Akibatnya, Kampung Adat Cireundeu secara hukum belum memiliki Tanah Ulayat komunal yang diakui sebagai aset bersama milik adat, kecuali kawasan Leuweung Larangan.
Tantangan lain muncul dari sektor arsitektur. Rumah asli masyarakat Cireundeu yang dahulunya bermaterialkan alam (kayu, bambu, atap ijuk, tanpa tembok dan listrik) kini sudah tergerus arus modernisasi. Bangunan asli tersebut hampir tidak tersisa karena digantikan oleh rumah modern. Diperlukan perhatian serius dari pemerintah dan pengamat budaya untuk merekonstruksi kembali miniatur atau kawasan khusus bangunan asli agar arsitektur tradisional tersebut tetap lestari.

Infrastruktur, Ekonomi, dan Seni Budaya

Akses jalan menuju Kampung Adat Cireundeu saat ini sudah dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat, namun kondisinya banyak yang rusak. Diperlukan perbaikan jalan lingkungan, penataan drainase pertanian, serta pembenahan fasilitas pendukung wisata edukasi.
Untuk mata pencaharian, sebagian besar warga bekerja sebagai petani, perajin UMKM olahan singkong, seniman, dan pemandu wisata. Saban tahun, mereka konsisten menggelar upacara adat besar seperti Seren Taun (Tutup Taun 1 Suro) dan Hajat Bumi. Kesenian tradisional seperti Karinding, Kacapi Suling, Angklung Buncis, Degung, dan kaulinan barudak juga terus dihidupkan oleh generasi muda.

Harapan Masyarakat Adat

Melalui dialog bersama MASDA Jabar, masyarakat adat Cireundeu menitipkan beberapa harapan komparatif, antara lain:

1. Bantuan peremajaan perangkat alat kesenian tradisional beserta kostum panggungnya (Gamelan, Degung, Kendang Pencak, Angklung Buncis, dan Kacapi Suling).

2. Pengadaan bibit tanaman produktif bernilai ekonomi tinggi untuk area garapan (seperti Buah Naga Hitam, Melon Inggris, Pala, Kawung, Kemiri), serta bibit pohon keras (Albasiah, Jati Belanda) untuk penghijauan Leuweung Tutupan, lengkap dengan ketersediaan pupuknya.

EDITING N’DRA

Share It.....