Rahasia Dibalik Puncak Keli Ndota Nida Kecamatan Detukeli Dan Kedaulatan Pangan
Ketua Persatuan Wartawan Media Online Indonesia, Cabang Kabupaten Ngada, Aurelius Do'o

Oleh : Aurelius Do’o

Puncak Gunung Keli Koja atau Keli Ndota di Kecamatan Detukeli Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan narasi tua tentang pengorbanan dan ketahanan pangan.

Bagi Masyarakat Adat Nida Kecamatan Detukeli, Keli Koja atau yang kemudian berganti nama menjadi Keli Ndota, bukan sekadar bentang alam, melainkan panggung sakral tempat seorang putri jelita menjelma menjadi padi demi menyelamatkan manusia dari kelaparan.

Sosok itu dihormati sebagai Ine Pare yang secara harfiah berarti “Ibu Padi”.

Media Warisan Budaya Nusantara (WBN) merangkum bagaimana mitos luhur ini dijaga ketat lewat ritual, hukum adat, dan ruang-ruang rahasia yang tidak boleh disentuh sembarang orang.

Teologi Langit dan Bumi — “Du’a Gheta Lulu Wula, Ngga’e Ghale Wena Tana“.

Dalam kosmologi masyarakat Nida, struktur tertinggi alam semesta dikendalikan oleh kekuatan agung yang seimbang. Masyarakat adat menyebutnya “Du’a Gheta Lulu Wula, Ngga’e Ghale Wena Tana” yakni Sang Ilahi yang menguasai langit sekaligus bumi beserta seluruh isinya. Di bawah naungan spiritual inilah, kisah Ine Pare dirawat.

Adat setempat memegang teguh prinsip “Welu No Pi Li, Rebhe No Pebe Lape”, seuntai manifesto adat yang menegaskan bahwa seluruh warisan tradisi harus dilestarikan sepanjang masa, pantang diubah, dan tabu untuk dihentikan.

Jejak Rasional di Balik Mitos

Bagi telinga modern, kisah manusia berganti wujud menjadi tanaman pangan mungkin terdengar seperti dongeng pengantar tidur. Namun, bagi komunitas adat Nida, narasi ini adalah sejarah yang hidup.

Indikator empirisnya terpahat jelas di lapangan. Segala wujud kebendaan terkait kisah ini masih kokoh berdiri yakni :

Situs Geografis: Gunung Keli Koja (Keli Ndota) yang menjadi latar utama kejadian.

Artefak Fisik: Peninggalan bebatuan kuno dan pilar-pilar batu yang menandai lokasi kejadian.

Ritus yang Hidup: Tahapan ritual pertanian yang masih dipraktikkan tanpa putus hingga hari ini.

Keberadaan bukti-bukti fisik dan ritus berkala ini menjadi jangkar rasionalitas yang membuat ingatan kolektif warga adat terhadap Ine Pare tetap utuh, menolak larut oleh zaman.

Rahasia Puncak Keli Koja

Dikisahkan, pada zaman dahulu, seorang putri berwajah elok berjalan mendaki Puncak Keli Koja bersama enam orang saudara laki-lakinya. Di atas puncak yang sunyi itulah peristiwa sakral terjadi.

Di tengah ancaman kelaparan yang hebat, sang putri memilih mengorbankan dirinya. Tubuhnya melebur dan menjelma menjadi padi. Tubuhnya menjadi sumber kehidupan dan menu makanan utama bagi manusia di sekitarnya.

Menariknya, identitas asli sang putri tetap menjadi misteri yang rapat. Para Mosalaki (pemimpin adat) bersama barisan pemangku adat Nida memiliki kode etik ketat untuk tidak membuka kisah ini secara telanjang ke publik. Pantang menyebut nama asli manusia sakral yang pernah hidup di Keli Koja, terutama nama asli sang putri jelita.

Penyebutan kata “Dewi” atau Ine (Ine berarti Ibu) merupakan bentuk penghormatan tertinggi sekaligus batas terjauh yang boleh diucapkan oleh masyarakat luar.

Simbol Kesalehan Lokal

Kisah Ine Pare dalam tradisi Nida menegaskan satu hal, yakni Masyarakat Nida secara khusus, Masyarakat Kecamatan Detukeli Kabupaten Ende, Masyarakat Flores dan NTT memiliki sistem ketahanan pangan yang berbasis pada spiritualitas dan kesalehan lokal.

Di balik butir-butir padi yang dipanen setiap tahun, ada nilai penghormatan mendalam terhadap alam, kepemimpinan adat, dan figur perempuan sebagai sumber kehidupan.

Melindungi mitos Ine Pare berarti melindungi kedaulatan pangan dan identitas kebudayaan agar tidak lekang oleh arus modernisasi.

Ine Pare Mahkota Hidup dari Keli Ndota

Sebuah bukit di Flores menjaga memori tentang pangan, identitas, dan simbol negara yang terpatri di dada Garuda. Nama aslinya Keli Koja. Namun, waktu mengubah sebutannya menjadi Keli Ndota.

Hingga hari ini tetap berdiri tegak, menjadi pelindung bagi Kampung Nida dan deretan kampung adat lain di sekitarnya. Di bawah bayang-bayang Keli Ndota, sebuah filosofi tua tentang bertahan hidup terus dirawat oleh Masyarakat Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Bagi masyarakat setempat, Keli Ndota bukan sekadar bentang alam. Ia adalah saksi bisu dari lahirnya penghormatan terhadap padi. Sesuatu yang di tingkat nasional bertransformasi menjadi simbol sakral.

Padi, bagaimanapun, adalah mahkota hidup bangsa ini. Kehadirannya tidak pernah kasatmata sebagai pengisi piring semata. Di dada Burung Garuda, bulir-bulir emas itu terpancang abadi, bersanding bersama Bintang, Rantai, Beringin, Banteng, dan Kapas.

Ia melambangkan keadilan sosial, sebuah fundamen kesejahteraan yang akarnya menghujam jauh ke desa-desa adat seperti Nida di Kecamatan Detukeli.

Penghormatan terhadap pangan ini mewujud nyata dalam ingatan kolektif masyarakat Ende melalui sosok mistis bernama Ine Pare (Ibu Padi). Kehadirannya begitu sentral, hingga pemerintah daerah mengabadikannya menjadi nama sebuah gedung pertemuan besar di pusat Kota Ende: Gedung Ine Pare.

Pemberian nama itu jelas bukan sekadar kosmetik tata kota atau asal ada. Ia adalah monumen pengingat bahwa dari tanah Flores yang berbukit-bukit, dari Kampung Nida yang terisolir, pangan adalah fondasi peradaban dan kedaulatan yang tidak boleh dilupakan.

Ya, ! Sebuah fragmen sejarah yang terkubur di balik deretan perkampungan tua dengan segala ketertinggalan, kembali ke permukaan. Di balik ketenangannya, dibalik Kecamatan Detukeli dengan segala keterbatasan, tersimpan kisah yang selama ini hanya hidup dalam ingatan lisan para tetua.

Melalui penelusuran ingatan, lembar demi lembar sejarah harus terus dirajut kembali.

Kesaksian dari masa lalu yang tidak tersentuh catatan tertulis, namun ingatan dari generasi ke generasi tetap menyala. Generasi harus menjadi penjaga memori peradaban.

Berbeda dengan wilayah pesisir, dinamika di pedalaman Detukeli sangat dipengaruhi oleh adat budaya. Masyarakat adalah penjaga warisan budaya, warisan Ingatan dan warisan nilai-nilai sakral.

Tulisan ini adalah catatan kecil terhadap edisi yang diturunkan Media WBN berjudul “Kisah Manusia Ibu Padi Atau Ine Pare Dalam Tradisi Nida, Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende Flores-NTT.

Kisah Manusia Ibu Padi Dalam Tradisi Nida”, masuk dalam “Perpustakaan Digital Budaya Indonesia”. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI) adalah platform daring gotong-royong yang mengumpulkan, mengelola, dan mendokumentasikan berbagai Warisan Budaya Tradisional Indonesia. Platform ini diakses melalui situs Budaya Indonesia dan diakui sebagai inisiatif penting oleh UNESCO.

Penulis: Aurelius Do’o, Jurnalis

 

Share It.....