MEDIA WARISAN BUDAYA NUSANTARA
TASIKMALAYA – Ketua Umum Majelis Adat Sunda Jawa Barat (MASDA Jabar), Abah Anton Charliyan, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kampung Adat Naga, Desa Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (26/4/2026). Dalam pertemuan tersebut, para tokoh adat menyampaikan sejumlah keprihatinan mendalam terkait kondisi lingkungan dan fasilitas di kampung adat yang kian mengkhawatirkan.
Pertemuan yang berlangsung hangat dalam suasana “ngariung” tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting Kampung Naga, di antaranya Sesepuh Abah Tajudin, Pemangku Adat Bah Ucu, serta perwakilan pemuda (nonoman) Kang Aceng dan Kang Aep.
Ancaman Banjir dan Kerusakan Lingkungan
Isu utama yang mencuat adalah ancaman banjir kiriman dari Sungai Ciwulan yang melintasi kawasan tersebut. Anton Charliyan mengungkapkan bahwa pendangkalan sungai yang terjadi bertahun-tahun telah menyebabkan luapan air sering merusak lahan garapan warga.
“Kondisinya cukup mengkhawatirkan. Warga berharap adanya pengerukan dan pendalaman sungai sepanjang 1 kilometer, atau minimal peninggian tanggul setinggi 0,5 meter guna membendung luapan air saat curah hujan tinggi,” ujar Abah Anton.
Selain infrastruktur sungai, warga juga mengusulkan perluasan penghijauan di bantaran kali dan penguatan irigasi sawah yang saat ini mengalami penyempitan akibat material banjir.
Kondisi Rumah Adat Memprihatinkan
Selain masalah alam, warga mengeluhkan kondisi fisik bangunan adat. Harga material ijuk untuk atap rumah yang kini melambung tinggi membuat warga kesulitan melakukan perbaikan. Akibatnya, banyak atap yang bocor dan menyebabkan kayu penyangga rumah mulai melapuk.
Kerusakan juga mulai merambah ke fasilitas umum seperti Leuit (lumbung padi), Pacilingan (toilet umum), Mushola, hingga Saung Lisung. Meski demikian, masyarakat Kampung Naga tetap memegang teguh prinsip adat untuk tidak meminta-minta bantuan secara langsung.
“Bagi masyarakat Naga, meminta itu pantangan. Namun, mereka terbuka terhadap uluran tangan yang tulus dan ikhlas, selama bantuan tersebut tidak bertentangan dengan tradisi adat yang ada,” tambah Anton.
Harapan Revitalisasi Ekonomi
Untuk meningkatkan kesejahteraan, Abah Tajudin mengusulkan adanya program revitalisasi pertanian melalui penanaman komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti lada, kopi, melon Inggris, hingga gaharu dengan metode modern seperti green house tanpa merusak keseimbangan alam.
Sementara itu, perwakilan pemuda, Kang Aceng dan Kang Aep, menyoroti pentingnya pengembangan sektor peternakan ayam dan domba garut. Mereka berharap pemerintah dapat membantu akses permodalan dan memutus rantai pemasaran yang selama ini dikuasai bandar agar harga jual petani bisa lebih kompetitif.
“Kami berharap aspirasi ini dapat sampai ke telinga para pemangku kebijakan di Gedung Sate. Perlu langkah konkret dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjaga keberlangsungan Kampung Naga sebagai salah satu warisan budaya Sunda yang tak ternilai,” pungkas Abah Anton.
(Hendra)
