Kata Tokoh Adat dan Akademisi Untuk Program Ka Sao Pemda Ngada
Martinus Pea, Ketua Suku sekaligus pemilik Sao Kopa Rade dan Sao Leka Bero di Desa Tiwu Toda, Kecamatan Golewa

NGADA, WBN — Keberlanjutan program pelestarian adat “Ka Sao” di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mendapat respons positif dari berbagai kalangan.

Program yang diintegrasikan melalui kebijakan Murni Kasih di bawah kepemimpinan Bupati Raymundus Bena dan Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu ini dinilai mampu memperkuat akar budaya sekaligus mendorong sektor pariwisata daerah.

Salah satu tokoh adat, Martinus Pea, Ketua Suku sekaligus pemilik Sao Kopa Rade dan Sao Leka Bero di Desa Tiwu Toda, Kecamatan Golewa mengatakan secara terbuka kesan dan penilaiannya atas program Pemda Ngada.

Saat menggelar upacara adat Ka Sao yang dihadiri langsung oleh jajaran pemerintah daerah pada Selasa (30/6/2026), Martinus menyatakan bahwa kehadiran pemerintah memberikan rasa pengakuan yang nyata bagi masyarakat adat.

“Program ini sangat baik dan kami mendukung agar terus dilanjutkan oleh siapapun pemimpin daerah ini ke depan. Melalui kebijakan ini, pemerintah menunjukkan pemahaman bahwa adat budaya adalah akar dari masyarakat Ngada. Kami merasa pemerintah tahu cara menghargai dan menyatu dengan tradisi kami,” ujar Martinus.

Secara teknis, Program Murni Kasih berfungsi sebagai payung kebijakan sosial budaya Pemerintah Kabupaten Ngada. Lewat program ini, komunitas adat mendapatkan pengakuan hukum, upaya pelestarian yang terstruktur, hingga bantuan fasilitasi finansial yang terukur untuk mendukung pelaksanaan ritual adat.

Sinkronisasi Sektor Pariwisata

Rangkuman media ini, sebelumnya Bidang Kebudayaan Kabupaten Ngada menjelaskan, dukungan terhadap ritus Ka Sao bukan sekadar formalitas, melainkan langkah strategis daerah untuk mengakui eksistensi budaya dan hak asal-usul suku-suku di Ngada.

Lebih jauh, program ini ditargetkan mampu merekonstruksi kampung-kampung adat yang interaksinya erat dengan pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya. Langkah hilirisasi budaya ini juga dinilai selaras dengan visi kementerian di tingkat pusat yang mendorong keterlibatan aktif pemerintah daerah dalam ekosistem kebudayaan nasional.

Apresiasi senada turut disampaikan oleh tim akademisi dari Universitas Brawijaya Malang dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sedang melakukan penelitian di Ngada. Mereka adalah Dr. Nia Kurniasi, Dr. Rismawan Sumarwan, dan Fajar Hidayat, M.Si.

“Adat budaya di Ngada luar biasa karena tradisinya masih sangat kental dan lestari. Kami beruntung bisa menyaksikan langsung keunikan ini di tengah agenda riset kami,” kata perwakilan tim akademisi tersebut.

Akademisi Universitas Brawijaya Malang dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sedang melakukan penelitian di Ngada : Dr. Nia Kurniasi, Dr. Rismawan Sumarwan, Fajar Hidayat, M.Si.
Akademisi Universitas Brawijaya Malang dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sedang melakukan penelitian di Ngada : Dr. Nia Kurniasi, Dr. Rismawan Sumarwan, Fajar Hidayat, M.Si.

Menurut mereka, kolaborasi antara komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi dan kehadiran dari pemerintah daerah merupakan praktik baik yang patut dipertahankan demi keberlanjutan warisan budaya takbenda di Indonesia.

“Di Jawa sejumlah pemimpin mengambil peran posisi sama terhadap segmen kebudayaan. Memang harus demikian jika pemerintah memandang adat budaya adalah aset yang harus disentuh secara nyata. Pembangunan dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang saling membutuhkan dan menguatkan”, tutup mereka.

WBN

 

 

 

 

 

 

Share It.....