Pohon Cengkeh yang Menangis
Oleh, Felix Baghi
Di Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur, di bawah langit yang sama yang menyinari istana dan gedung pemerintahan, hidup seorang anak bernama Yohanes Bastian Roja (YBR).
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun membawa beban yang seharusnya tak pantas bagi anak kecil. Ia tinggal di pondok neneknya, rumah dari kayu lapuk dan doa-doa yang tak pernah terdengar oleh mereka yang berkuasa.
Yohanes tersenyum, menolong teman, belajar, berprestasi. Senyum itu kecil, rapuh, seperti cahaya lilin di angin badai.
Namun, di balik itu, ada kelaparan, ada luka, ada rumah yang sempit, dan ibu yang lelah menanggung hidup sendirian. Maria Goreti Te’a bekerja sebagai buruh tani, serabutan, penghasilan tak menentu. Suami merantau, hilang, dan pemerintah?
Surat, rapat, janji—semua lambat. Birokrasi sibuk dengan angka, kapital, dan kepentingan oligarki, sementara anak-anak menunggu haknya untuk hidup dan dilindungi.
Hari itu, Yohanes duduk di depan pondok neneknya. Kepala sakit, perut kosong, hati lelah menanggung tekanan. Ia menatap kertas, mungkin ingin menulis, mungkin ingin berteriak, mungkin hanya ingin didengar.
Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang hadir. Dunia politik sibuk dengan kekuasaan, bukan dengan kehidupan anak-anak. Pohon cengkeh menjadi saksi.
Dahan-dahannya yang seharusnya meneduhkan, kini menampung tragedi. Tubuh kecil Yohanes tergantung, dan desa itu terdiam. Statistik anak hilang, laporan keluarga miskin, janji bantuan sosial—semuanya tak bisa menggantikan hidupnya.
Anak-anak tidak seharusnya menjadi korban kegagalan sistem, bukan korban lambatnya birokrasi, bukan korban politik yang memuja kapital dan oligarki. Kematian Yohanes adalah panggilan bagi nurani yang keras oleh rutinitas politik.
Anak-anak bukan alat, bukan target, bukan statistik. Mereka adalah manusia yang memiliki hak hidup, hak bermain, hak dicintai, hak merasa aman—hak yang diabaikan oleh sistem yang lebih peduli pada keuntungan segelintir orang daripada kehidupan rakyat.
Yohanes adalah ciptaan yang berharga. Ia seharusnya dilindungi. Ia seharusnya dicintai. Ketika kita gagal hadir baginya, kita gagal hadir sebagai negara, sebagai manusia, sebagai umat. Tragedi ini menuntut tanggung jawab, bukan pidato kosong, bukan bantuan yang terlambat karena dokumen, bukan janji yang dibungkus retorika politik.
Ia lahir dari kemiskinan yang dibiarkan menumpuk, dari kebijakan yang abai, dari birokrasi yang lamban. Ia adalah simbol kegagalan negara, simbol anak-anak yang menunggu dunia peduli, simbol pohon cengkeh yang meneteskan air mata yang tak terdengar oleh pejabat dan elit.
Biarlah kematian Yohanes menjadi nyala. Pendidikan harus hadir sebelum lapar dan putus asa menimpa.
Perlindungan anak harus menjadi prioritas mutlak, bukan pilihan yang bisa ditunda. Bantuan sosial harus sampai tepat waktu, bukan untuk pencitraan.
Biarlah pohon cengkeh itu tidak lagi menjadi saksi tragedi, tapi menjadi tanda bahwa politik yang memuja kapital dan oligarki adalah musuh anak-anak, musuh kemanusiaan, dan musuh Tuhan.

Selamat Jalan Bocah Lugu Tak Berdaya.
