Mengejutkan Jalan Mauponggo Ngera Puuwada PHO Dalam Kondisi Rusak

WBN|NTT
Ruas jalan Mauponggo-Ngera-Pu’uwada di Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Tenggara Timur (NTT) yang baru selesai dikerjakan belum sebulan sudah rusak memicu protes warga sekitar.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Ricard Manukoa memastikan semua kerusakan sudah diperbaiki dan proyek kini dalam tahap pemeliharaan.

Ricard Manukuoa mengatakan semua kerusakan sudah diperbaiki untuk dua paket pekerjaan pada ruas jalan yang sama. Dua paket pekerjaan itu kini masuk dalam tahap pemeliharaan.

Soal kualitas pekerjaan Richard menghimbau masyarakat tidak perlu takut karena pekerjaan sudah melalui pemeriksaan BPK dan pendampingan oleh Kejaksaan Tinggi.

“Semua sudah diperbaiki, tidak usah takut nanti ada pemeriksaan lab, dan setelah lebaran ada audit dari BPKP untuk semua IJD,“ kata Ricard.

Selain itu Kasatker PJNW IV Prov. NTT, Wilhelmus Sugu Djawa yang dikutip dari bebrapa media menjelaskan Paket Preservasi Jalan Mauponggo-Ngera-Pu’uwada 1 dengan Nilai Kontrak Rp. 9.114.590.000,- dilaksanakan berdasarkan kontrak dan SPMK tanggal 26 November 2025.

Pekerjaan dinyatakan selesai dan dilakukan PHO pada tanggal 11 Maret 2026, dengan masa pemeliharaan selama 1 tahun hingga 11 Maret 2027.

Selama pelaksanaan, kata Wilhelmus ditemukan kerusakan pada beberapa titik akibat cuaca ekstrim yang terjadi pada akhir tahun 2025.

Terhadap kerusakan tersebut Penyedia Jasa CV. Ratu Orzora telah melakukan perbaikan pada periode 28 Februari 2026 sampai dengan 10 Maret 2026 sebagai bagian dari pemenuhan mutu sebelum dilaksanakan PHO.

“Saat ini ruas tersebut sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum dengan mulus, tdk seperti yang diberitakan sebelumnya. BPJN NTT selalu berkomitmen untuk memberikan yang terbaik demi kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Dari hasil penelusuran sejumlah jurnalis di ruas jalan Mauponggo – Ngera – Puuwada, pada tanggal 12 Maret 2026 setelah PHO tanggal 11 maret 2026 terdapat sejumlah titik mengalami kerusakan.

Beberapa bagian terdapat retakan dengan cukup besar melebihi dari retak rambut dan bahkan sebagian terdapat endapan lumpur yang telah keluar dari retakan atau pecahan tersebut. Beberapa retakan berusaha ditutupi dengan melapisi aspalt hotmix tambahan namun telihat tidak merekat.

Beberapa bagian terutama di belakang kampung Ngera terlihat sangat parah. Aspalnya telah pecah atau rusak dengan bongkahan cukup lebar ketika diambil gambar pada tanggal 12 Maret 2026 setelah dinyatakan PHO pada tanggal 11 Maret 2026 sesui pernyataan Kasatker PJNW IV Prov. NTT, Wilhelmus Sugu Djawa yang dikutip dari beberapa media.

“ Kalau PHO tanggal 11 dan ketika tanggal 12 masih ada pekerjaan pembongkaran dan jalanya masih rusak artinya, PHO dalam kondisi rusak,” kata sumber Media Indonesia yang biasa menangani proyek perkerjaan APBN.

Nilai Kontrak Jalan

Dari informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber proyek jalan tersebut merupakan Paket Pekerjaan Jalan Inpres Daerah Tahun Anggaran 2025 dengan 2 paket pekerjaan yakni ; PRESERVASI JALAN MAUPONGGO – NGERA – PUUWADA 1, dengan metode E-purchasing, panjang jalan 2,00 KM, dengan nilai kontrak 9.114.590.000 dan penyedia jasa CV. RATU ORZORA serta konsultasi supervisi oleh PT. MAHA CHARISMA ADIGUNA kemudian
PRESERVASI JALAN MAUPONGGO – NGERA – PUUWADA 2, dengan metode E-purchasing, panjang jalan 2,00 KM, dengan nilai kontrak 9.283.298.000 dan penyedia jasa CV. ANUGERAH CIPTA JAYA serta konsultasi supervisi oleh PT. MAHA CHARISMA ADIGUNA. Sehingga total semua dalam Data paket kontraktual pekerjaan, satker pelaksanaan jalan nasional wilayah IV Provinsi NTT tahun anggaran 2025 totalnya menjadi 18.397.888.000.

“ Ya totalnya ada 18 miliar dengan 2 paket pekerjaan, di lapangan ada sempat tulis salah di papan proyek 9 miliar dan 11 miliar, tapi yang benar 9 miliar dan 9 miliar satunya, “ kata Ricard.

Kerusakan Memang Ada Bukan Hoax

Menurut Viktor Tegu anggota DPRD Nagekeo asal Ngera mengungkapkan bahwa ketika
tanggal 12 Maret 2026 kondisi jalan masih dalam keadaan rusak dan sedang dalam perbaikan saat wartawan meninjau lokasi kerusakan tersebut.

Namun setelah ada perbaikan ketika tanggal 19 Maret 2026 ada peninjauan dari orang balai jalan untuk melihat kondisi jalan tersebut dan pada tanggal tersebut kondisi jalan sudah diperbaiki semua.

“ Saya kira tidak benar bilang hoax soal berita, ketika wartawan yang datang tanggal 12 , kenyataan di lapangan dan kami lihat sendiri di tanggal itu masih ada perbaikan, mungkin karena tekanan masyarakat dan publikasi yang begitu masif sehingga jalan itu diperbaiki.” tegas Viktor.

Hal senada juga diungkapkan Egidius Situ salah satu warga Ngera mengungkapkan bahwa kerusakan benar terjadi sebelum adanya perbaikan. Kondisi aspal rusak dan baru dilakukan perbaikan serta pelapisan aspal baru.

“ Memang ada kerusakan sebelumnya dan sekaramng sudah diperbaiki dengan lapis lagi aspal baru,” ungkapnya.

Ahli Soroti Penggunaan Latasir, Dinilai Tidak Memperkuat Struktur Jalan Hotmix

Seorang sumber dari Media Indonesia yang berpengalaman dalam konstruksi jalan aspal hotmix menyoroti penggunaan lapisan tipis aspal pasir (latasir) dalam sejumlah proyek jalan. Menurutnya, metode tersebut kerap disalah pahami sebagai perbaikan struktural, padahal secara teknis hanya berfungsi menutup permukaan aspal yang kasar bukan menerima beban kendaraan.

“Pekerjaan latasir seperti ini hanya untuk menutup pori-pori aspal yang kasar atau retak rambut, bukan untuk memperkuat konstruksi badan jalan,” ujarnya.

Ia juga mengkritik kurangnya transparansi dalam pelaksanaan proyek, terutama terkait dokumentasi kondisi awal. Menurutnya, laporan pekerjaan sering kali hanya menampilkan hasil akhir tanpa memperlihatkan kondisi sebelum pekerjaan dimulai.

“Mereka tidak memaparkan kondisi nol sebelum kerja, hanya mengirim kondisi yang sudah 100 persen selesai,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa untuk kondisi jalan seperti yang diberitakan sebelumnya, seharusnya pekerjaan dimulai dari lapisan dasar yang kuat. Tahapan ideal mencakup penggunaan pondasi agregat kelas A yang dipadatkan hingga mencapai sekitar minimal 98 persen kepadatan, sebelum dilanjutkan dengan penghamparan lapis aus berupa Hot Rolled Sheet – Wearing Course (HRS-WC).

Dalam perencanaan proyek tersebut, disebutkan bahwa lapisan aspal memang hanya dirancang satu lapis, yakni HRS-WC. Oleh karena itu, kualitas pekerjaan pada lapis pondasi agregat menjadi faktor krusial dalam menjamin ketahanan jalan.

“Kalau pondasi tidak dikerjakan dengan baik, maka lapisan aspal di atasnya akan rentan rusak,” jelasnya.

Secara teknis, ia menambahkan bahwa dalam konstruksi jalan yang ideal, sebelum lapisan HRS-WC seharusnya digunakan lapisan dasar aspal seperti HRS-Base. Namun, berdasarkan petunjuk teknis dari pemerintah pusat, beberapa proyek langsung menggunakan HRS-WC tanpa lapisan tersebut, sehingga pelaksanaan di lapangan mengikuti desain yang telah ditetapkan.

Meski demikian, metode tersebut dinilai masih dapat diterapkan jika kondisi tanah dasar cukup stabil. Alternatif lain adalah dengan menggunakan urugan atau timbunan pilihan pada lapisan dasar sebelum pemasangan agregat.

Untuk proyek-proyek yang didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), praktik yang lebih umum dilakukan adalah konstruksi berlapis. Dimulai dari timbunan pilihan, dilanjutkan agregat kelas B, agregat kelas A, dan kemudian dilapisi aspal sebagai lapisan akhir.

Selain itu pekerjaan yang dilakukan selama musim hujan bukalah menjadi alasan. Kalau struktur tanahnya labisl ada altenatif lain yang sudah disiapkan seperti memperkuat struktur fondasinya dengan semen. Kecuali kalau ada bencana besar seperti banjir dan longsor yang tidak bisa dihindari atau force majure dalam istilah teknik. Kemudian sebelum pekerjaan dilakukan dalam perencanan teknis selalu ada uji daya dukung tanah apakah tanahknya labil atau tidak.

“ Berdasarkan keyakinan saya, dilihat dari kondisi agregat-nya yang terlihat dari video sangat tidak layak untuk dilapisi aspal harusnya itu dibuang dan diganti agregat baru yang tidak banyak kandungan lumpur tanah, selain itu sebelum pekerjaan dilakukan ada perencanaan teknis yang mengkaji keadaan geografis dan perkiraan cuaca selama pekerjaan. Itu menjadi resiko pekerjaan. “ katanya.

Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa kualitas jalan tidak hanya ditentukan oleh lapisan permukaan, tetapi juga oleh kekuatan struktur di bawahnya. Tanpa konstruksi yang sesuai standar, perbaikan permukaan seperti latasir dinilai tidak akan mampu memberikan solusi jangka panjang.
(Will)

Share It.....