Media Warisan Budaya Nusantara
Anggota DDPRD Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur dari Partai Demokrat Daerah Pemilihan Golewa raya, Benediktus Lagho, S.Pd menggandeng sejumlah pihak mendorong kembali semangat budi daya tanaman kopi di wilayah Golewa.
Demi mendongkrak minat para petani kopi, Anggota DPRD Benediktus Lagho menggandeng Kelompok Tani Desa Watunai Golewa Barat, memacu kembali budi daya tanaman kopi melalui penjabaran dana pokok pikiran nya sebagai wakil rakyat.
Disaksikan media ini, bertempat di wilayah Desa Watunai, dilakukan penanaman kopi perdana oleh Kelompok Tani Sinar Kasih, pada Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, hal ini penting dilakukan dan dikawal, sebab memberikan dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat, juga mendukung Ngada sebagai salah satu daerah dengan ikon kopi yang terjaga dari masa ke masa.
Selain itu, juga untuk mendukung sumber pendapatan asli daerah.
Menurut Wakil Rakyat, Bene Lagho, kecenderungan petani kopi membabat tanaman kopi diganti tanaman hortikultura, perlu mendapat perhatian serius, dengan cara mendukung pertanian hortikultura; sambil memacu peningkatan penanaman kopi.
“Satu tambah satu harus dua, jangan kopi tambah hortikultura menghasilkan kopinya hilang”, kata Wakil Rakyat Bene Lagho (3/2).
Dalam kegiatan tersebut, ia menggandeng Dinas Pertanian Ngada, Pemerintah Kecamatan Golewa Barat dan Penyuluh Pertanian Golewa Barat, serta Kepala Desa Watunai bersama perangkat, dan Kelompok Tani Sinar Kasih Watunai.
“Data menunjukan dari tahun 2015 sampai 2019 lahan perkebunan kopi kita mengalami penurunan dari 10 ribu hektar turun 7000 hektar, sisa tiga ribuan hektar. Keadaan seperti ini menunjukan potensi negativ bagi perkebunan kopi kita, jika tidak segera didorong untuk bangkit kembali. Maka saya mengajak kita semua agar menjadi pelaku terdepan, membangkitkan kembali kejayaan kopi Ngada. Kopinya maju, hortikultura juga berkembang”, ujar Anggota DPRD Ngada Bene Lagho.
Pada kesempatan yang sama, Dinas Pertanian juga memastikan adanya penurunan drastis jumlah lahan perkebunan kopi di Ngada.
“Kita dibawah tahun 2010 masih ada ekspor perdana dengan kesanggupan dua puluh sampai tiga puluhan ekspedisi. Dua ratusan ton sanggup kita penuhi ekspor ke Amerika, Australia dengan berbagai varian pengolahan. Tetapi setelah itu kita sedikit meredup, terlebih setelah alih fungsi lahan yang cukup masif”, kata JFT Dinas Pertanian Ngada, Atanasius Jawa Sebo, (3/2).
Sementara itu Pemerintah Kecamatan Golewa Barat juga mengungkapkan data penurunan yang cukup tajam dari waktu ke waktu, sehingga dibutuhkan dukungan berbagai pihak guna memacu kembali sektor perkebunan yang satu ini.
“Dari aspek alih fungsi lahan, memang terjadi perubahan cukup signifikan atas lahan perkebunan kopi. Minat petani ke tanaman horti cukup besar, sebab menyangkut dengan pendapatan langsung. Kita tidak mempersalahkan hal itu, kita hanya perlu mendorong bersama agar horti meningkat, kopi pun semakin bertumbuh”, kata Camat Golewa, Wilibaldus Gori.
Sementara menurut Koordinator Penyuluh Golewa Barat, Marsianus Djawa, Pemda termasuk DPRD Ngada perlu menghasilkan regulasi yang mengatur secara jelas dan memiliki sanksi agar pola alih fungsi lahan perkebunan kopi tidak dilakukan seturut kehendak warga.
“Proteksi lahan perkebunan adalah kebutuhan saat ini, jika kita mau membicarakan masa depan perkebunan kopi di Ngada”, kata Koordinator Penyuluh Golewa Barat, Marsianus Djawa.
Poktan dan Kades Minta Traktor
Kelompok Tani (Poktan) Sinar Kasih Desa Watunai bersama Kepala Desa setempat menyampaikan terima kasih atas perhatian Amggota DPRD Ngada Benediktus Lagho serta Dinas Pertanian dan Pemerintah Kecamatan Golewa Barat yang telah memberikan semangat dan dukungan kepada para petani Desa Watunai.
Mereka juga menyampaikan terima kasih kepada wakil rakyat Benediktus Lagho yang mengalokasikan Dana Pokok Pikiran (Pokir) untuk segmen perkebunan, khususnya kopi yang terus mengalami pengurangan jumlah lahan di wilayah mereka.
“Kami juga menitip harapan sekiranya kami bisa mendapatkan bantuan peralatan Tratktor guna mengelola lahan yang jumlahnya masih banyak di wilayah Desa kami”, ungkap Ketua Kelompok Tani Sinar Kasih Desa Watunai, Nesti Ule, dibenarkan Kepala Desa Watunai, Darius Deru.
WBN
