AS dan Iran Saling Ancam, Trump Menyerah atau Sekutu AS’ di Kawasan Kembali ke Zaman Batu

Iran menegaskan menolak tunduk pada gertakan dan ancaman dari Presiden AS, Donald Trump.

Seorang penasihat juru bicara Parlemen Iran mengeluarkan ultimatum balasan kepada Presiden AS Donald Trump yang menegaskan bahwa Teheran tidak akan tunduk terhadap ancaman. Ia bahkan mengingatkan bahwa sekutu AS di kawasan akan “dikirim ke Zaman Batu” jika Washington tidak menyerah.

“Adalah Trump yang memiliki waktu 20 jam untuk menyerah kepada Iran atau sekutu-sekutunya akan kembali ke Zaman Batu. Kami tidak akan tunduk,” kata Mahdi Mohammadi, penasihat dari Mohammad Bagher Ghalibaf, dikutip News 18, Selasa (7/4/2026).

Pertanyaan Mohammadi itu menegaskan bahwa kepemimpinan di Iran tidak tunduk pada peringatan dan ancaman Trump. Diketahui, Trump memberikan batas waktu hingga Selasa malam waktu Washington (Rabu WIB) agar Iran mencapai kesepakatan dan membuka Selat Hormuz, atau AS akan meledakkan semua pembangkit listrik dan jembatan di Iran.

Namun pada Senin, Trump tetap berharap dapat menghindari serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan Iran, dengan tenggat waktu yang semakin dekat. “Saya harap saya tidak perlu melakukannya,” kata Trump kepada wartawan ketika ditanya tentang ancamannya sebelumnya untuk menyerang sejumlah sasaran di Iran.

Trump menambahkan bahwa saat ini adalah periode kritis dan tindakan AS di masa depan akan bergantung pada respons Iran. Ia pun menegaskan bahwa dia memiliki rencana pasti untuk menyelesaikan konflik Iran, tetapi dia tidak akan mengungkapkannya kepada publik.

“Saya punya rencana terbaik, tapi saya tidak akan memberi tahu Anda apa rencana saya,”

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil dalam perang merupakan pelanggaran hukum internasional. Peringatan dari PBB itu menyusul ancaman Donald Trump akan meledakkan jembatan dan pembangkit listrik di Iran.

Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, sebagaimana dikutip dari situs web lembaga dunia itu, dalam konferensi pers siang di Markas PBB, Senin (6/4/2026), menyampaikan bahwa pihaknya mengaku khawatir akan ancaman yang disampaikan Trump melalui media sosial Truth Social.

“Kami terkejut dengan retorika dalam media sosial tersebut yang mengancam serangan AS ke pembangkit listrik, jembatan, dan infrastruktur sipil lain jika Iran tak menyetujui kesepakatan apapun,” kata Dujarric, berdasarkan transkrip konferensi pers yang dipantau di Jakarta, Selasa.

“Serangan apapun terhadap infrastruktur sipil adalah pelanggaran hukum internasional yang jelas,” katanya menambahkan.

Menurut Dujarric, Sekjen PBB Antonio Guterres telah menyampaikan bahwa fasilitas sipil, khususnya fasilitas energi, tak boleh diserang.

Hukum humaniter internasional juga melarang serangan terhadap fasilitas sipil yang memenuhi syarat sebagai target serangan militer jika serangan tersebut dapat menyebabkan jatuhnya korban sipil yang besar, katanya. Ia menyampaikan bahwa Sekjen PBB terus mendesak semua pihak untuk memenuhi kewajiban mereka terhadap hukum internasional meski saat sedang saling berperang.

“Sekali lagi, Sekjen PBB menegaskan saat ini adalah waktunya semua pihak mengakhiri konflik karena tidak ada pilihan lain di luar penyelesaian konflik internasional secara damai,” tutur Dujarric.

WBN

Share It.....