Abu Sayaff Tawan WNI,  TNI Belum Bertindak

 

PenyandrndraWarga Negara Indonesia (WNI) oleh kelompok perompak Abu Sayyaf di Filipina di sampaikan anggota Komisi I DPR Syaiful Bahri Anshori perlu segera di lakukan penyelamatan, pemerintah RI harus bersikap tegas terkait dengan disanderanya yang di lakukan September lalu.

“Saya berharap pemerintah bertindak tegas terkait dengan penyanderaan ini kalau dibiarkan kasihan dengan orang yang di sandera,” kata Syaiful Bahri Anshori, melaluin sambungan selulernya, Minggu (21/12).

“Oleh karena itu Pemerintah dalam hal ini TNI harus segera berkoordinasi dengan pemerintah Filipina guna membebaskan para WNI ditahan,” desak Syaiful Bahri Anshori.

Syaiful Bahri Anshori minta pemerintah tidak boleh kalah oleh apapun apalagi terorisme terlebih adanya WNI menjadi korban penyanderaan dan ini tanggung jawab semua pihak.

“Saya fikir kita sepakat kalau pemerintah tidak boleh kalah dengan teroris atau penyandera dengan alasan apapun. Dan kita berharap Mengan baru ini segara bertindak dan bersikap soal penyanderaan ini,” tegas Syaiful Bahri.

Syaiful Bahri Anshori yang akrab disapa SBA, mengutip pernyata dari petinggi TNI untuk melangkah dalam pembebasan menunggu keputusan politik negara.

DPR asal pemilihan Jawa Timur IV meliputi kabupaten Lumajang dan kabupaten Jember mengatakan, kalau negara belum memberi perintah, maka TNI belum bisa melakukan apapun, langkah TNI baru bisa dilakukan berdasarkan keputusan politik negara.

Diketahui, kelompok Abu Sayyaf diduga menculik tiga nelayan asal Indonesia dari perairan dekat Lahad Datu, Sabah, Malaysia, dan membawa mereka ke Filipina. Mereka meminta uang tebusan sebesar 30 juta peso (Rp 8,3 miliar) untuk pembebasan mereka. Ketiga WNI itu diketahui telah disandera sejak September lalu.

Tiga WNI yang diculik itu diidentifikasi bernama Samiun Maneu (27), Maharuydin Lunani (48), dan Muhammad Farhan (27). Lunani dan Farhan merupakan ayah dan anak. Ketiganya diculik oleh sekelompok pria bersenjata dari kapal mereka di perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah, pada September lalu. Dilaporkan bahwa ketiga WNI dibawa ke gugusan Kepulauan Tawi-Tawi di Filipina bagian selatan dan kemudian ke Jolo, yang diketahui merupakan markas Abu Sayyaf. (Fendy)|™red ndra