Catatan Keprihatinan Kasus Pemukulan Warga Melonguane Oleh Oknum TNI

Oleh: : Jerry F. G. Bambuta.
Forum Literasi Masyarakat Nusa Utara Kabupaten Kepulauan Talaud

Aksi demo warga Melonguane pada hari kemarin, 23 Januari 2026 ibarat membangunkan “spirit kolektifitas” yang selama ini tidur di bumi Porodisa.

Kasus pemukulan warga oleh oknum TNI AL di pelabuhan Melonguane menjadi “cacat” ke sekian kalinya, setelah kasus serupa yang pernah terjadi pada 4 Oktober 2023, ketika oknum TNI AL yang tergabung dalam Satgas Gakkumla terlihat adu jotos dengan kru kapal di Pelabuhan Manado.

Memory keprihatinan ini rasanya belum hilang dari benak warga Nusa Utara, dan hari ini luka keprihatinan kembali harus menganga dengan kejadian pemukulan warga di Pelabuhan Melonguane.

Dari kasus silam yang terjadi di Pelabuhan Manado hingga kasus serupa di Pelabuhan Melonguane, korban pemukulan pun masih sama yaitu Warga Nusa Utara.

Tidak bermaksud membuat emosi entitas mendidih dengan realitas ironi ini, tetapi membuat segenap entitas warga Nusa Utara tertegun dalam keprihatinan mendalam, sekaligus memantik sikap moral secara kolektif atas nama entitas dan solidaritas Nusa Utara.

Kejadian kematian seorang anak dari Nusa Utara bernama Evia Mangolo belum lama berselang, dan hari ini bersambung dengan korban yang lain dari Nusa Utara bernama Berkam Saweduling. Jika Evia Mangolo adalah anak didik yang di lecehkan pendidiknya, maka Berkam Saweduling adalah pendidik yang teraniaya oleh aparat.

Sangihe, Talaud dan Sitaro adalah cakupan kawasan Nusa Utara yang bercorak wilayah kepulauan, di mana mayoritas wilayahnya adalah perairan. Harusnya, peran pertahanan/keamanan TNI AL di kawasan Nusa Utara menjadi sangat krusial. Tugas luhur sebagai “wira samudera” malah harus tercoreng oleh sekelompok oknum TNI AL yang di duga sudah di pengaruhi miras.

Warga kepulauan yang harusnya di lindungi malah harus menjadi korban pengeroyokan brutal. Aksi brutal dari oknum-oknum ini telah merusak keluhuran amanah “Jalesveva Jayamahe”.

Beranjak dari tragedi memalukan ini, maka ada beberapa catatan yang harus di atensi oleh pimpinan TNI AL dari pusat hingga ke daerah, yaitu:

1. Melakukan investigasi secara serius dan terang benderang terhadap kasus ini.
2. Menyeret semua pelaku pemukulan ke pengadilan militer dan di proses hukum sebagaimana mestinya.
3. Meminta pihak pimpinan TNI AL untuk bertanggung jawab untuk kebutuhan perawatan medis dari korban pemukulan.
4. Mendesak para pimpinan TNI AL dari pusat hingga ke daerah agar posisi Danlanal di kawasan Nusa Utara (khususnya Talaud), wajib di tempati oleh putera daerah yang kompeten.
5. Dengan adanya catatan no (4), maka kepempimpinan danlanal sebagai representasi TNI AL bisa membangun sisi pengayoman masyarakat yang lebih humanis.
6. Catatan no (4) dan (5) tak bermaksud di dorong karena pola pikir primordialistik, tapi dengan kepemimpinan putera daerah, setidaknya rasa “sense of belonging” sebagai putera daerah akan membangun wajah kepempimpinan yang lebih sejuk bagi masyarakat.

Enam catatan ini menjadi tantangan serius bagi TNI AL. Kasus hari ini bukan cuma menjadi luka personal bagi para korban, tapi telah menjadi luka kolektif bagi entitas Nusa Utara. Bukan tak mungkin bisa memicu trauma kolektif warga Nusa Utara terhadap aparat TNI AL.

Dalam kejadian ini, kewibawaan TNI AL sebagai pengawal samudera Nusantara menjadi taruhannya. Setidaknya, enam catatan di atas bisa menjadi upaya memulihkan kewibawaan TNI AL, sekaligus memulihkan kepercayaan publik Nusa Utara terhadap TNI AL.

Menapak tilas sejarah masa lalu, dulunya di Talaud ada pejuang yang melindungi tapal batas samudera bernama Raja Larenggam. Di Sangihe ada pejuang bernama Bataha Santiago yang terkenal dengan pekik juangnya “Nusa kumbahang katumpaeng”. Dan, dari Sitaro ada laksamana laut penjaga samudera bernama Laksamana Hengkeng U Naung.

Bangsa ini harus tahu bahwa dalam darah entitas Nusa Utara mengalis deras takdir pejuang bahari. Jangan nodai takdir luhur ini dengan arogansi bobrok yang menginjak-injak kemanusiaan. Semboyan luhur TNI AL “Jalasveva jayamahe” yang mengandung makna “kita jaya di laut”.

Semboyan juang tersebut bukan hanya menjadi milik TNI AL, tapi telah mengalir deras sejak masa lalu dalam hidup entitas Nusa Utara. Hingga hari ini, Entitas Nusa Utara masih kokoh berdiri sebagai “pejuang bahari” yang mengawal Indonesia di Bibir Pasifik.

“Somahe kai kehage, sansiote sampatepate, pakatiti tuhema pakanandu mangena boleng balang sengkahindo”.

Penulis : Jerry F. G. Bambuta.

Tinggal di Minahasa Kecamatan Langowan.

____________________________________

(Artikel ini telah ditayangkan oleh Media Warisan Budaya Nusantara, WBN. Keseluruhan isi artikel merupakan tanggung jawab penulis).

Share It.....