Media Warisan Budaya Nusantara
Dua Kader Partai Gerindra Provinsi Nusa Tenggara Timur, Fernando J Osorio Soarez selaku Sekretaris DPD Partai Gerindra NTT, juga sebagai Wakil Ketua I DPRD NTT, bersama Rudolf Aqroz Wogo selaku OKK DPC Gerindra Ngada, sekaligus Wakil Ketua I DPRD Ngada, menyampaikan belasungkawa kepada ibu kandung korban atas kepergian YBR (10) seorang Anak Sekolah Dasar Kelas IV SDN Ruto Jawa Desa Nenowea Kecamatan Jerebuu Kabupaten Ngada NTT yang meninggal diduga bunuh diri, ditemukan pada Kamis (29/1/2026).
Korban YBR (10) pergi dengan meninggalkan sebuah surat bertulis tangan dalam bahasa Bajawa Kabupaten Ngada, untuk ibu kandungnya, Maria Goreti Tea (47).

KERTAS UNTUK MAMA RETI
MAMA SAYA PERGI DULU
MAMA RELAKAN SAYA PERGI
JANGAN MENANGIS YA MAMA
MAMA SAYA PERGI
JANGAN MENANGIS DAN JANGAN CARI SAYA
SELAMAT TINGGAL MAMA
Disaksikan media ini, Rabu (4/2/2026), kader Gerindra Ngada, juga selaku Wakil Ketua I DPRD Ngada, Rudolf Aqroz Wogo mendatangi rumah duka di Kampung Dona Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu Ngada, menyampaikan turut berduka mendalam atas kepergian YBR (10) yang ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri.
Pada kesempatan tersebut Rudolf Aqroz Wogo menyerahkan uang duka sebesar Rp.15.000.000 (Lima Belas Juta Rupiah) dari kantong pribadinya bersama kader Gerindra NTT, Fernando J Osorio Soarez.
Tangisan ibu kandung korban langsung pecah usai menerima peduli sosial yang diserahkan langsung kepadanya di rumah duka.
“Turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas kepergian anak harapan bangsa dalam kisah yang sangat mengharukan ini. Secara pribadi, maupun sebagai kader Gerindra serta sebagai wakil rakyat, saya bersama Fernando Osorio Soarez serta Partai Gerindra mengucapkan rasa duka cita atas kejadian ini. Sebagai kader, sebagai wakil rakyat, kejadian ini mengandung pesan yang sangat mendalam, serta menampar nurani kita dalam memastikan tata kelola yang baik serta tindakan sosial yang harus selalu dikedepankan dalam bernegara. Banyak hal yang harus digali dan dikaji secara sungguh-sungguh serius atas kejadian ini, mulai tingkat terbawah sampai ke daerah”, ungkap Rudolf Aqroz Wogo.
Ekonomi Lemah dan Ritual Pemulihan
Dengan tangisan dan air mata haru, ibu kandung korban menyampaikan terima kasih banyak atas perhatian kader Gerindra dalam peristiwa duka yang dialaminya.
Dalam tradisi adat Ngada, kepergian YBR (10) disebut dengan istilah Mata Golo atau kematian tidak wajar.
Selain kedukaan melilit, secara tradisi setempat, ibu kandung korban harus mempersiapkan diri untuk melaksanakan ritual pemulihan atas kematian yang dianggap tidak wajar atas putra bungsunya.
Dalam kondisi ekonomi lemah, seorang janda, ibu kandung korban harus menyediakan uang dalam jumlah yang cukup besar, guna membeli kerbau dan hewan kurban lainnya serta beras dan daftar kebutuhan tambahan guna melakukan ritual wajib, upacara pemulihan atas musibah kematian tidak wajar yang menimpa anaknya.
Cucuran air mata dan tangisan sang ibunda pecah tidak terbendung atas segala yang menimpanya dalam kedukaan yang sungguh menyayat ini.
WBN
