B2P3KS: Budaya dan seni sebagai media pencegahan konflik sosial

Lumajang, Jawa Tengah – Kementerian sosial RI dalam menciptakan kerukunan antar pribadi, golongan, etnis, agama dan lainnya dengan pencegahan konflik masyakarat melalui kearifan lokal. Hasil pengamatan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Jogjakarta di kabupaten Lumajang Jawa Timur dalam beberapa hari, perlu merangkul orang-orang yang punya kebijakan untuk berfikir bersama dan melangkah bersama mendorong para pelaku seni, kebudayaan yang saat ini keberadaannya terus meredup.

Dikatakan Ratih Probosiwi dari B2P3KS Jogjakarta, Kementerian Sosial RI mempunyai program “Penguatan Kearifan Lokal” yang perlu para pelaku seni kebudayaan memahami untuk memperoleh bantuan stimulan dalam penguatan seni kebudayaan dan pakem-pakem dari kesenian lokal itu. Konfirmasi data B2P3KS Jogjakarta kearifan lokal masyarakat dalam pencegahan konflik sosial bersama pelaku seni di hotel Lumajang 23 Mei kemarin harus ada komitmen dan kesungguhan.

“Sudah kami terima tadi bahwa ada masalah-masalah pembinaan ya, tapi itu sudah dikemukakan bahwa pembinaan itu tidak harus jadi tanggung jawab pemerintah juga harus jadi tanggung jawab masyarakat dan swasta, agar masyarakat bisa terlibat langsung cara aktif untuk meningkatkan melestarikan kearifan lokal dengan menciptakan kerukunan melalui kearifan lokal”, kata Ratih.

Harapan apa yang sudah dan akan di lakukan disini oleh Ratih bersama dua rekannya dari B2P3KS Jogjakarta, dia akan membawa dalam rekomendasi, “Insaalloh kami ajukan salah satu model peningkatan kearifan lokal yang akan saya bawa ke Kementerian”, kata Ratih.

Selai itu di tekankan Ratih apa yang telah dijadikan kebijakan pemerintah tidak lepas dalam penguatan NKRI seperti yang saat ini di kerjakan melalui seni dan budaya.

Dalam kesempatan itu juga Pengamat Kesenian dan Budaya kabupaten Lumajang Mohammad Zaenul menambahkan perlu adanya kajian literasi untuk mendapatkan legalitas, juga pola pembinaan harus mulai disempurnakan bukan merobah dan penguatan masing-masing lini mulai dari Karang Taruna, sanggar tari, tokoh masyarakat, tokoh agama. Mereka untuk mempertahankan kesenian dan budaya jagan sampai homogen harus nitrogen sebab masing-masing orang ada kekurangannya. Dan terpenting lagi menumbuhkan kecintaan seni dan budaya kepada masyarakat harus ada semangat kebersamaan.

“Tidak terjadi kotak-kotak terjadi substansi ter kotak-kotak, tapi substansi kotak-kotak dalam memperkuat identitas kearifan lokal bukan lagi lagi ter kotak-kotak karena beda pandangan”, kata Mohammad Zaenul.

Penulis Efendi
RED-WBN HS