Kemerdekaan yang Terselubung: Antara Retorika dan Realitas Pelayanan Publik

oleh : John Mozes Hendrik Wadu Neru

Anthony de Mello dalam kisahnya pernah menulis tentang seekor katak yang terus-menerus berdoa minta kebebasan dari sumur, tetapi saat pintu sumur terbuka ia menolak keluar karena sudah terbiasa hidup di dalamnya. Kisah sederhana itu mengingatkan kita: seringkali manusia berseru meminta kebebasan, tetapi ketika kebebasan itu datang, kita justru enggan menghidupinya.

Gambaran ini sejalan dengan suara keras Rasul Paulus dalam II Korintus 3:1–18: “Di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan.” Namun ironisnya, kemerdekaan yang dimaksud Paulus bukan kemerdekaan retorika, bukan sekadar kemerdekaan yang diperdagangkan dalam janji politik atau ditaburkan dalam slogan pembangunan. Paulus berbicara tentang kemerdekaan sejati: kebebasan dari selubung kepura-puraan, dari hukum yang mematikan dan dari kemuliaan yang cepat pudar.

Sayangnya, di ruang publik kita hari ini, kemerdekaan itu masih terlalu sering terselubung—diselimuti jargon, ditutupi pencitraan, bahkan dikorupsi oleh kepentingan sempit.

I. Moralitas Publik yang Terselubung

Paulus menyinggung Musa yang menutupi wajahnya dengan selubung agar Israel tidak melihat kemuliaan yang pudar. Analogi ini sangat relevan bagi moralitas publik kita: wajah-wajah pejabat, pengusaha dan bahkan pemuka agama pun seringkali ditutupi “selubung” moralitas.

• Ada wajah pura-pura peduli, padahal sedang mengejar proyek.

• Ada wajah pura-pura melayani, padahal sedang menghisap rakyat.

• Ada wajah pura-pura beriman, padahal sedang meneguhkan kuasa.

Selubung moralitas itu membuat publik bingung: mana yang otentik, mana yang sekadar pertunjukan? Jika Paulus menegaskan bahwa “jemaat adalah surat Kristus yang terbuka,” maka di ruang publik kita justru yang tampak adalah “surat rekomendasi palsu”—hidup yang tidak lagi transparan, hanya formalitas dan basa-basi.

II. Huruf yang Mematikan, Bukan Roh yang Menghidupkan

Di ayat 6 Paulus memberi peringatan tajam: “Sebab huruf mematikan, tetapi Roh memberi hidup.” Ini adalah kritik paling relevan terhadap birokrasi kita hari ini. Kita hidup di tengah aturan, prosedur dan dokumen yang menumpuk, tetapi justru melumpuhkan.

Bantuan sosial, misalnya, seharusnya jadi saluran hidup bagi masyarakat kecil. Tetapi di lapangan, berkas-berkas menjerat: data yang tidak akurat, distribusi yang bocor, prioritas yang bias. Aturan seakan hidup, tetapi rakyat yang seharusnya terbantu justru mati dalam antrean. Bukankah ini persis “huruf yang mematikan”?

Paulus mengingatkan: pelayanan publik semestinya lahir dari roh yang menghidupkan—roh yang menyalurkan keadilan, bukan birokrasi kaku; roh yang melayani rakyat, bukan melayani kertas.

III. Kemuliaan yang Pudar

Paulus menyebut perjanjian lama memang mulia, tetapi sifatnya sementara. Kemuliaan itu pudar. Gambaran ini terasa satire bila kita melihat wajah pelayanan publik di negeri ini. Betapa sering kita melihat “kemuliaan yang cepat pudar”:

• Jalan aspal mulus saat peresmian, tetapi tiga bulan kemudian penuh lubang.

• Gedung megah dibangun dengan anggaran fantastis, tetapi sepi fungsi.

• Janji kampanye bersinar saat mikrofon dinyalakan, tetapi pudar di tengah kesibukan kursi kekuasaan.

Apa bedanya dengan wajah Musa yang ditutupi selubung agar orang tak melihat kemuliaan yang surut? Kita pun sering menutupi fakta memalukan dengan acara seremonial, baliho besar, atau berita media yang penuh gincu.

IV. Kemerdekaan yang Salah Arah

“Di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan.” Ayat ini sering kita kutip di mimbar, di baliho, bahkan di pidato 17 Agustus. Namun, apakah kita sungguh paham maknanya?

Kemerdekaan di ruang publik kita sering dipelintir menjadi kebebasan tanpa tanggung jawab.

• Bebas korupsi karena merasa aman di balik jaringan politik.

• Bebas merusak lingkungan karena punya izin resmi.

• Bebas melanggar aturan karena “semua orang juga melakukannya.”

Ironinya, rakyat kecil justru tidak bebas. Mereka masih terjerat antrean BBM, listrik yang padam bergilir dan harga kebutuhan pokok yang terus melambung. Maka kemerdekaan itu akhirnya hanya kemerdekaan terselubung: tampak indah dalam pidato, tetapi hampa dalam kenyataan.

V. Menyingkap Selubung, Menemukan Kemerdekaan

Paulus menutup bagian ini dengan kalimat yang indah: “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak terselubung dan karena kemuliaan itu kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar oleh Roh Tuhan.”

Inilah kritik sekaligus undangan. Kritiknya jelas: moralitas publik yang berselubung, birokrasi yang mematikan dan kemerdekaan yang pudar hanyalah tanda bahwa kita masih menolak menyingkap wajah. Kita masih senang bersembunyi di balik topeng.

Undangannya juga jelas: publik, entah pejabat maupun rakyat, dipanggil untuk berani hidup otentik—menjadi “surat terbuka” yang bisa dibaca semua orang. Bukan surat rekomendasi palsu, bukan janji kosong, melainkan kehidupan nyata yang membebaskan.

VI. Penutup

Opini ini tentu bukan sekadar satire kosong. Paulus menegaskan bahwa kemerdekaan sejati hanya lahir dari Roh Tuhan. Itu artinya, moralitas publik yang sejati juga lahir dari roh yang melayani, bukan dari huruf aturan yang kaku.

Karena itu, bila kita sungguh ingin merayakan kemerdekaan bangsa, kita harus berani menyingkap selubung: selubung pencitraan, selubung formalitas, selubung kepura-puraan. Sebab kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan tanpa arah, melainkan hidup yang transparan, adil dan otentik.

Jika tidak, kita akan terus berada dalam kemerdekaan yang terselubung—merdeka dalam retorika, tetapi tetap terbelenggu dalam realitas.

Share It.....