54 views

Penca Dermayon Olahraga Budaya Yang Terpendam

Indramayu, Jawa Barat – Penca dermayon salah satu olah raga tradisional budaya terpendam yang sekian lama sejak era kolonial sudah hampir dihapuskan konon era penjajahan belanda melarang masyrakat berlatih bela diri.

Ketakutan penjajah terhadap penduduk yang berlatih beladiri saat itu dianggap mengikuti pembrontak yang melawan kebijakan belanda di tanah air saat itu sehingga masyarakat secara sembunyi sembunyi berlatih beladiri demi kepentingan perjuangan atas kemerdekaan tanah air Indonesia.

 

Tahun 1901 wilayah perlintasan dan peristirahatan penjajah di desa cangkingan bagian jalur penghubung antara Distrik cirebon melalui kawedanan Karngampel arah kawedanan Jatibarang, Desa cangkingan meninggalkn sejarah tampk dari bangunan bangunan tua konon di bangun dari tahun 1901 hingga 1924 masih nampak hingga kini.

Desa Cangkingan selain meninggalkan bangunan kuno masa kolonial juga meninggalkan jejak olahraga tradisional yaitu penca lokal yang kini disebut Penca Dermayon bagian dari seni dan budaya masa lampau.

Penca Lokal Dermayon Desa Cangkingan Kini dilestarikn oleh salah satu tokoh masyrakat dan pembudaya KI WAROK WIRALODRA panggilan khusus yang memiliki nam asli SUTRISNO yang mewarisi Penca Dermayon dari kakeknya alm. Bpk. Kamun.”saya mewarisi Penca Lokal ini dari kakek saya yang konon menurut cerita ini dilatih khusus oleh ayahnya kakek yang pada saat itu ikut dalam perjuangan membela kemerdekaan tanahbair indonesi, dan gerakan penc ini tidak diturunkan kepada anak anak kakek penca hanya diturunkan pada saya dalam proses pembelajaran cukup lama,” jelas KI WAROK

“Dan penca lokal indramayu ini dilatih untuk melawan dan melumpuhkan lawan yng pada saat itu adalah penjajah belanda, klo dilahat gerakanya biasa saja tapi bisa mematikan saat digunkan, adapun untuk gerak seninya saya kembangkan lagi dan dikemas sesimple mungkin agar mudah diajarkan terhdapa generasi penerus,Nama peguron saat ini penca lokal indramayu dari Desa Cangkingan adalah PENCAKAR” imbuh penjelasan KI WAROK saat diwawancarai.

 

Reporter Sutrisno • Red-wbn Hs.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *