Seorang Ibu di Maros Jualan Tusuk Sate Serta Lakukan Beberapa Kerjaan Lainnya Untuk Hidupi Keluarganya

MAROS, 7/9/2020 – Selama 17 tahun ditinggal sang suami, ibu Sidah (41 tahun) menjadi tulang punggung keluarga untuk menafkahi kedua anaknya. Sebelum berjualan tusuk sate, ia bekerja sebagai baby sister dan setelah itu ia bekerja pada sebuah kedai yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Lembar per lembar uang dikumpulkannya, demi melanjutkan kelangsungan hidup bersama keluarganya dan Pendidikan anaknya.

Ibu Sidah bersama kedua anaknya tinggal di Lingkungan Baniaga, Kelurahan Taroada, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Ia sudah 3 tahun menekuni profesi sebagai pembuat tusuk sate, terhitung sejak 2017 hingga saat ini.

Hasil dari berjualan tusuk sate diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga dan biaya sekolah kedua anaknya. Namun sangat pilu, kedua anaknya tak dapat lagi melanjutkan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi karena keterbatasan biaya dan hanya mampu menempuh pendidikan hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), itupun ikut program sekolah gratis pemerintah. Tak hanya sampai disitu, ujian hidupnya semakin bertambah ketika Safaruddin (25 tahun) yang merupakan anak pertamanya mengalami luka serius akibat kecelakaan kerja.

Setiap harinya ia memotong dan membelah bambu untuk dijadikan tusuk sate. Dalam sebulan ia mampu memproduksi 8 kardus tusuk sate dan dijual seharga 50 ribu rupiah per kardus seukuran mie instan atau senilai 400 ribu rupiah/bulan. Uang hasil penjualan itulah yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari hingga biaya berobat anaknya.

Setelah melalukan assestment secara mendalam, tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kabupaten Maros dengan segera menyalurkan bantuan berupa modal usaha sekaligus renovasi rumah dan biaya berobat untuk anaknya.

“Dengan bantuan ini saya sangat bersyukur sekali, karena saat ini saya harus membantu keluarga yaitu anak-anak yang sedang sakit. Adanya bantuan dari Sahabat Dermawan ACT dapat menambah produksi tusuk sate saya, setidaknya dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membayar hutang-hutang saya.” Ungkap Ibu Sidah pada Selasa (07/09).

(Herman)