Misteri dan Jejak Mistis Danau Kelimutu Ende, Flores
52 / 100 SEO Score

Oleh : Tim Pers Warisan Budaya Nusantara / Redaksi Cabang NTT / Aurelius Do’o  Tim

Danau Kelimutu yang berada di Pulau Flores, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya berada di wilayah Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, dengan catatan kesohoraan multi aspek, sangat mendunia, berpigura kharisma dibalut segudang kisah kesaksian atas kilas-kilas kedahsyatan aura alam nya, diyakini tidak akan perna habis tergali seluruh misteri dan aura mistis Danau Tiga Warna Kelimutu Ende, Flores. Tentang Kelimutu, kita-kira demikian !

Dalam kamus Bahasa Lio Utara Kabupaten Ende, Keli berarti Gunung. Mutu menunjukan tempat perhentian sementara jiwa-jiwa dan atau seperti sebuah lokasi tertentu usai melalui jalan ataupun rute tapak (jelajah roh) pasca kematian. Tidak sedikit pula kata ‘Mutu’ direfleksikan sebagai ‘pintu menuju ke sebuah tempat, sebagai terminal antrean dan lain-lain dalam pemaknaan culutur setempat.

Warga Kabupaten Ende sendiri mengetahui betul makna budaya dan sabda-sabda alam tentang Kelimutu sebagai salah satu tempat dengan segudang panorama berkharisma. Kelimutu adalah juga disebut sebagai situs super mistis dengan keangkeran super dahsyat yang tidak dapat dijangkau indera biasa.

Kelimutu memiliki Tiga Danau dengan masing-masing warna. Dalam beberapa dekade terakir, tampilan warna danau sering mengalami perubahan. Bagi warga Ende Lio, perubahan warna dalam kawah Danau kelimutu tidak lah sekedar dipahami sebagai perubahan warna lapisan dasar Danau itu semata. Tetapi perubahan warna kawah danau mengisyaratkan sesuatu yang jauh lebih sakral dari sebatas refleksi ilmu pengetahuan alam.

Tiga Kawah Danau Kelimutu diberi dengan nama dalam Kamus Bahasa Daerah setempat, Bahasa Lio, yakni : Tiwu (Danau) Ata Bupu, yang berarti Danau Para Jompo dan Orang Tua, Tiwu Ata Polo, yang berarti Danau Iblis, Suanggi, Sihir. Tiwu Nuwa Muri Ko’u Fai, yang berarti Danau Muda Mudi.

Berdasarkan tutur Adat Lio secara turun temurun dan terus dikisahkan hingga saat ini, mengatakan penamaan masing-masing Danau, tidak sekedar nama biasa, tetapi berdasarkan legenda seluruh leluhur di wilayah setempat.

Kharisma maupun Aura Mistis Danau Kelimutu dalam pengakuan peradaban budaya maupun tutur kisah warga Ende Lio sejak zaman dahulu, merupakan sebuah tempat atau kerajaan yang dihuni oleh sosok pemilik sakral bernama Konde dan Ratu.

Dilegendakan, pada kehidupan masa tertentu, hidup juga di tempat itu manusia Ata Bupu dan Ata Polo yang dikenal sebagai Penyihir jahat. Kehidupan berada dalam garis kekuasaan teritori Konde dan Ratu.

Keseharian Ata Polo dan Ata Bupu hidup dalam ikatan sosial kedekatan hubungan antara mereka seperti biasa, layaknya manusia zaman sekarang, yang baik dan jahat berada dalam satu bangsa, satu darah dan seterusnya. Ata Bupu berpembawaan sangat baik, dia suka tolong menolong sesama dan mengayomi. Sementara Ata Polo adalah sosok yang bertuankan pada jin, makluk gaib jahat dan selalu menebar kehancuran terhadap segala kebaikan. Ata Polo juga dikisahkan memakan manusia.

Dengan kondisi seperti itu, pada suatu masa datanglah sepasang manusia yang dalam dalam Bahasa Lio Ende disebut Ana Kalo. Ana Kalo berarti Anak Yatim tanpa ayah dan bunda, ditinggal pergi orangtua dan lain-lain.

Sepasang Ana Kalo itu mendatangi Ata Bupu dan meminta perlindungan, meminta pengayoman dan meminta untuk dipelihara oleh Ata Bupu. Permintaan itu dipenuhi dengan seganap hati dan rasa ibah oleh Ata Bupu.

Namun sebelum memenuhi permintaan Ana Kalo, Ata Bupu meminta Ana Kalo harus memenuhi prasyarat, yakni dilarang meninggalkan ladang milik Ata Bupu, agar tidak menjadi korban dimangsa oleh Ata Polo. Prasyarat itu menjadi pasal persetujuan Ata Bupu dan Ana Kalo. Mereka pun memulai kehidupan, Ana Kalo bersama Ata Bupu.

Lambat laun, keberadaan Ana Kalo dalam perlindungan Ata Bupu diketahui oleh Ata Polo. Berbagai upaya dilakukan Ata Polo untuk bisa memangsa Ana Kalo. Namun, dengan segala susah payah, berbagai rencana jahat Ata Polo selalu saja dapat digagalkan oleh Ata Bupu.

Selanjutnya demikian hingga tiba lah pada suatu masa, Ata Bupu yang kian menua, makin jompo merasa Ata Polo terlalu mengusik kehidupan mereka.

Ata Bupu pun memanggil Ata Polo dan berbicara mendesak Ata Polo jangan memangsa Ana Kalo. Ata Bupu yang sudah uzdur (tua bangka) akirnya terpaksa membuat penawaran dengan Ata Polo. Bunyi pasal penawarannya adalah, bahwa Ata Polo tidak boleh memangsa Ana Kalo karena Ana Kalo masih keciil, tetapi tunggu lah disaat Ana Kalo besar dan dewasa baru Ata Polo boleh memangsanya.

Penawaran itu diterima oleh Ata Polo. Seterusnya waktu terus berjalan hingga tiba lah saatnya, dimana Ana Kalo sudah besar dan dewasa. Ata Polo pun kembali datang menagih janji sebagaimana pasal-pasal tawar menawar sebelumnya, yakni  perjanjian tawar menawar  memangsa Ana Kalo disaat sudah besar dan dewasa.

Kedatangan tagih janji oleh Ata Polo jelas-jelas menyiksa bathin dan pikiran Ata Bupu. Ata Bupu mengalami pergolakan bathin yang begitu besar, sebab di dalam hati sanubari nya, Ata Bupu tidak mengizinkan Ana Kalo yang sudah bertumbuh besar dan dewasa itu harus di mangsa oleh Ata Polo.

Lantaran itu, Ata Bupu memutuskan melakukan sebuah upaya pamungkas, agar Ana Kalo tidak di mangsa oleh Ata Polo. Ata Bupu memutuskan pergi ke perut bumi dengan membawa Ana Kalo.

Kekuatan jin yang dimiliki Ata Polo nampak cukup dahsyat, sehinga dengan kekuatan itu, Ata Polo berhasil mengetahui keberangkatan serta tempat tujuan Ata Bupu dan Ana Kalo.

Langkah perburuan pun mulai digelar oleh Ata Polo. Ata Polo mulai memburu dan mengejar mereka. Ata Polo melepas sihir-sihir mematikan, namun semua ilmu sihir Ata Polo yang dilepas ke arah Ata Bupu dan Ana Kalo, tertelan oleh bumi, tanah.

Meski demikian Ata Polo tidak menghentikan gerakan memburu. Ata Polo justeru terus menerus menebar sihir-sihir maut, hingga akirnya sang penyihir (Ata Polo) sendiri ditelan oleh bumi, begitu juga Ana Kalo dan Ata Bupu terkubur hidup-hidup.

Usai peristiwa itu, di kisahkan muncul lah sejumlah kawah besar dengan Air berwarna Biru di lokasi terkuburnya Ata Bupu. Muncul juga kawah besar dengan Air berwarna Merah di lokasi terkuburnya Ata Polo. Dan yang terakir muncul lah kawah besar dengan Air berwarna Hijau di lokasi atau tempat terkuburnya Ana Kalo.

Kelimutu dalam arkeologi pengetahuan, diketahui sebuah Gunung Api aktif.

Dalam kamus Lio lainnya, Kelimutu merupakan gabungan dari kata dari Keli berarti Gunung dan Mutuberarti mendidih.

Para penduduk sekitar Danau Kelimutu menganut pemahaman bahwa di saat danau berubah warna, mereka harus memberikan sesajen bagi jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia.

Luas dari Tiga Danau Kelimutu sekitar 1.051.000 meter persegi, dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding Danau berkisar antara 50 sampai 150 meter.

Tidak ada catatan sejarah atau ilmiah mengenai asal usul Danau Kelimutu. Secara pengetahuan, diduga ketiga kawah di Kelimutu terbentuk dari letusan gunung api bernama Gunung Kelimutu pada ribuan tahun silam. Gunung Masa Lampau.

Secara ilmiah, Danau Kelimutu sangat menarik bagi para Ahli Geologi, sebab warna yang dihasilkan oleh Tiga Danau ini berbeda – beda, padahal bersumber dari bagian gunung api yang sama. Sejumlah referensi menulis, perbedaan warna itu kemungkinan akibat dari reaksi kimia yang muncul dari mineral-mineral dasar danau yang lagi-lagi mungkin dipicu oleh aktivitas gas vulkanik.

Anda Penasaran, Selamat Datang di Danau Tiga Warna, Kelimutu, di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. (Tim Media Warisan Budaya Nusantara Cabang NTT / Aurel / Redpel Indra)