MEDIA WBN|WAINGAPU — Di tengah derasnya arus modernisasi, ketika generasi muda semakin akrab dengan budaya digital ketimbang kisah leluhur mereka sendiri, satu pertanyaan besar mulai menggema di tanah Sumba: apakah Marapu akan tetap hidup, atau perlahan tinggal menjadi simbol tanpa jiwa?
Pertanyaan itu seakan dijawab tegas oleh Bupati Umbu Lili Pekuwali saat menghadiri kegiatan Pengukuhan dan Penguatan Badan Pengurus Marapu Kabupaten Sumba Timur di Kampung Raja Prailiu, Sabtu (23/05/2026).
Di hadapan tokoh adat, rato, pemuka kepercayaan Marapu hingga unsur pemerintah daerah, Umbu Lili tidak sekadar memberi sambutan seremonial. Ia mengirim pesan keras: budaya Sumba sedang berada di persimpangan.
“Marapu bukan sekadar warisan masa lalu. Ini identitas, akar moral, dan jiwa masyarakat Sumba Timur,” tegasnya.
Pernyataan itu terasa penting. Sebab realitas di lapangan menunjukkan bahwa tradisi leluhur perlahan menghadapi tekanan besar. Bukan hanya dari globalisasi, tetapi juga dari perubahan gaya hidup masyarakat sendiri.
Di banyak kampung adat di Sumba Timur, generasi muda mulai menjauh dari ritual adat, bahasa ibu semakin jarang digunakan, sementara nilai-nilai kebersamaan perlahan digantikan pola hidup individualistis. Ironisnya, budaya Sumba justru lebih sering dipromosikan sebagai objek wisata dibanding diwariskan sebagai nilai hidup.
Marapu selama ini bukan hanya sistem kepercayaan. Ia adalah fondasi sosial masyarakat Sumba. Dari tata cara kelahiran, perkawinan, pembagian tanah, hingga penghormatan kepada leluhur, semua bertumpu pada filosofi Marapu yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam dan roh leluhur.
Namun di balik kekayaan itu, masyarakat adat masih menghadapi banyak tantangan.
Modernisasi menghadirkan pembangunan, tetapi di sisi lain kerap mengikis ruang budaya. Kampung adat terdesak, ritual dianggap kuno, bahkan sebagian generasi muda mulai merasa malu menunjukkan identitas budayanya sendiri.
Kondisi itulah yang membuat penguatan kelembagaan Marapu menjadi sangat penting.
Pengukuhan badan pengurus Marapu kali ini bukan sekadar agenda adat, melainkan bentuk perlawanan terhadap ancaman hilangnya identitas budaya lokal. Pemerintah daerah mulai menyadari bahwa pembangunan tanpa akar budaya hanya akan melahirkan masyarakat yang tercerabut dari jati dirinya sendiri.
Dalam wawancara khusus bersama media, Umbu Lili Pekuwali menegaskan pemerintah tidak boleh hanya fokus membangun infrastruktur fisik semata.
“Jalan bisa dibangun dalam satu tahun. Gedung bisa berdiri dalam hitungan bulan. Tapi budaya yang hilang bisa membutuhkan puluhan tahun untuk dipulihkan,” ujarnya.
Pernyataan itu menyentil realitas pembangunan di banyak daerah: budaya sering diposisikan sebagai pelengkap, bukan fondasi utama.
Padahal bagi masyarakat Sumba, adat bukan sekadar seremoni. Ia adalah hukum sosial, perekat persaudaraan dan identitas kolektif yang menjaga harmoni masyarakat sejak ratusan tahun lalu.
Karena itu, kesepahaman bersama yang dihasilkan dalam kegiatan tersebut menjadi langkah strategis. Program kerja Tahun 2026 akan difokuskan pada pelestarian budaya, penguatan kelembagaan adat, hingga edukasi nilai-nilai Marapu kepada generasi muda.
Langkah ini penting agar Marapu tidak berhenti sebagai simbol romantisme masa lalu, tetapi tetap hidup di tengah masyarakat modern.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba digital, Sumba Timur kini sedang menghadapi pertarungan besar: mempertahankan akar budaya tanpa menolak kemajuan zaman.
Dan di situlah Marapu diuji.
Bukan sekadar bertahan dalam ritual dan batu kubur megalitik, tetapi tetap hidup dalam cara berpikir, cara menghormati alam, serta cara masyarakat menjaga persaudaraan dan martabat leluhur.
Sebab ketika budaya hilang, sebuah daerah mungkin masih memiliki gedung megah dan jalan mulus — tetapi kehilangan jiwanya sendiri.
Kontributor: Asis DN | WBN SUMBA
