Pembangunan Rel Kereta Api di Maros Lewati Pemakaman, Ahli Waris Protes

Maros,,Wbn-Pembangunan rel kereta api Trans Sulawesi yang menghubungkan Kota Makassar hingga Kota Parepare belum rampung, khususnya di Kabupaten Maros selain persoalan pembebasan lahan yang masih menuai banyak masalah juga dikarenakan ada beberapa titik pembangunan rel yang akan direlokasi namun masih mendapat penolakan oleh kelompok warga.

Polemik masalah rel kereta api yang melintasi kuburan baru-baru ini terjadi di Lingk. Bonto Rea.

Makam tersebut merupakan pekuburan Warga Lingk. Bonto Rea dan Bonto Kadatto Kel. Maccini baji Kab. Maros.

Ketua RW Bonto Kadatto, Umar membenarkan pernah terjadi Aksi protes oleh beberapa warga yang juga merupakan ahli waris dengan mendatangi lokasi proyek pembangunan Rel kereta api tepat dilokasi makam yang akan direlokasi.

“Iya aksi protes itu spontan dilakukan oleh sekelompok warga dan ahli waris karena mendengar informasi bahwa akan dilakukan pembongkaran makam saat itu dan meminta untuk tidak dilanjutkan pembangunan rel dilokasi tersebut juga menuntut kepada pihak rel kereta api agar menyelesaikan terlebih dahulu persoalan rencana pemindahan makam dengan seluruh ahli waris sebelum merelokasi” Jelasnya.

Namun demikian pihak pemerintah dua lingkungan tersebut akan terus mengupayakan negosiasi dengan pihak pembangunan rel kereta api serta terus mensosialisasikan kepada warganya terlebih khusus kepada para ahli waris terkait mekanisme ataupun proses relokasi makam nantinya sehingga tidak lagi terjadi permasalahan yang justru akan merugikan kedua belah pihak.

Salah satu warga mengatakan bahwa dalam pekuburan tersebut terdapat satu makam leluhur warga Bonto Rea yang disakralkan sehingga proses pemindahan atau relokasi tidaklah begitu saja dapat dilakukan oleh pihak rel kereta api karena harus dilakukan dengan ceremony nilai-nilai budaya dan Agama.

“Selain itu pihak satker juga harus menyediakan lahan yang layak untuk lokasi pemindahan serta menyiapkan biaya ganti rugi” Tegasnya.

Kelompok pemuda Bonto Rea dan Kadatto yang dikenal dengan nama PEREKAT juga terus mengawal rencana relokasi makam untuk rel kereta di wilayahnya dan meminta agar pihak satker tetap mengutamakan asas kemanusiaan, bersikap humanis terhadap warga jika tidak ingin permasalahan terus berlarut-larut yang justru akan menghambat kelanjutan pembangunan.

(Herman)