Mengenal Asal Mula Nama “Minangkabau”

Gambar 1: Istano Rajo Basa Pagaruyung

Sumber: https://pin.it/JcGqoVS)

Apa yang terlintas dibenak kamu ketika mendengar kata “Minangkabau”? Ya, benar sekali. Minangkabau merupakan suku yang banyak mendiami di Provinsi Sumatera Barat. Suku ini mempunyai ciri khas pada atap rumahnya yang berbentuk runcing ke atas. Lalu, apakah kamu sudah tahu makna atau asal-usul dari kata Minangkabau itu sendiri ? Jika belum, yuk kita simak penjelasan berikut.

Secara etimologi, kata Minangkabau berasal dari gabungan dua buah kata, yaitu kata “minang” dan kata “kabau”. Kata minang awalnya dari pengucapan bahasa masyarakat setempat mengucapkan kata manang yang berarti kemenangan dan kata kabau yang berarti kerbau. Jadi, kata Minangkabau artinya adalah kerbau yang menang. Pemaknaan tersebut bersumber dari peristiwa yang ada di dalam Tambo adat Minangkabau. Apa itu Tambo ? Tambo itu adalah suatu hikayat yang menjelaskan tentang asal usul nenek-moyang orang Minangkabau, sampai tersusunnya ketentuan-ketentuan adat dan budaya Minangkabau yang berlaku sekarang. Di dalam Tambo ini dikatakan bahwa, suatu ketika terjadi perselisihan antara Kerajaan Pagaruyung dengan Kerajaan Majapahit yang ada di Pulau Jawa. Kerajaan Majapahit tersebut datang hendak menguasai daerah kekuasaan Kerajaan Pagaruyung. Ketika kedua belah pihak sudah siap untuk bertempur, pihak Pagaruyung menawarkan diplomasi. Ada tiga bentuk diplomasi yang ditawarkan dan ditempuh secara bertahap. Salah satunya adalah adu kerbau.

Gambar 2 : Rangkiang

Pada saat adu kerbau tersebut, pihak Kerajaan Majapahit membawa seekor kerbau berbadan besar dan kuat. Sebaliknya, pihak Kerajaan Pagaruyung hanya membawa seekor anak kerbau. Tetapi, tidak disangka-sangka anak kerbau itu bisa mengalahkan kerbau yang besar dari pihak Majapahit. Mengapa itu bisa terjadi ? Ternyata pihak Kerajaan Pagaruyung mempunyai ide yang cerdik. Mereka sengaja menggunakan anak kerbau, karena anak kerbau itu masih kuat-kuatnya untuk menyusu kepada induknya. Selain itu, mereka juga mengganti tanduk anak kerbau dengan menggunakan tanduk besi. Ketika anak kerbau tersebut memasuki area adu kerbau, anak kerbau itu langsung berlari mengejar kerbau yang besar. Si anak kerbau mengira kalau itu adalah induknya dan ia hendak menyusu. Kerbau besar ketakutan, karena tanduk besi milik si anak kerbau melukai perutnya. Akhirnya, kerbau besar itu pun mati dengan keadaan perut yang sudah tercabik-cabik dan adu kerbau itu pun dimenangkan oleh pihak Kerajaan Pagaruyung. Karena kerbau Minang berhasil memenangkan perkelahian maka muncul kata manang kabau yang selanjutnya di jadikan nama Nagari atau desa tersebut. Upaya penduduk setempat mengenang peristiwa bersejarah tersebut, penduduk Pagaruyung mendirikan sebuah rumah loteng (rangkiang) dimana atapnya mengikuti bentuk tanduk kerbau. Menurut sejarah, rumah tersebut didirikan di batas tempat bertemunya pasukan Majapahit yang di jamu dengan hormat oleh wanita cantik Pagaruyung. Tetapi, makna menang (sebagai arti kata minang) dan kerbau (arti kata kabau) tidak semata “menang” dalam adu kerbau tetapi lebih jauh adalah “kemenangan esensi kemanusiaan di atas kehewanan”. Sebab, ada banyak ungkapan yang membandingkan kata Minang dengan kabau.

Gambar 3 : Baju Tikuluak Tanduk (Sumber: Wikipedia)

Keterkaitan masyarakat Minangkabau dengan hewan kerbau ini dapat dilihat dari berbagai identitas budaya orang Minangkabau, seperti atap rumah adat mereka yang berbentuk layaknya menyerupai tanduk kerbau. Begitu juga dengan pakaian adat perempuan Minangkabau yang disebut dengan baju tanduak kabau.

Berita Terkait:

Keunikan Tari Piring Minangkabau

Namun dari beberapa sumber lain menyebutkan bahwa nama Minangkabau sudah ada jauh sebelum peristiwa adu kerbau itu terjadi, dimana istilah yang lebih tepat sebelumnya adalah Minangkabwa, Minangakamwa, Minangatamwan, dan ―Phinangkabhu. Istilah Minangakamwa atau Minangkamba berarti Minang (sungai) Kembar yang merujuk pada dua sungai Kampar yaitu Kampar Kiri dan Sungai Kampar Kanan. Sedangkan istilah Minangatamwan yang merujuk kepada Sungai Kampar memang disebutkan dalam prasasti Kedukan Bukit dimana di situ disebutkan bahwa pendiri Kerajaan Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang melakukan migrasi massal dari hulu Sungai Kampar (Minangatamwan) yang terletak di sekitar daerah Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Oleh Iskandar Alamsyah (Universitas Andalas, Padang)

 

 

Bagikan Info ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •