Legenda Dara Lumu/Mangngi Hana, Sala Satu Generasi Penerus Udu/Suku Kolo Rae di Kabupaten Sabu Raijua 

Oleh: Jefrison Hariyanto Fernando, S.I.P (Penggiat Literasi Budaya Sabu Raijua)

 

Narasumber: Lay Huri ( Tokoh Adat Liae)

 

WBN, NTT – Pada zaman dulu Hidup seorang yang bernama Lumu Lutu dari Udu/Suku Kolorae dari Kampung adat Kolo Wag’gu, sekarang terletak di desa Waduwala, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Lumu Lutu kawin dengan seorang wanita yang bernama Hana Mata dari udu/suku Namata yang tinggal di kampung adat Namata yang sekarang terletak di desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua. Pada saat Hana Mata mengandung seorang anak dari buah perkawinan dia dengan Lumu Lutu. Pada zaat yang bersamaan timbul kebencian dari saudara/ri dari Hana Mata dan akhirnya membunuh Lumu Lutu.

 

Seiring berjalannya waktu, akhirnya Hana Mata melarikan seorang anak Laki laki dan ia diberi Nama Mangngi Hana Mata. Ketika tumbuh menjadi remaja Mangngi hana menjadi gembala kambing bagi saudara laki-laki dari ibunya. Pada suatu hari ketika ia dipadang sedang menggembalakan domba , timbul perasaan dan keinginan untuk mencari tahu dimana kampung bapaknya, sehingga kesokan harinya ia pergi bergembala dengan membawa satu ekor ayam jantan dan pada saat bergembala ayam jantan tersebut berkokok dengan mengucapkan kalimat yang berbunyi ”Be Ao Ao, Tala Tade Dae Waggu, Kolo Waggu Hag”go Dida, Domedera Iu Kai Tu Lulu Lap”pa Loda, Dari Djaru Heo Kati, Ina Pa here Kati Ranga Laju”

Setelah ia mendengar suara ayam berkokok dan kambing mengembek dengan mengucapkan kalimat seperti diatas, pada saat yang bersamaan ia langsung mengetahui tempat asal bapaknya yaitu dari Kampung adat Kolo Wag’gu, di desa Waduwala, Kecamatan Sabu Liae, pada saat itu pula ia berjalan dari seba menuju liae sambil mengembalakan kambing dan domba miliknya. Ketika ia tiba di Kolo Wag’gu ( Liae) sanak saudara dari bapaknya menyambut ia dengan gembira dan pada besok harinya anak tersebut dilakukan ritual Happo atau ritual pemberian nama, yang mana nama anak tersebut Mangngi Hana berubah menjadi Dara Lumu.

Pada hari yang sama ketika Dara Lumu diadakan ritual Happo untuk merubah namanya, keluarga dari Seba pun datang untuk mencari anak mereka yang hilang dan terdengar kabar bahwa sedang menggembalakan kambing dombanya menuju kolo Wag’gu di liae. Keluarga dari Hana Mata ( ibunya Dara Lumu) akhirnya tiba di Kolo Wag’gu dan bertemu dengan saudara dari Lumu Lutu ( ayahnya Dara Lumu) dan menanyakan apakah Mangngi Hana berada di Kolo Wag’gu atau tidak. Karena kabar sebelum mereka tiba di Kolo Wag’gu sudah terdengar maka untuk mengelabui keluarga dari Hana Mata yang berasal dari Seba maka Mangngi Hana atau Dara Lumu di sembunyikan di atas loteng agar keluarga dari ibunya tidak bisa melihat anak tersebut sehingga ketika ditanyai soal keberadaan Mangngi Hana oleh Keluarga dari seba kepada keluarga di Liae mereka mengatakan bahwa Mangngi Hana atau Dara Lumu tidak ada di kolo Wag’gu.

Ketika mendapatkan jawaban bahwa Dara Lumu atau Mangngi Hana tidak ada di Kolo Wag’gu maka keluarga dari Seba pun berpamitan untuk kembali ke Seba, akan tetapi keluarga Dara Lumu di kolo Wag’gu menahan mereka agar sebelum pulang bisa makan bersama dengan keluarga di Liae dalam Ritual Happo Ana yang sedang mereka lakukan dan akhirnya keluarga dari Seba memenuhi permintaan mereka. Dalam suasana duduk bersama mereka saling berbicang satu dengan yang lainnya dan dalam perbicangan mereka maka keluarga dari Seba menanyakan nama anak yang sedang dilakukan Ritual Happo Ana tersebut kepada keluarga besar Dara Lumu di liae. Untuk mengelabui orang Seba untuk kedua kalinya maka keluarga Dara Lumu mengelabui mereka dengan memberitahukan bahwa nama anak yang dilakukan Happo Ana itu adalah “ Napi Nupu Lele Kore Ja Radja Ja Radja Beko “. Setelah selesai makan bersama maka keluarga dari Seba pun berpamitan untuk kembali ke Seba dengan membawa daging dari ritual Hapo Ana tersebut.

Dalam perjalanan dari Kolo Waggu menuju Seba maka sesampainya mereka di satu tempat dan sala satu dari keluarga dari Hana Mata melihat cabang salah satu pohon yang berada dilokasi tersebut, tiba-tiba seluruh rombongan lupa akan nama anak ( Dara Lumu) yang telah di Hapo tersebut. maka merekapun kembali lagi ke Kolo Waggu untuk menanyakan kembali nama anak tersebut. Dalam bahsa Sabu Bercabang atau cabang disebut juga dengan sebutan “KEJANGA”. Oleh karena itu tempat tersebut hingga saat ini dinamakan Kampung KEJANGA yang terletak di desa Waduwala, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua.

 

Setelah mereka kembali dari tempat yang bernama Kejanga ke Kolo Waggu untuk menanyakan kembali nama anak tersebut maka meraka melanjutkan lagi perjalanan ke Seba dan ketika sampai di suatu tempat tiba-tiba bedan dari sala satu rombongan mengalami gatal –gatal maka ia menggaru badannya, setelah menggaru badan tersebut maka untuk kedua kalinya mereka lupa lagi nama dari anak yang di hapo tadi ( Dara Lumu), maka merekapun kembali lagi ke Kolo Waggu untuk menanyakan kembali nama anak tersebut. Dalam bahasa Sabu menggaru/garu disebut juga dengan sebutan “ KAO” sehingga tempat dimana saudara dari Hana Mata menggaru badannya dan melupakan nama Dada Lumu dinamakan “KAO”. Kampung tersebut saat ini terletak di Desa Ledeke, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua.

 

Para rombongan tidak putus asah dengan kejadian yang menimpah mereka selama dua kali berturut turut, maka mereka kembali lagi dari tempat yang bernama Kao yang terletak di Desa Ledeke, Kecamatan Sabu Liae ke Kolo Waggu yang terletak di desa Waduwala untuk menanyakan nama anak yang barusan menjalani ritual Hapo Ana atau pemberian nama tersebut. Sesampainya di Kolo Waggu keluarga Dara Lumu pun memberitahukan nama anak tersebut, akhirnya rombongan dari Seba kembali melanjutkan perjalanan dari liae menuju Seba atau Sabu Barat. Sesampainya di suatu tempat, tiba tiba mereka melihat satu ekor babi betina yang lagi bunting sedang membuat sarang untuk melahirkan. Pada saat yang bersamaan seluruh rombongan lupa lagi akan nama anak ( Dara Lumu) tersebut. Dalam bahasa Sabu Sarang Babi disebut juga dengan NYAB’BU WAWI sehingga tempat tersebut hingga saat ini disebut Nyab”bu Wawi yang teletak di Desa Ledeke Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Saking penasarannya, maka rombongan dari Seba kembali lagi untuk yang ketiga kalinya ke Kolo Waggu untuk menanyakan nama anak yang baru habis menjalani ritual Hapo Ana tersebut dan keluarga dari Dara Lumu memberitahukan kembali nama anak tersebut.

 

Hari sudah malam, maka seluruh rombongan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali ke Seba untu ke 4 kalinya. Sesampainya di suatu bukit maka pagi haripun tiba dan mata haripun terbit, ketika seluruh rombongan berkata satu dengan yang lain sambil menghadap atau melihat sang wajar dan mereka mengatakan hari sudah pagi, pada saat yang bersamaan mereka kembali lagi mengalami kejadian aneh yaitu melupakan nama anak atau nama Dara Lumu tersebut. Dalam bahasa Sabu melihat dan memandang matahari biasa disebut TENGARA LODO sedangkan bukit atau gunung disebut LEDE. Oleh sebab itulah, hingga saat ini nama tempat tersebut di kenal dengan nama Lede Tengara Lodo yang terletak di Desa Raemude, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua.

 

Para rombongan dari Sebapun tidak menyerah dengan kejadian aneh yang mereka alami, oleh karena itu mereka kembali lagi ke Kolo Waggu untuk menanyakan kembali nama Dara Lumu tersebut kepada keluarganya di liae. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan untuk yang terakhir kalinya menuju Seba dan sesampainya di suatu tempat maka kuah beserta daging yang mereka bawa dari liae akhirnya rusak dan berbau. Pada saat itu akhirnya mereka pasrah dan menyerah akan kejadian tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju seba. Untuk diketahui bahwa bau dalam bahasa Sabu Disebut WOU sedangkan kuah atau air di sebut EI, sehingga sampai saat ini tempat tersebut dinamakan EI WOU yang terletak di Desa Raemude, Kecamatan Sabu Barat Kabupaten Sabu Raijua. Menurt cerita bahwa Dara Lumu sampai saat ini diakui sebagai satu-satunya generasi yang meneruskan keturunan dari masyarakat udu Kolo Rae. Karena menurut mereka apabila Dara Lumu tidak kembali ke Liae maka keturunan dari Udu atau Suku Kolo Rae tidak ada lagi.

Red-NTT

Bagikan Info ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •