Oleh : Aurelius Do’o
Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), tengah berada di ambang sejarah baru dalam konstelasi politik lokal. Partai berlambang pohon beringin ini berpotensi kuat memecah kebuntuan gender dengan melahirkan figur pemimpin perempuan pertama memimpin Partai Golkar Kabipaten Ende.
Tiga nama yang muncul ke permukaan pada Musyawarah Daerah Partai Golkar Kabupaten Ende periode 2026 – 2031, masing-masing Maria Margaretha Sigasare, Ketua Fraksi Golkar DPRD Ende, dr Dominikus Mere. Wakil Bupati Ende serta Johanes Pela mantan Anggota DPRD Ende, memiliki arti strategis dan simbol magnet elektoral baru untuk Golkar masa depan di bumi Kelimutu.
Munculnya nama Maria Margaretha Sigasare atau Megy Sigasare bisa dimakanai sebagai langkah strategis transformasi politik yang tidak lagi sekadar menempatkan perempuan sebagai pelengkap daftar kepengurusan, melainkan sebagai figur sentral yang memiliki potensi kuat untuk berdiri pada posisi pengambil kebijakan.
Munculnya nama Megy Sigasare perwakilan kaum kartini, juga sebagai wujud nyata keberhasilan Partai Golkar Kabupaten Ende melahirkan kader perempuan pada kancah politik lokal.
Bukan tidak mungkin, bisa merupakan jawaban atas kejenuhan masyarakat terhadap pola kepemimpinan konvensional dan membutuhkan penyegaran. Memerlukan sentuhan yang lebih inklusif, humanis, namun tetap tegas dalam mengeksekusi berbagai pikiran maupun program pro-rakyat.
Maria Margaretha Sigasare adalah salah satu kader perempuan yang cukup lama juga dipersiapkan oleh Partai Golkar serta memiliki modal sosial dan kapasitas politik yang matang, hasil dari proses kaderisasi internal yang cukup panjang dan terstruktur.
Mendoromg kader perempuan juga menciptakan sejarah keseimbangan transformasi kepemimpinan yang selaras dengan kebutuhan zaman. Karena itu, keberanian Golkar Ende mendobrak tradisi patriarki di panggung politik formal, bukan tidak mungkin akan mampu meningkatkan partisipasi politik perempuan di Kabupaten Ende, sekaligus menjadi tolok ukur baru bagi partai politik lain di tingkat lokal.
Partai Golkar Ende memiliki peluang besar mencetak sejarah baru dalam lanskap politik lokal dan potensial menjadi pelopor era baru partai besar dipimpin kaum perempuan di bumi Kelimutu Ende.
Mengapa Penting
Munculnya nama Maria Margaretha Sigasare merupakan cara Golkar memastikan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap syarat pemilu. Figur perempuan seperti Megy Sigasare yang memiliki basis massa riil dan rekam jejak sosial yang kuat merupakan kebutuhan regenerasi segar untuk menghadirkan warna baru di mata masyarakat.
Golkar Ende menunjukan politik yang semakin terbuka, tidak monoton politik patriarki. Kaum pria tidak mutlak harus mendominasi kepemimpinan partai tingkat lokal.
Hadirnya kaum perempuan dalam bursa kepemimpinan partai politik memberikan harapan akan ada gaya kepemimpinan baru yang inklusif, empati dan transformatif — khas kepemimpinan perempuan.
Dampak Politik Lokal
Jika Golkar Ende berani memberikan tongkat estafet kepemimpinan tertinggi di tingkat daerah kepada kader perempuan, tentunya dampaknya juga akan positif.
Pertama, magnet elektoral baru. Kepemimpinan perempuan akan menarik pemilih pemula dan komunitas perempuan secara lebih emosional dan rasional.
Kedua, pecah rekor. Golkar Ende tidak sekadar mengganti wajah pemimpin partai, tetapi sekaligus menciptakan sejarah dan harapan baru bersama kaum ibu. Menjadi pelopor bagi partai politik lain di daerah untuk tidak ragu menempatkan perempuan di posisi strategis.
Ketiga, kaum kartini cenderung melahirkan kebijakan pro-rakyat. Menjamin lahirnya produk politik yang lebih sensitif terhadap isu kesejahteraan keluarga, kesehatan anak, dan pendidikan. Selain itu Golkar juga mengirim pesan politik baru, yakni saatnya kaum Kartini Ende tidak hanya menjadi pendukung, tetapi penentu arah kebijakan partai politik.
Memberikan ruang kepemimpinan kepada kader perempuan merupakan langkah progresif dan strategis untuk membawa pendekatan politik yang lebih inklusif dan humanis.
Megy Sigasare muncul sebagai representasi kuat dari “Kaum Kartini” modern yang mendobrak sekat patriarki sosial budaya dan politik. Sebagai figur perempuan yang mendobrak batas-batas tradisional tanpa menghilangkan akar budaya lokal.
Feminisme Kontekstual
Megy Sigasare membawa semangat Kartini yang memperjuangkan kesetaraan lewat kompetensi, rekam jejak, dan kecerdasan emosional. Dalam tatanan sosial Ende, perempuan (terutama kaum ibu atau ine) memegang peran sentral sebagai penjaga keharmonisan keluarga dan pembawa keteduhan.
Figur Megy Sigasare berpotensi kuat membawa harmonisasi politik. Kepemimpinan perempuan juga akan menggeser paradigma politik maskulin menjadi politik yang lebih dialogis, persuasif, dan berbasis gotong royong.
Kepemimpinan yang berbasis pada karakter seorang “Ibu” dapat membawa arah baru bagi masa depan Partai Golkar. Kaum ibu memiliki kepekaan instingtif terhadap isu-isu akar rumput yang sering kali luput dari perhatian. Arah kebijakan partai akan lebih condong pada penguatan ekonomi keluarga, pemberdayaan, perhatian terhadap kaum perempuan, ibu dan anak, serta pendidikan.
Kepemimpinan kaum ibu cenderung merangkul semua golongan, meminimalkan faksi internal, dan menciptakan ruang politik yang aman bagi generasi muda. Karakter keibuan yang protektif dan penuh tanggung jawab moral secara sosiologis mampu menekan potensi konflik serta membangun transparansi dalam organisasi.
Bisa jadi Megy Sigasare bukan hanya simbol keterwakilan gender, melainkan jawaban atas kerinduan Masyarakat Ende akan pemimpin partai politik yang tidak hanya monoton kaum Adam, sebaliknya menghadirkan kepemimpinan kaum ibu, yang humanis, dan mampu membawa Golkar Ende menuju era baru yang lebih inklusif.
Jika Belum
Sebaliknya jika kader perempuan belum berhasil, menunjukan gejala kuat pelanggengan dominasi patriarki politik masih kental di daerah, serta stigma kepemimpinan parpol masih dominan ranah maskulin.
Demikian juga budaya organisasi untuk level top leader parpol masih cenderung kaku. Perspektif perempuan di tingkat top manajemen masih lemah. Paradigma politik patriarki menuju politik berbasis kesetaraan dalam citra partai politik modern masih butuh waktu.
Golkar Ende Berpotensi Ukir Sejarah Transformasi Pemimpin Perempuan
Penulis : Aurelius Do’o
