NAGEKEO, WBN — Rangkaian gempa bumi tektonik yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, tidak hanya merontokkan bangunan fisik dan memicu trauma mendalam bagi warga.
Pascagempa utama bermagnitudo 7,7, krisis multidimensi kini mulai melilit kehidupan warga terdampak, salah satunya kelangkaan akut air bersih akibat rusaknya sumber-sumber mata air.
Situasi ini diperparah oleh keterbatasan armada tangki pengangkut di lapangan dan ongkosnya yang cenderung menanjak. Kecemasan warga kian menebal seiring masih terus terjadinya gempa susulan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa susulan bermagnitudo 5,2 kembali mengguncang Flores pada Senin (24/8/2026) subuh pukul 05.20 WITA.
Warga diimbau untuk tetap tenang serta menghindari bangunan yang retak atau rusak guna mengantisipasi runtuhan susulan.
Di tengah situasi darurat ini, pasokan air bersih dari pemerintah maupun relawan terhambat antrean panjang akibat minimnya armada. Di Dusun 4, Desa Olaia, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, sebanyak 347 jiwa atau sekitar 70 keluarga terpaksa bertahan di luar rumah dengan keterbatasan aib bersih kebutuhan harian.
Merespons kondisi tersebut, gerakan sosial dari Rumah Harapan Melanie Jakarta menggalang kolaborasi taktis. Melalui perwakilannya di Lembata, Alfian Rayabelen, serta jejaring aktivis dan jurnalis lokal di Ngada dan Nagekeo, mereka berupaya menembus hambatan logistik demi menyalurkan bantuan air bersih secara langsung ke titik-titik pengungsian warga.
Perjuangan di lapangan tidak mudah. Sejak Sabtu (22/8/2026) sore, tim relawan harus berhadapan dengan sulitnya mendapatkan truk tangki air yang siap beroperasi.
“Kami sempat kesulitan armada karena keterbatasan unit di wilayah ini. Namun, pada hari kedua, tim berhasil menyiasatinya dengan menyewa satu unit mobil pikap yang dimodifikasi membawa tangki air. Distribusi kami lakukan secara bergilir agar tepat sasaran,” ujar Ferdin Dhosa, Koordinator Lapangan Relawan Mandiri, Senin pagi.
Bantuan air bersih tersebut disalurkan ke wadah-wadah penampung air milik warga seperti jerigen, selebihnya pihak Dusun dan RT setempat menampungnya ke dalam tandon-tandon fiber yang diletakkan di area yang lebih tinggi di lingkungan Desa Olaia agar mudah diakses oleh warga sekitar. Ratusan warga terdampak krisis air bersih mendapatkan sentuhan kemanusiaan dalam aksi peduli Melanie Subono ini.
Ibu Dorotea Ngole, Lorens Reta, Kresensiana Mako, Karolus Kewa, selaku Masyarakat Desa Olaia, mengungkapkan rasa syukur mereka atas bantuan yang datang di tengah situasi sulit ini.
“Kami bersyukur pasokan air ini langsung menolong ratusan jiwa di desa kami untuk menyambung hidup. Hingga saat ini, sebagian besar warga masih memilih tidur di luar rumah karena gempa susulan masih sering terjadi. Terimakasih banyak Ibu Melanie Subono atas bantuan peduli kepada kami,” kata mereka.
Sebelum bergerak ke Nagekeo, aksi solidaritas kemanusiaan ini juga telah menyalurkan bantuan serupa untuk menembus isolasi krisis air bersih di kawasan Riung Barat, tepatnya di Desa Ria, Kabupaten Ngada.
Saat berita ini diturunkan. (24/8) masalah darurat air bersih warga bencana Desa Olaia Nagekeo baru dua kali mendapat bantuan air bersih. Minggu sebelumnya satu tengki dari pemerintah, selanjutnya bantuan kasih dari Melanie Subono.



WBN
