Misteri Batu Lingga Payung Manonjaya: Situs Fenomenal Bertabur Intan di Tanah Tasikmalaya
Di balik rimbunnya alam Tasikmalaya, terdapat sebuah peninggalan kuno yang dikenal sebagai Batu Lingga Payung. Pada masa Kerajaan Galuh, situs ini disebut Batu Lingga Agung karena konon permukaannya bertatahkan intan permata yang berkilauan. Mengapa batu lingga ini dijuluki sebagai salah satu yang paling misterius dan fenomenal di Nusantara?
Secara geografis, situs ini terletak di puncak Bukit Kabuyutan Gunung Payung, Dusun Awi Luar, Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya (wilayah Manonjaya), Kabupaten Tasikmalaya. Sejak zaman dahulu, kawasan ini merupakan kabuyutan—tempat suci atau area ritual yang sangat disakralkan. Situs ini diyakini sebagai jejak peninggalan Kerajaan Nagara Tengah (bagian dari Galuh) sekaligus tempat bertapa para raja Galuh pada masanya.
Sebagai catatan sejarah, Kerajaan Galuh merupakan kerajaan Sunda sebelum era Pajajaran, yang didirikan oleh Sang Wretikendayun pada tahun 669 M hingga 1482 M, sebelum akhirnya dilanjutkan oleh Sri Baduga Maharaja yang mendirikan Kerajaan Pajajaran pada 1482 M.

Tempat suci ini juga menjadi lokasi persinggahan dan pertapaan khusus bagi seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran. Ia adalah putra Prabu Siliwangi yang menggunakan nama samaran Bujangga Manik untuk menyembunyikan identitas aslinya. Sang Pangeran memiliki kebiasaan unik berkelana dan bertapa menyusuri daratan serta lautan hingga ke Jawa, Bali, dan Sumatra pada abad ke-15 M.
Sebuah pertanyaan besar muncul: Mengapa sang pangeran sampai singgah bertahun-tahun di tempat ini? Catatan sejarah menyebutkan ia bahkan membangun 7 rumah paviliun (pesanggrahan) dan menetap selama 9 tahun di kabuyutan tersebut. Pasti ada sesuatu yang sangat luar biasa yang sedang beliau cari dan dalami.
Keagungan situs lingga-yoni ini tercatat langsung dalam naskah perjalanan pribadinya, yaitu Naskah Bujangga Manik. Naskah Sunda kuno yang kini menjadi rujukan utama para akademisi tersebut menuliskan:
“Sungguh di sana aku menemukan tempat suci, tempat dengan lingga bertahta intan permata, kilapnya menutupi lingga. Di sana, olehku telah dibangun tempat tinggal baru, dibuat dalam beberapa tingkat menghadap ke arah Batu Hyang yang berdiri ke atas langit (Batu Hyang atau Batu Satangtung). Dibuat tujuh bangunan untuk keperluanku. Di jalan masuk, berdiri dua bangunan besar dengan taman di kiri-kanannya, ditumbuhi tanaman melambai yang akan segera berbuah, serta bunga-bunga yang sedang mekar penuh.”
Deskripsi tersebut menggambarkan betapa agung dan indahnya tempat suci ini di masa lalu. Keunikan batu lingga bertatahkan intan ini menjadikannya salah satu peninggalan paling langka di Nusantara, bahkan di dunia.
Akses menuju puncak bukit ini pun dipenuhi dengan penanda mistis. Di tengah perjalanan, pengunjung akan menemui sebuah batu besar bernama Batu Pangasahan Maung, yang permukaannya dipenuhi bekas cakar harimau. Sementara di gerbang awal sebelum menaiki area bukit, tumbuh dua pohon kiara raksasa berusia ratusan hingga ribuan tahun yang disebut Pohon Kiara Korsi (Kursi). Tidak jauh dari sana, sekitar 200 meter ke atas, terdapat mata air Cikahuripan yang digunakan untuk menyucikan diri atau berwudu sebelum melanjutkan perjalanan.
Hingga saat ini, identitas asli di balik nama samaran Pangeran Bujangga Manik masih menjadi misteri yang belum terkuak. Selain lingga kuno, di puncak bukit teratas juga terdapat dua makam leluhur, yaitu makam Eyang Rama Gumulung Putih dan Eyang Ratu Gumulung Putih, yang dipercaya sebagai tokoh penting Kerajaan Galunggung era Batari Hyang.
Masyarakat setempat terus menjaga kelestarian situs ini melalui tradisi Nyagara Gunung atau Nyapu Beberesih Kabuyutan. Tradisi gotong royong membersihkan situs ini rutin dilaksanakan setiap bulan Maulud (tanggal 1 sampai 10) dan bulan Sya’ban menjelang ibadah puasa. Bagi Anda yang penasaran, berkunjung dan bertafakur ke situs suci para leluhur ini bisa menjadi pengalaman spiritual yang berharga untuk mendekatkan diri pada sejarah kuno Nusantara.
Editor ndra
