Update Gempa Flores: 6.697 Kali Susulan Tercatat, 33 Kejadian Berkekuatan di Atas M 5

NTT, WBN — Aktivitas kegempaan di Laut Flores, Nusa Tenggara Timur, belum sepenuhnya mereda sejak gempa utama bermagnitudo M 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026).

Hingga Senin (24/8/2026) pukul 17.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 6.697 kali gempa bumi susulan (aftershock) melanda kawasan Flores Back-arc Thrust.

Dari ribuan aktivitas tektonik tersebut, BMKG melaporkan intensitas dan kekuatan gempa susulan bervariasi secara fluktuatif. Magnitudo terbesar yang tercatat sejauh ini mencapai M 6,2, sementara kekuatan terkecil berada di angka M 1,1.

“Hingga sore ini pukul 17.00 WIB, terdapat 33 kejadian gempa susulan yang memiliki kekuatan di atas M 5,0,” tulis laporan resmi BMKG, Senin petang.

Meskipun sebagian besar gempa susulan bermagnitudo kecil dan tidak dirasakan, guncangan kumulatif yang terjadi berulang kali terus memicu kecemasan warga di beberapa kabupaten terdampak, seperti Manggarai, Ngada, Sikka, hingga Nagekeo.

BMKG mencatat ada 141 gempa susulan yang guncangannya dirasakan langsung oleh masyarakat setempat sejak hari pertama bencana.

Sebelumnya, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa karakteristik pelepasan energi di patahan utara Flores ini tergolong kompleks. Fase awal rangkaian gempa belum memperlihatkan pola peluruhan frekuensi yang sederhana, sehingga aktivitas susulan diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga tiga hingga empat minggu pasca-gempa utama.

Merespons perkembangan situasi ini, BMKG mengimbau masyarakat di Pulau Flores dan sekitarnya untuk tidak panik tetapi tetap mempertahankan kewaspadaan tinggi.

Warga diminta untuk menghindari bangunan yang sudah mengalami keretakan atau kerusakan struktur fisik akibat guncangan sebelumnya. Hal ini mengingat struktur bangunan yang melemah rentan runtuh jika kembali dipicu oleh sisa-sisa gempa susulan.

Masyarakat juga diharapkan hanya mempercayai pembaruan data dari kanal resmi komunikasi BMKG guna menghindari kepanikan akibat isu ataupun disinformasi yang tidak bertanggung jawab.

WBN

Share It.....