LANJUTKAN KE HALAMAN BERIKUTNYA!…
Namun, kebijakan publik yang baik tidak hanya dinilai dari niat, tetapi juga dari desain dan dampaknya. Jika pendekatan disiplin ingin diperkuat, maka harus ditempatkan dalam kerangka pendidikan yang komprehensif. Disiplin tidak boleh berdiri sendiri tanpa dukungan pendekatan psikologis, konseling, dan keterlibatan keluarga. Tanpa itu, perubahan perilaku yang dihasilkan cenderung bersifat sementara muncul karena tekanan, bukan kesadaran.
Pemerintah perlu berhati-hati agar tidak menciptakan preseden berbahaya dalam kebijakan pendidikan. Normalisasi pendekatan koersif dapat menggeser paradigma pendidikan dari dialogis menjadi otoritatif. Dalam jangka panjang, hal ini justru dapat melemahkan tujuan pendidikan itu sendiri yaitu “membentuk individu yang merdeka, kritis, dan bertanggung jawab”.
Sebagai alternatif, pendekatan yang lebih berkelanjutan dapat dikembangkan melalui penguatan sistem pendukung di sekolah. Layanan bimbingan konseling perlu diperkuat, bukan sekadar formalitas. Guru perlu dibekali kompetensi dalam menangani siswa dengan kebutuhan khusus secara psikososial. Program berbasis komunitas yang melibatkan keluarga, tokoh masyarakat, dan lingkungan sekitar juga terbukti lebih efektif dalam membentuk perilaku remaja secara kontekstual. Integrasi pendidikan karakter ke dalam kurikulum harus dilakukan secara nyata, bukan sekadar normatif. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan empati perlu diajarkan melalui pengalaman belajar yang autentik, bukan melalui pendekatan hukuman. Di sinilah peran inovasi pendidikan menjadi krusial: bagaimana menciptakan ekosistem belajar yang mampu membentuk karakter tanpa harus mengandalkan pendekatan ekstrem.
Pada akhirnya, kebijakan barak militer di Jawa Barat adalah cermin dari dilema besar dalam pendidikan Indonesia: antara kebutuhan akan ketertiban dan tuntutan akan humanisasi pendidikan. Ia menunjukkan bahwa negara tidak tinggal diam menghadapi krisis karakter, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa solusi cepat tidak selalu sejalan dengan prinsip pendidikan yang benar. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, kebijakan ini berisiko menjadi jalan pintas yang mengorbankan nilai-nilai dasar pendidikan. Namun jika dijadikan momentum refleksi, ia dapat mendorong lahirnya pendekatan yang lebih komprehensif, manusiawi, dan berbasis ilmu pengetahuan. Pendidikan bukan barak. Ia adalah ruang tumbuh. Dan di dalamnya, disiplin seharusnya lahir dari kesadaran, bukan tekanan.
Penulis : Zaenal Masduki. Pasca Sarjana Program Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang.
