WBN | SUMBA. Wulla Waijelu, 8 Juli 2026 – Kabupaten Sumba Timur memasuki babak baru pembangunan sektor pertanian. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur bersama pemerintah pusat resmi mengawali pelaksanaan Program Cetak Sawah Tahun Anggaran 2026 melalui kegiatan sosialisasi yang digelar di Aula Kantor Kecamatan Wulla Waijelu, Rabu (8/7). Program ini bukan sekadar membuka lahan pertanian baru, tetapi menjadi investasi strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan ribuan petani di masa depan.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali, didampingi Wakil Bupati Yonathan Hani, bersama jajaran perangkat daerah, unsur Forkopimcam, para kepala desa, penyuluh pertanian, ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan), kelompok tani, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Program yang berasal dari Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian ini mengalokasikan pembangunan sawah baru seluas 935 hektare di Kabupaten Sumba Timur dengan dukungan anggaran mencapai Rp32 miliar. Nilai investasi tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memperluas lahan produktif sekaligus memperkuat fondasi ekonomi pedesaan yang selama ini bertumpu pada sektor pertanian.
Dalam sambutannya, Bupati Umbu Lili Pekuwali menegaskan bahwa program cetak sawah merupakan langkah strategis menuju swasembada pangan. Namun, lebih dari itu, program ini harus mampu mengubah kehidupan petani menjadi lebih sejahtera melalui peningkatan hasil produksi, terbukanya kesempatan kerja, dan bertambahnya pendapatan keluarga.
Selama bertahun-tahun, banyak petani di Sumba Timur menghadapi tantangan berupa keterbatasan lahan produktif, ketergantungan pada pertanian tadah hujan, serta rendahnya produktivitas akibat minimnya infrastruktur pendukung. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya pendapatan petani dan terbatasnya kemampuan mereka memenuhi kebutuhan keluarga.
Karena itu, program cetak sawah menjadi jawaban atas persoalan mendasar tersebut. Dengan bertambahnya areal persawahan, peluang meningkatkan produksi beras akan semakin besar. Petani yang sebelumnya hanya mampu menanam satu kali dalam setahun berpeluang meningkatkan intensitas tanam apabila didukung sistem irigasi dan pengelolaan air yang baik. Produksi yang meningkat berarti pendapatan yang bertambah dan ekonomi desa yang semakin bergerak.
Efek berganda dari pembangunan pertanian juga sangat luas. Ketika produksi meningkat, aktivitas ekonomi di pedesaan ikut tumbuh. Permintaan terhadap benih, pupuk, alat dan mesin pertanian, jasa transportasi, hingga perdagangan hasil panen akan semakin tinggi. Perputaran ekonomi tersebut menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.
Bupati juga mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran, tetapi terutama pada komitmen seluruh pihak untuk menjaga integritas pelaksanaannya. Transparansi, pengawasan, dan partisipasi masyarakat menjadi kunci agar setiap rupiah anggaran benar-benar memberikan manfaat bagi petani, bukan sekadar menghasilkan proyek fisik.
Ia mengajak pemerintah desa, kelompok tani, penyuluh pertanian, dan seluruh masyarakat untuk bersama-sama mengawal pelaksanaan program sehingga tepat sasaran dan menghasilkan lahan sawah yang benar-benar produktif.
Sosialisasi ini juga menjadi momentum menyamakan persepsi seluruh pemangku kepentingan mengenai mekanisme pelaksanaan program, mulai dari penetapan lokasi, pelaksanaan pekerjaan, hingga pemanfaatan lahan setelah pembangunan selesai. Kesamaan pemahaman sangat penting agar tidak terjadi hambatan di lapangan yang dapat mengurangi efektivitas program.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional, perluasan lahan pertanian menjadi langkah yang semakin relevan. Kabupaten Sumba Timur memiliki potensi lahan yang luas untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian produktif. Dengan pengelolaan yang baik, daerah ini berpeluang menjadi salah satu lumbung pangan di Nusa Tenggara Timur.
Namun, pembangunan pertanian tidak boleh berhenti pada pencetakan sawah semata. Pemerintah juga perlu memastikan keberlanjutan program melalui penyediaan jaringan irigasi, akses pupuk, benih unggul, pendampingan teknologi budidaya, akses pembiayaan, hingga kepastian pasar bagi hasil panen petani. Tanpa dukungan tersebut, lahan yang telah dicetak berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.
Program cetak sawah ini diharapkan menjadi titik awal transformasi pertanian Sumba Timur. Ketika lahan produktif bertambah, hasil panen meningkat, dan kesejahteraan petani ikut terangkat, maka cita-cita mewujudkan ketahanan pangan tidak lagi menjadi slogan, melainkan kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pembangunan pertanian sejatinya bukan hanya tentang membuka lahan baru, tetapi membuka masa depan baru bagi petani. Dari sawah-sawah yang dibangun hari ini, diharapkan lahir generasi petani yang lebih mandiri, desa-desa yang lebih sejahtera, serta Kabupaten Sumba Timur yang semakin kuat sebagai daerah agraris yang mampu menopang ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
(Asis DN )
