Media Warisan Budaya Nusantara
Forum Pembaruan Kebangsaan ( FPK) Kabupaten Ngada NTT menggelar kegiatan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, bertempat di Smansa Bajawa, pada Rabu (22/4/2026).
FPK Kabupaten Ngada dibentuk berdasarkan Keputusan Bupati Ngada Nomor : 87/ KEP/HK/2026, tentang Perubahan atas Keputusan Bupati Ngada 287/KEP/HK/2025, tentang Dewan Pembina dan Pengurus Forum Pembauran Kebangsaan Tingkat Kabupaten Ngada, Periode 2025 – 2027.
FPK Ngada diketuai Petrus Tena, beranggotakan sejumlah ketua paguyuban yang ada di Kabupaten Ngada.
Sosialisasi yang dilakukam menghadirkan 4 pembawa materi, yakni Petrus Tena sebagai perwakilan etnis Bajawa, berikutnya Yohanes Badu selaku Ketua Paguyuban Ende Lio,Wim de Rozari sebagai Ketua Paguyuban Nagekeo dan Martinus Palo perwakilan Paguyuban Manggarai Raya.
Dalam uraian penjelasan disebutkan, dalam beberapa tahun terakhir pembicaraan 4 pilar hadir di sekolah-sekolah, terutama tingkat SMA dan SMK.
Empat pilar kebangsaan sebagai kekuatan moral dalam menapaki perjalanan bangsa ini menuju satu tujuan yaitu kesejahteraan.
Diharapkan dapat menggerakan hati generasi muda sebagai tunas bangsa menuju tujuan akhir yakni masyarakat adil dan makmur.
Tahun 2026 FPK Kabupaten Ngada melaksanakan sosialisasi pada 3 sekolah, yakni tanggal 21 April 2026 di SMA Swasta Katolik Regina Pacis Bajawa, tanggal 22 di SMAN I Bajawa dan tanggal 23 April 2026 di SMAN 2 Bajawa, dengan pematerinya dibagi dalam tiga tim dari total anggota FPK sebanyak 18 orang.
FPK sendiri merupakan forum yang dibentuk oleh Bupati Ngada atas amanat Mendagri, yang mengatur agar setiap kabupaten membentuk Forum Pembauran Kebangsaan.
FPK terdiri dari gabungan setiap etnis yang ada di wilayah Republik Indonesia yang berdomisili atau bertempat tinggal di wilayah kabupaten.
Forum Pembaruan Kebangsaan dibentuk untuk menyatukan seluruh anak bangsa dari berbagai etnis, agar bersama-sama membangun sebuah kekuatan untuk membangun daerah.
Dalam materinya Petrus Tena yang merupakan mantan Birokrat di Kabupaten Ngada berbicara tentang Pancasila yang merupakan Pilar Pertama Kebangsaan.
Dikatakannya, seorang pelajar sejak SD hingga SMA bahkan sampai bangku kuliah mendapat pelajaran tentang Pancasila, UUD 1945,NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.
Empat pilar kebangsaan memang telah lama dikenal namun belum semua mengamalkan dan melaksanakan apa yang diatur dalam empat pilar kebangsaan tersebut.
Banyak anak bangsa termasuk generasi muda belum menghayati dan mengamalkannya terutama sila-sila Pancasila.
Masih ada kelompok-kelompok kriminal bersenjata yang ingin merongrong Persatuan dan Kesatuan Bangsa.
“Kita baru merasa memiliki Pancasila namun belum menghayati dan mengamalkan,” ungkap mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada ini.
Pancasila yang mempersatukan seluruh warga bangsa sehingga perlu terus diamalkan oleh semua warga Indonesia.
Sebagai dasar negara Indonesia.
Pancasila hadir untuk menyatukan seluruh anak bangsa dalam perbedaan.
Bangsa yang hidup dalam suasana aman dan damai dimana taat apa yang termuat dalam Pancasila dan UUD 1945 maka Bangsa Indonesia akan aman dan damai.
Yohanes Badu pemateri lainnya juga menekankan pentingnya Penghayatan Sila-sila Pancasila.
Sila I, Ketuhanan yang Maha Esa dimana dalam agama asli, Tuhan oleh nenek moyang orang Ngada sebut Ema Dewa, dewa Zeta nitu jale, Orang Manggarai sebut Mori Kraeng, orang Ende Du”a Ngga’e.
Dalam agama Wahyu Tuhan Allah, implementasinya ke tempat ibadat , gereja, masjid, namun masih juga malas dan tidak tahu bersyukur.
Sila 2, dimana ucapan , tindakan kita merendahkan sesama, bahasa yang kita ungkapkan tidak dicerna degan baik sehingga mencederai orang lain.
Penghayatan UUD 45 di sekolah, nyata dalam aturan sekolah, aturan sekolah berupa tata tertib merupakan penjabaran dari urutan perundang undangan yang lebih tinggi seperti UUD, UU, Perpu,Instruksi Presiden, Permen, Perda aturan d sekolah.
Mengenai terjadinya polarisasi penerapan Pancasila dan peran media sosial , sebagai pembaca media perlu sikap kritis mana sumber yang benar dan mana yang tidak benar.
Sementara itu Wim de Rozari yang berbicara dengan mengambil tema NKRI dan Medsos bagi Generasi Muda, ia menyentil pembinaan hubungan sosial penting dalam rangka memupuk rasa nasionalisme, kesatuan dan persatuan bangsa menuju bangsa yang makmur dan sejahtera.
Wim mengatakan bahwa
Media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan mengenai pancasila dan bagaimana menjadi warga negara atau bangsa yang baik.
Diharapkan publik atau masyarakat termasuk pelajar bisa lebih pintar dalam menggunakan dan memanfaatkan media sosial untuk membina hubungan sosial dan memupuk persatuan bangsa.
Media sosial bisa menjadi suatu alternatif yang dapat dimanfaatkan peran dan fungsinya untuk menjaga keutuhan NKRI.
Kegiatan yang juga dihadiri oleh Wakil Kepala Sekolah Smansa Bajawa Romanus Nggajo yang juga dalam sambutannya mengatakan pihaknya
berterima kasih karena FPK Kabupaten Ngada memilih Smansa Bajawa untuk kegiatan sosialisasi tersebut.
Ia optimis apa yang diajarkannya akan menambah pengetahuan tambahan bagi para pelajar SMAN I Bajawa dengan pengalaman yang dialami oleh anggota FPK Kabupaten Ngada.
WBN
