Kolaborasi Pemerintah, Petani dan Dunia Usaha Dorong SPL, KKB dan MILITANSI Jadi Model Pertanian Modern
WBN|WAINGAPU — Di tengah ancaman krisis pangan, perubahan iklim, dan makin menurunnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian, sebuah gerakan perlahan tumbuh dari wilayah pedalaman Kecamatan Mahu, Kabupaten Sumba Timur. Kawasan yang selama ini lebih dikenal sebagai daerah agraris tradisional itu kini mulai diarahkan menjadi sentra hortikultura baru berbasis agribisnis modern.
Gerakan itu tidak lahir dari proyek seremonial semata. Ia dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, petani, kelompok muda tani hingga dukungan dunia usaha. Di titik inilah Sekolah Pertanian Lapangan (SPL) Mahu hadir bukan sekadar sebagai tempat belajar bercocok tanam, tetapi sebagai laboratorium perubahan wajah pertanian di Sumba Timur.
Berbagai komoditas hortikultura mulai dikembangkan secara serius. Cabai, kol, bunga kol, tomat, labu siam hingga aneka sayuran kini ditanam secara intensif melalui pendekatan pertanian terpadu yang lebih terukur dan berorientasi pasar.
Di balik geliat itu, terdapat dua program yang kini menjadi penggerak utama: Kebun Kecamatan Bergizi (KKB) dan Milenial Tanam Sayur Intensif (MILITANSI). Dua program tersebut tidak hanya berbicara soal produksi pangan, tetapi juga membangun pola pikir baru bahwa pertanian dapat menjadi sumber ekonomi modern yang menjanjikan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Sumba Timur, Nico Pandarangga, mengatakan Mahu memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kawasan hortikultura unggulan karena didukung kondisi lahan dan iklim yang cukup ideal.
Menurutnya, pemerintah tidak ingin pertanian di Mahu berhenti pada pola subsisten atau sekadar memenuhi kebutuhan rumah tangga. Yang sedang dibangun adalah ekosistem agribisnis yang mampu menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat desa.
“Kami melihat Mahu memiliki peluang besar berkembang menjadi kawasan hortikultura produktif. Karena itu pemerintah hadir melalui pendampingan, penguatan SPL dan kolaborasi bersama berbagai pihak agar masyarakat mampu mengembangkan pertanian yang berorientasi bisnis,” ujarnya kepada wartawan.
Ia menegaskan, wajah pertanian saat ini harus berubah. Petani tidak cukup hanya menanam lalu menunggu panen. Pertanian modern, kata dia, membutuhkan pengetahuan, pengelolaan usaha, efisiensi produksi hingga kemampuan membaca pasar.
Karena itu, SPL Mahu diarahkan menjadi pusat pembelajaran pertanian modern bagi petani maupun generasi muda desa.
“Pertanian hari ini tidak bisa lagi dilakukan secara tradisional semata. Harus ada inovasi, penguatan kapasitas petani, pengelolaan usaha tani dan akses pasar. Di sinilah pentingnya kolaborasi,” tegas Nico.
Di lapangan, geliat perubahan mulai terasa. Lahan-lahan yang sebelumnya kurang produktif kini mulai dipenuhi tanaman hortikultura. Sejumlah kelompok tani juga mulai belajar teknik budidaya yang lebih intensif, mulai dari pemilihan bibit unggul, pengendalian hama hingga pola tanam yang menyesuaikan kebutuhan pasar.
Bagi masyarakat Mahu, perubahan ini membawa harapan baru.
Tokoh masyarakat sekaligus penggerak lokal, Marthen Lijang Mar Lidjang, menilai kehadiran program KKB dan MILITANSI menjadi titik penting kebangkitan ekonomi masyarakat berbasis pertanian.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar masyarakat Mahu hidup dalam pola pertanian tradisional dengan hasil yang sering tidak stabil. Ketika musim buruk datang, pendapatan masyarakat ikut terguncang. Karena itu, pengembangan hortikultura dipandang sebagai peluang membuka sumber ekonomi baru yang lebih menjanjikan.
“Kami mendukung penuh pengembangan SPL Mahu. Ini bukan hanya soal menanam sayur, tetapi bagaimana masyarakat bisa memiliki sumber ekonomi baru yang lebih menjanjikan,” katanya.
Namun yang paling menarik dari program ini adalah keterlibatan generasi muda. Di banyak daerah, sektor pertanian mulai ditinggalkan anak muda karena dianggap identik dengan kemiskinan dan pekerjaan berat tanpa masa depan. Program MILITANSI mencoba mematahkan stigma itu.
Anak-anak muda mulai diajak melihat pertanian sebagai sektor usaha modern yang bisa menghasilkan keuntungan nyata jika dikelola serius.
“Anak muda harus melihat pertanian sebagai peluang usaha modern yang menghasilkan. Kalau dikelola serius, pertanian bisa menjadi kekuatan ekonomi masyarakat desa,” tambah Marthen.
Dukungan dunia usaha juga mulai masuk. Owner Timoer Farm, Cahyono Yanto Sutikno, memastikan pihaknya siap mendukung pengembangan kawasan hortikultura Mahu melalui penyediaan bibit unggul berkualitas.
Menurutnya, salah satu persoalan utama petani selama ini adalah keterbatasan akses terhadap bibit yang baik. Akibatnya, produktivitas tanaman sering rendah dan hasil panen tidak maksimal.
“Kami ingin petani Mahu memiliki akses bibit unggul yang berkualitas agar hasil produksinya maksimal. Jika pertanian berkembang, ekonomi masyarakat juga akan ikut tumbuh,” ungkapnya.
Kolaborasi pemerintah, petani dan dunia usaha inilah yang mulai membuat SPL Mahu dipandang sebagai model baru pembangunan pertanian di Sumba Timur. Bukan sekadar proyek pertanian biasa, tetapi upaya membangun rantai ekonomi desa berbasis pangan dan agribisnis.
Jika konsisten dikembangkan, Mahu bukan tidak mungkin akan menjadi salah satu lumbung hortikultura baru di Pulau Sumba. Sebuah kawasan yang tidak hanya memasok kebutuhan pangan lokal, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, memperkuat ekonomi masyarakat desa dan melahirkan generasi muda tani yang lebih modern.
Di tengah banyaknya desa yang kehilangan minat anak muda terhadap sektor pertanian, Mahu justru sedang mencoba membuktikan bahwa masa depan desa mungkin masih tumbuh dari tanah, bibit dan keringat para petani.
(Asis DN)
Sumba Timur
