Wabup Sumba Timur Terima Audiensi Peneliti ITB

“Tenun Ikat Pewarna Alami Didorong Menjadi Kekuatan Budaya dan Ekonomi Daerah”

WBN, SUMBA TIMUR – Tenun ikat bukan sekadar kain. Ia adalah ingatan budaya, identitas leluhur, sekaligus denyut ekonomi masyarakat Sumba Timur yang hidup dari tangan-tangan terampil para penenun di kampung-kampung adat. Di tengah arus modernisasi dan tekanan industri tekstil massal, upaya menjaga warisan ini kini mulai menemukan bentuk kolaborasi baru: pertemuan antara ilmu pengetahuan dan tradisi lokal.

Hal itu terlihat ketika Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, S.Kom., M.AP., menerima audiensi tim peneliti dari Kelompok Keahlian Sistem Manufaktur, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), di ruang kerjanya pada Senin, (27/4/2026).

Pertemuan tersebut bukan sekadar agenda seremonial birokrasi. Di balik diskusi yang berlangsung hangat dan dialogis itu, tersimpan harapan besar tentang masa depan tenun ikat Sumba Timur, khususnya pengembangan bahan baku dan teknologi pewarna alami yang selama ini menjadi salah satu ciri khas paling bernilai dari kain tradisional Sumba.

Tim peneliti ITB datang membawa pendekatan ilmiah untuk mendukung proses produksi tenun berbasis pewarna alami agar lebih berkelanjutan, efisien, dan memiliki daya saing lebih kuat di pasar nasional maupun internasional. Fokus penelitian mencakup pengembangan teknologi pembuatan, pemanfaatan bahan baku lokal, hingga peningkatan kualitas hasil produksi para pengrajin.

Wakil Bupati Yonathan Hani menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah daerah menjadi langkah penting dalam menjaga warisan budaya agar tidak hanya bertahan secara simbolik, tetapi juga mampu memberi manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.

“Tenun ikat adalah identitas budaya Sumba Timur. Karena itu, pelestarian tidak cukup hanya lewat festival atau seremoni budaya. Harus ada penguatan kualitas produksi, perlindungan bahan baku lokal, dan peningkatan kesejahteraan para penenun,” ujarnya.

Pernyataan itu mencerminkan kesadaran bahwa tantangan tenun ikat hari ini tidak lagi sekadar soal regenerasi penenun, tetapi juga menyangkut keberlanjutan bahan baku alami yang mulai terdesak oleh pewarna sintetis dan perubahan lingkungan.

Di banyak wilayah Sumba Timur, penggunaan pewarna alami sebenarnya telah diwariskan turun-temurun. Akar mengkudu, daun tarum, kulit kayu tertentu, hingga lumpur alami menjadi bagian dari proses panjang yang melahirkan warna-warna khas pada kain tenun Sumba. Namun di era modern, proses alami itu sering dianggap lebih rumit, lebih lama, dan kurang ekonomis dibanding pewarna kimia instan.

Di sinilah penelitian dan inovasi menjadi penting.

Pendekatan teknologi yang dikembangkan ITB diharapkan mampu membantu para pengrajin mempertahankan kualitas tradisional tanpa kehilangan efisiensi produksi. Jika berhasil diterapkan secara tepat, maka tenun ikat pewarna alami bukan hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga produk ekonomi kreatif bernilai tinggi yang mampu membuka peluang pasar lebih luas.

Wakil Bupati juga menekankan pentingnya pemanfaatan bahan baku lokal yang ramah lingkungan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya alam daerah.

Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak boleh berjalan dengan mengorbankan identitas budaya maupun kerusakan lingkungan. Sumba Timur justru memiliki kekuatan besar ketika tradisi, alam, dan inovasi dapat berjalan beriringan.

Audiensi tersebut turut membahas berbagai potensi kerja sama lanjutan, mulai dari peningkatan kapasitas pengrajin, pengembangan teknologi produksi, hingga peluang pendampingan berkelanjutan bagi kelompok penenun di desa-desa.

Bagi masyarakat Sumba Timur, tenun ikat bukan sekadar komoditas. Di dalam setiap motif tersimpan filosofi kehidupan, relasi manusia dengan alam, hingga simbol status sosial dan spiritualitas masyarakat adat. Karena itu, menjaga tenun berarti menjaga memori kolektif masyarakat Sumba sendiri.

Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak penenun masih menghadapi persoalan klasik: keterbatasan akses pasar, minimnya dukungan teknologi, regenerasi yang melambat, hingga fluktuasi harga bahan baku.

Kolaborasi seperti yang mulai dibangun antara Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dan ITB dapat menjadi titik awal penting untuk menjawab persoalan tersebut secara lebih sistematis.

Jika selama ini tenun ikat sering dipromosikan hanya sebagai produk budaya untuk dipamerkan kepada wisatawan, maka kini muncul dorongan agar tenun ditempatkan sebagai sektor ekonomi strategis berbasis kearifan lokal.

Di tengah gempuran produk pabrikan dan budaya instan, langkah menjaga tenun pewarna alami sesungguhnya adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap hilangnya identitas lokal.

Sebab sebuah daerah tidak akan benar-benar maju bila hanya membangun gedung dan infrastruktur, tetapi kehilangan akar budayanya sendiri.

Dan mungkin, dari ruang kerja sederhana tempat audiensi itu berlangsung, Sumba Timur sedang merajut masa depan baru: ketika tradisi tidak ditinggalkan oleh zaman, melainkan diperkuat oleh ilmu pengetahuan.

Asis Dapa Ngole 

WBN

Share It.....