Peresmian Pusat Kebudayaan Tionghoa Jabar, KDM dan Abah Anton Tegaskan Tidak Ada Lagi Istilah Mayoritas-Minoritas

Media WBN |BANDUNG – Ketua Masyarakat Adat (Masda) Jawa Barat, Abah Anton Charliyan, menghadiri acara peresmian Pusat Kebudayaan Tionghoa Jawa Barat (PKTJ) yang berlokasi di Jalan Nana Rohana No. 99, Kota Bandung.

Dalam acara tersebut, Abah Anton tampak hadir mendampingi Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM).Acara peresmian yang berlangsung khidmat ini diselenggarakan oleh Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) yang berkolaborasi dengan Buddha Tzu Chi Jabar di bawah pimpinan Herman Wijaya.Sejumlah tokoh penting dan pejabat publik turut hadir memeriahkan peresmian ini. Di antaranya adalah Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRC) untuk Indonesia, Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Suntana, serta mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Enggartiasto Lukita.

Selain itu, hadir pula Wali Kota Bandung, Kang Farhan, serta para tokoh Sunda terkemuka seperti Ceu Popong dan Prof. Didi dari Paguyuban Pasundan. Dari kalangan tokoh Tionghoa Jawa Barat, tampak hadir Ko Sugianto, Ko Leon (INTI), Ko Chandra (BTC), beserta jajaran tokoh Tionghoa lainnya.

Dalam sambutannya, Gubernur Jabar KDM menyatakan bahwa masyarakat Sunda harus menyadari bahwa kebudayaan Tionghoa saat ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kekayaan budaya Sunda.”Budaya Tionghoa harus mampu memperkaya budaya Sunda. Dengan hadirnya Pusat Budaya Tionghoa di Bandung ini, diharapkan terjadi kolaborasi, sinergi, serta akulturasi yang kuat, sehingga mampu menjadi identitas dan kekayaan budaya Sunda di masa kini,” ujar KDM.Senada dengan Gubernur, Ketua Masda Jabar Abah Anton Charliyan menambahkan bahwa pendekatan budaya merupakan instrumen terbaik untuk menyatukan masyarakat tanpa memandang sekat ras, etnis, maupun agama. Melalui wadah ini, ia berharap masyarakat Tionghoa dan Sunda dapat hidup lebih berdampingan, rukun, dan guyub.”Di negara kita yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika, sudah bukan zamannya lagi mengotak-ngotakkan masyarakat ke dalam istilah mayoritas dan minoritas. Melalui kebudayaan, kita semua melebur menjadi satu, yaitu Bangsa Indonesia,” tegas Abah Anton.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sesi kunjungan bersama ke Museum Pusat Budaya Tionghoa. Seluruh tamu undangan yang hadir ditutup dengan agenda makan siang bersama sembari menikmati berbagai pertunjukan seni dan pagelaran budaya Tionghoa yang memukau.

Seluruh tamu undangan yang hadir ditutup dengan agenda makan siang bersama sembari menikmati berbagai pertunjukan seni dan pagelaran budaya Tionghoa yang memukau.
——————————

Editor ndra

Share It.....