Ringankan Derita Pascagempa, Melanie Subono dan Band Kotak Bantu Air Bersih Ratusan Jiwa Warga Labolewa Flores

NTT, WBN —Β Guncangan gempa tektonik bermagnitudo 7,7 yang melanda Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 lalu, tidak hanya meruntuhkan bangunan. Di Desa Labolewa, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, bencana tersebut menyisakan krisis lain yang tak kalah pelik, hilangnya akses terhadap air bersih.

Hingga Senin (24/8/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi sedikitnya 6.697 kali gempa susulan. Di bawah bayang-bayang kecemasan itu, warga harus menghadapi kenyataan bahwa mata air yang menjadi urat nadi kehidupan mereka berubah menjadi lumpur keruh akibat guncangan dari perut bumi.

Pemerintah yang tengah berkejaran dengan waktu menghadapi skala bencana yang luas dan topografi Flores yang menantang, belum mampu menyentuh seluruh lapisan terbawah dalam waktu cepat.

Di tengah situasi darurat itulah, secercah harapan datang dari aksi solidaritas masyarakat sipil. Aktivis, Seniman Melanie Subono bersama grup Band Kotak, bergerak cepat melalui jaringan Rumah Harapan Melanie di Lembata yang dikoordinasikan oleh Alfian Rayabelen.

Berkolaborasi dengan pekerja media setempat dan para aktivis di Ngada dan Nagekeo, mereka menembus keterbatasan untuk menyalurkan bantuan air bersih langsung ke pemukiman warga terdampak.

Selama dua hari, sejak Senin hingga Selasa (25/8/2026), armada tangki air bersih menyisir Kampung Boamaso di Dusun 3 dan Kampung Nebe di Dusun 4, Desa Labolewa. Sedikitnya 700 jiwa yang terisolasi krisis air kini bisa sedikit bernapas lega.

Koordinator lapangan aksi relawan, Ferdin Dhosa, menuturkan bagaimana para relawan harus berjibaku hingga larut malam demi memastikan air bersih masuk ke bak-bak penampungan warga. Keterbatasan armada pascabencana memaksa tim bekerja ekstra keras sejak siang hari.

“Saya harus jujur, air mata haru menyambut kedatangan air bersih ini. Warga berada di titik sangat menderita dan sempat bingung harus berbuat apa. Kehadiran bantuan ini benar-benar tepat di saat mereka sangat membutuhkan. Terima kasih banyak Ibu Melanie Subono dan Band Kotak, serta Rumah Harapan Melanie di Lembata, Bung Alvian. Juga terima kasih banyak bagi mitra Jurnalis di lapangan ,” ujar Ferdin, yang juga tokoh muda Labolewa, Selasa sore.

Ungkapan rasa syukur yang mendalam mengalir dari para tetua dan tokoh adat setempat, seperti Anselmus Dhae, Sakarias Rebo, hingga Opa Bernadus Polu dari Kampung Adat Kawa.

Bagi mereka, kepedulian yang datang dari Jakarta adalah bukti bahwa mereka tidak berjalan sendirian dalam menghadapi bencana ini.

“Kami sangat terharu. Mereka jauh di Jakarta, tetapi hati dan jiwa mereka berada di sini, bersama kami yang sedang menderita. Ini akan menjadi bagian dari sejarah desa kami. Terima kasih banyak Ibu Melanie Ssubono, Band Kotak, Rumah Harapan di Lembata Pa Alvian” ungkap perwakilan warga dengan mata berkaca-kaca.

Meski 700 warga telah terlayani, hamparan pemukiman di Desa Labolewa masih menyimpan dahaga yang belum sepenuhnya tuntas. Masih banyak warga yang masih menunggu sentuhan kemanusiaan bantuan air bersih.

Warga setempat berharap aksi kemanusiaan seperti ini Wargadapat berlanjut setidaknya untuk beberapa hari ke depan, mengingat krisis air bersih di wilayah pelosok Flores masih berada dalam status darurat.

Sebelumnya diberitakan media ini, Melanie Subono bantu cepat krisis air bersih warga terdampak wilayah pedalaman Desa Ria Kecamatan Riung Barat Kabupaten Ngada. Di tempat pedalaman itu penyaluran air bersih Melanie Subono menyasar ratusan warga, puskesma serta rumah-rumah ibadat.

Dari wilayah pedalaman Desa Ria Kabupaten Ngada, aksi nyata kemanusian mengatasi darurat air bersih Melanie Subono menolong dahaga ratusan jiwa warga Desa Olaia Kabupaten Nagekeo, Flores.

0

WBN

 

 

Share It.....