NGADA, WBN — Air mata Imelda Wea (64) tak terbendung saat menatap gundukan tanah dan puing bangunan yang 24 jam lalu masih menjadi tempatnya bernaung.
Gempa susulan yang mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada Senin (24/8/2026) subuh, tidak hanya meruntuhkan rumahnya di Desa Radabata, Kecamatan Golewa, tetapi juga meluluhlantakkan separuh harapan hidupnya.
Di bawah langit Radabata yang dingin pada Selasa (25/8/2026) siang, janda tua ini terduduk lemas. Ia kini hanya ditemani anak perempuan dan seorang cucunya yang masih berusia empat tahun. Sang anak pun bernasib serupa, berjuang sendiri setelah ditinggal pergi oleh suaminya.
Bagi Imelda, bencana ini datang bertubi-tubi. Rumahnya sudah mengalami retak rambut sejak gempa utama mengguncang pada 15 Agustus lalu. Namun, guncangan susulan pada Senin subuh menjadi pukulan telak yang merubuhkan seluruh bangunan hingga rata dengan tanah.
“Saya hanya seorang perempuan tua, petani. Saya sudah tidak tahu bagaimana besok lusa kehidupan saya dan anak-anak,” ujar Imelda dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
Beban yang Kian Berat
Kehidupan Imelda sebelum gempa sudah berada di garis keterbatasan. Sebagai petani, ia menyambung hidup dari hasil menanam umbi-umbian seadanya di kebun. Ia tidak memiliki sawah atau ladang jagung dan padi. Untuk membeli beras, Imelda biasanya mengandalkan hasil panen kopi. Nahas, hasil panen tahun ini merosot tajam.
Di tengah puing rumahnya, pikiran Imelda juga melayang jauh ke Kota Malang, Jawa Timur. Anak bungsu perempuannya saat ini sedang menempuh kuliah kebidanan di sana. Pendidikan sang anak adalah taruhan masa depan keluarga, yang kini kian buram akibat bencana.
“Anak bungsu saya kuliah di Malang, ambil kebidanan. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang,” ucapnya lirih sebelum menghentikan cerita karena tubuhnya yang kian lemah.

Menanti Ketegasan Pemerintah
Hingga Selasa sore, sepuluh hari setelah gempa utama dan sehari setelah gempa susulan yang menghancurkan rumahnya, Imelda belum menerima bantuan darurat dari otoritas terkait. Satu-satunya uluran tangan yang ia terima berupa paket sembako ala kadarnya dari pihak Gereja Paroki setempat, yang diberikan sebelum rumahnya runtuh.
Untuk bertahan hidup, Imelda kini sepenuhnya bergantung pada solidaritas warga kampung yang bahu-membahu membagikan makanan seadanya.
Birokrasi yang lamban memperpanjang penderitaan korban di lapangan.
Kepala Desa Radabata, Marianus Leke saat dikonfirmasi pada Selasa (25/8/2026) mengakui bahwa pihak desa telah melakukan pendataan dan meneruskan informasi tersebut ke tingkat pemerintah yang lebih tinggi. Namun, realisasi bantuan darurat (emergency) adalah keputusan tingkat atas.
“Terkait bantuan darurat dan kebijakan bantuan lainnya, kami masih menunggu instruksi dan penyaluran dari otoritas di atas,” ujar Kepala Desa.
Di tengah ketidakpastian itu, Imelda dan cucu kecilnya terpaksa melewati malam di bawah bayang-bayang trauma gempa susulan, berbaring di tepi dapur kecilnya yang juga rapuh, menanti kapan janji jaring pengaman dari negara benar-benar menyentuh warga kecil di tingkat yang paling bawah dan paling susah.
WBN
