Sentuhan Kasih Yayasan Dian Flores Indonesia untuk Kuliah Anak Janda Korban Gempa di Radabata Ngada

NTT, WBN — Gempa tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026, disusul gempa susulan seminggu kemudian, menorehkan duka mendalam bagi warga Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Di tengah puing-puing bangunan yang runtuh, secercah harapan datang bagi keberlanjutan pendidikan anak-anak korban bencana melalui aksi kemanusiaan yang bergerak senyap.

Salah satu kisah itu datang dari Imelda Wea (64), warga Kampung Doka, Desa Radabata, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Rumah warisan mendiang suaminya runtuh rata dengan tanah akibat gempa susulan pada Senin (24/8/2026) dini hari.

Bagi Imelda, kehilangan tempat tinggal bukan satu-satunya beban berat yang menghimpit dada. Ia didera kecemasan mendalam memikirkan nasib putri bungsunya, Karlina Rau (23), yang tengah menempuh kuliah semester tiga program studi D3 Kebidanan di Universitas Bhakti Kencana, Semarang, Jawa Tengah.

Meski kuliah dengan jalur beasiswa KIP-Kuliah dan tinggal di asrama, biaya hidup bulanan Karlina tetap menjadi tanggung jawab Imelda. Selama ini, Imelda menyambung hidup dan membiayai kebutuhan putrinya dari hasil menjual labu, ubi, serta kopi dalam jumlah terbatas.

Bencana gempa seketika memutus siklus bertahan hidup keluarga kecil ini.”Saya tidak tahu lagi bagaimana mengirimkan uang makan bulanannya. Rumah kami sudah runtuh, kami tidak punya apa-apa lagi,” tutur Imelda dari bawah tenda pengungsian darurat, Kamis (27/8/2026).

Bantuan Pendidikan

Kisah pilu Imelda yang sempat diberitakan media akhirnya memantik kepedulian dari Yayasan Dian Flores Indonesia. Lembaga sosial yang berbasis di Kampung Borani Langa, Kabupaten Ngada ini langsung turun ke lapangan untuk menemui Imelda di lokasi reruntuhan rumahnya pada Minggu (30/8/2026).

Ketua Yayasan Dian Flores Indonesia, Florianus Lengu, hadir menyerahkan bantuan uang tunai guna menutup biaya hidup dan transportasi bulanan Karlina di Semarang. Langkah ini diambil agar studi kebidanan sang putri tidak tersendat di tengah situasi darurat bencana.

“Kami mengetahui kondisi Ibu Imelda setelah membaca pemberitaan media mengenai dampaknya terhadap pendidikan anaknya. Kami hadir untuk meringankan biaya operasional kuliah putrinya di Semarang. Ke depan, kami berkomitmen untuk terus memantau perkembangan pendidikan anak ini,” ujar Florianus.

Dalam kunjungan tersebut, Florianus didampingi oleh Saskia Schwarz, perwakilan donatur dari Jerman. Saskia yang melihat langsung skala kerusakan pascagempa mengajak para pemerhati sosial dan donatur internasional untuk memperluas solidaritas bagi masyarakat terdampak di Pulau Flores.

Menurutnya, pemulihan aspek dasar seperti pendidikan anak-anak korban bencana harus menjadi salah satu prioritas utama.

Yayasan Dian Flores Indonesia sendiri telah bergerak dalam misi kemanusiaan sejak didirikan pada tahun 2016 oleh Florianus Lengu.

Lembaga ini berfokus pada pendampingan dan pembiayaan pendidikan bagi mahasiswa dari kalangan yatim piatu serta keluarga kurang mampu di wilayah Flores secara swadaya namun minim publikasi.

Di tengah keterbatasan posko pengungsian, bantuan ini menjadi jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan Imelda. Setidaknya, jangkar harapan keluarga tersebut untuk keluar dari garis kemiskinan lewat jalur pendidikan kini tetap terjaga.

“Terima kasih Tuhan. Terima kasih Pa Florianus, terima kasih Ibu Saksia dan Yayasan Dian Flores Indonesia karena telah meringankan beban hidup kami sekeluarga. Kami tidak bisa membalas semua kebaikan ini, hanya doa yang bisa kami berikan. Sehat dan sukses selalu”, ujar Imelda Wea penuh haru dan air mata.

WBN

Share It.....